Wisatawan Tidak Bebas Nilai, Tidak Asal Pakai Bikini, Tidak Perlu Unggah Semua Foto

Kameramu yang bagus dan momen yang kau abadikan itu langka, sama sekali bukan alasan kau boleh mengunggah seluruh hasil fotomu ke media sosial. Beberapa orang yang kau foto sembunyi-sembunyi, barangkali tidak mau tampil di internet. Belajarlah meminta izin sebelum mengunggahnya.
wisatawan tidak bebas nilai tidak asal pakai bikini tidak perlu unggah semua foto
Tidak perlu unggah semua foto | Image: dok. ranalino.id

Wisatawan Tidak Bebas Nilai, Tidak Asal Pakai Bikini, Tidak Perlu Unggah Semua Foto


Saya sedang senang bicara tentang menjadi pelancong atau wisatawan. Barangkali ini doa; suatu saat saya punya uang dan saya bisa membungkus semua yang saya cintai dalam ransel dan menggendong mereka dalam perjalanan yang menyenangkan. (Baca juga: Travelling Light dan Kekasih Dalam Ransel).

Ada satu masa dalam hidup saya di mana buku-buku Gola Gong berjudul "Balada Si Roy" menjadi bagian dari hari-hari libur. Buku itu mengajak kita melanglang buana ke tempat-tempat yang menyenangkan (atau mencengangkan?).

Beberapa waktu kemudian, ketika saya resmi infected by "Supernova', serial novel karya Dee (Dewi Lestari), saya diajak jalan-jalan juga. Ada dua buku "Supernova" yang entah kenapa membuat niat saya menjadi pelancong muncul lagi. Dua buku itu adalah "Akar" dan "Inteligensi Embun Pagi".

Yang pernah baca buku-buku tadi barangkali akan menuduh selera saya pada travelling sungguhlah buruk. Siapakah anak zaman now yang ingin melancong ke India hanya karena ingin melihat beberapa anak miskin di Bangladesh melihat dengan rasa ingin tahu yang tinggi pada kamera seorang wisatawan seperti yang ada di "Balada Si Roy"?

Berapa jumlah penggemar "Supernova" yang ingin menikmati pengalaman Bodhi menjadi pemetik ganja? Pasti banyak. Tetapi bertemu Khmer Merah seperti di "Akar"? WHAT? Atau ke Tiongkok melalui Trans Siberia dalam sebuah perjalanan spiritual nan tembus waktu seperti di "Inteligensi Embun Pagi"?

Saya mau menikmati semuanya, asal tetap pulang dengan selamat dan menjumpai wajah-wajah tercinta. Karena sesungguhnya, pulang adalah wajah paling indah dari sebuah perjalanan.

Btw, sepertinya perjalanan wisata berbahaya adalah yang selalu membuat saya senang. Paling tidak senang membayangkannya. Karena deep down in my heart, sa takut juga e, Guys.
Bahwa melancong dan menempuh perjalanan wisata adalah perjalanan spiritual, yang paling aman pastilah yang bisa kau nikmati dengan santai sambil memakai--atau memandang orang-orang yang memakai--bikini #hiaaaa.
Ini soalnya. Pada saat apa seseorang boleh memakai bikini? Tidak setiap wisatawan harus mengenakan bikini. Bahkan jika itu di pantai, di beberapa pantai kau tak boleh menggunakannya.

Karena itulah, hampir setiap situs yang bicara tentang wisata, anjangsana, dan hal-hal yang mirip lainnya--termasuk travelling blog--selalu menyempatkan diri mengulas (baca: menyarankan) perilaku yang sebaiknya dimiliki oleh para wisatawan.

Saya berkeliling melalui blogwalking dan merangkum beberapa hal yang kemudian saya beri judul baru.

Lima Perilaku Berwisata yang Disarankan; Wisatawan Tidak Bebas Nilai


Satu, Wisatawan yang Baik

Perjalanan wisata tentu tidak akan mulus sebagaimana kita bayangkan. Selalu saja ada kendala seperti pesawat yang delay, pelayanan di terminal yang grasa-grusu, hotel yang fasilitasnya tidak sesuai di materi promo, sampai calo di lokasi yang pasang harga sesuai tagihan kredit mereka (kalau didesak utang, harga naik), dan lain-lain.

Menggerutu, memarahi situasi, apalagi kalau sampai naik darah, sama sekali tidak membantu. Yang parah dalam situasi ini adalah mood burukmu itu terbawa terus dan imbasnya menampar wajah orang-orang yang baik. Akibatnya, alih-alih berlibur dengan gembira, yang terjadi adalah liburan menambah musuh. Tidak ingin seperti itu bukan?

Wisatawan yang baik biasanya telah memasukkan kemungkinan "di luar rencana" sebagai tindakan antisipatif. Dengan melakukan hal itu, maka seluruh perjalanan wisata akan tetap berlangsung menyenangkan. Bahwa pesawat delay, kenapa tidak foto-foto di bandara? Fasilitas hotel tidak sesuai promo, yuk, komplain dengan asyik. Kalau ada calo yang pasang harga tak tentu arah? Tempeleng saja #eh?

Dua, Hentikan Mengganggu Habitat Asli

Ini penting. Beberapa traveller menyarankan: leave animals alone! Maksudnya, tanpa harus mengganggu monyet-monyet di Ubud, kau tetap bisa melihat monyet-monyet di Ubud, bukan?

Beberapa lokasi wisata dengan jelas menampilkan larangan bagi wisatawan, seperti: tidak boleh memberi makanan kemasan pada binatang di lokasi wisata. Ikuti. Ingat, itu tempat hidup mereka. Biarkan mereka hidup dan berusaha bertahan hidup dengan kemampuan mereka. Kau tidak berencana membuat mereka menjadi hewan peliharaan, bukan?

Hal lain yang sering terjadi--barangkali karena pesona media sosial--adalah orang-orang bersemangat mengajak hewan berfoto bersama. Itu sangat tidak baik. Kalau tujuannya adalah agar orang tahu bahwa tampangmu lebih keren dari hewan, caranya tidak harus semenyedihkan itu, Kawans.

Pada poin ini, yang juga harus diperhatikan adalah take nothing but photograph. Jangan ambil bunga abadi dari Bromo. Jangan bawa pulang anak Komodo. Itu berat. Biar Dilan saja, eh. Pokoknya, biarkan lokasi yang kita kunjungi itu seperti sedia kala. Kalau ada jalur trekking, jalan di situ. Tidak perlu gara-gara jalan di hutan. Biar Dian Sastro saja yang lari ke sana mengejar Rangga.

Tiga, Berpakaian Pantas, Bersikap Wajar

Jangan lebay. Iya, semua tahu bahwa di pantai orang-orang boleh memakai bikini. Tetapi ketahui juga bahwa tidak di setiap pantai dan sepanjang waktu kau bisa memakainya. Pada adat kebiasaan tertentu, penduduk lokal melaksanakan upacara adat di pantai. Berpakaianlah yang pantas, sesuaikan dengan apa yang mereka kenakan. Kalau tidak mau mengganti bikinimu, sarannya adalah mengganti pantai wisatamu.

Sementara itu, bersikap yang wajar juga berhubungan dengan toleransi. Sebuah artikel menulis, salah satu bagian terbaik dari perjalanan adalah berjumpa dengan orang-orang yang berbeda. Pada situasi seperti itu, hentikan kebiasaan mengadili orang-orang yang berbeda.
Semisal dalam perjalanan wisatamu kau berjumpa dengan orang-orang yang menjumput nasi dengan jemarinya dan memasukkan ke mulutnya sendiri, dia memang begitu cara makannya. Jangan tawarkan sendok dan garpu. Itu hanya ada di lagu dangdut. Bukan di lokasi wisata. 
Kau tidak bisa mengadili cara makan seperti itu sebagai sesuatu yang salah atau jorok, terutama jika di situ kau hanya tamu; datang, mampir, foto-foto, unggah instagram. "Don’t leap to judgement when you get the chance to interact with people who have different values, viewpoints, or a way of life than you," tulis artikel itu. Semoga kau mengerti.

Empat, Jangan Asal Foto, Tidak Semua Foto Harus Diunggah

Ini kebiasaan cukup banyak wisatawan. Jepret sana, jepret sini, lalu mengunggahnya di akun media sosial mereka. Pakai hestek pula. Biar keren, barangkali. Tentu saja boleh, jika yang difoto adalah diri kita, teman-teman kita, atau alam.

Tetapi jika yang kau jepret adalah penduduk lokal, dan kau melakukannya tanpa mereka ketahui (candid), mohon agar tidak diunggah. Tidak setiap orang di lokasi wisatamu itu mau muncul di internet.

Ada anak bertelanjang dada bermain bersama teman-temannya. Kau ambil kameramu, kau foto, pasang di akunmu demi menambah jumlah likers. Foto itu di-share berulang kali. Kau senang.
Apakah kau akan tetap senang ketika hasil jepretanmu itu dipakai untuk sesuatu yang tidak pantas? Apakah kau akan berbahagia ketika mengetahui bahwa foto itu lalu diubah menjadi meme yang menempatkan obyek fotomu sebagai bahan olok-olokan?
Hasil jepretanmu itu berjalan demikian: aku medsosmu, akun medsos orang lain, seseorang membuatnya menjadi meme, menyiarkannya di grup dengan puluhan ribu anggota, foto itu menjadi bahan tertawaan, seseorang yang adalah keluarga dari obyek fotomu itu melihatnya, merasa dipermalukan.

Kau di mana saat peristiwa itu terjadi? Kau sedang jepret lagi, candid lagi di tempat lain, dan akan berulang seperti itu. Bahkan seorang wartawan pun diatur etika fotografinya. Kalau tidak percaya, tanya di koran-koran besar itu. Jangan tanya di situs pemburu klik. Mereka tidak tahu apa-apa.

Poin saya adalah, jika kau masih ingin mengunggah foto-foto yang katamu adalah human interest itu, ask for permission, please. Minta izin. Beritahu obyekmu bahwa foto mereka akan kau siarkan. Kalau mereka setuju, berbahagialah.

Kalau mereka tidak setuju, pikirkan ini: bagaimana jika kau sedang kencing lalu seseorang mengunggah fotomu di akun medsos mereka? Kencingmu warnanya kuning. Mendadak dibuat meme politik berdasarkan warna kuning itu. Sedih, bukan? Be wise, Dude. Fotografi tidak harus sebabi itu.

Lima, Tidak Perlu Merasa Berjasa

Saya selalu percaya bahwa travelling atau berwisata adalah spiritual journey. Ya. Perjalanan spiritual. Akibatnya bukan pada bertambahnya kekayaan atau bertambahnya jumlah barang yang dibawa pulang, tetapi bertambahnya pengalaman.

Wisata berurusan dengan rasa bahagia, nyaman, rileks. Karena itu, setelah kau berkunjung ke satu lokasi wisata, jangan merasa begitu berjasa karena telah mendatangkan tambahan penghasilan bagi orang-orang di lokasi itu. Kau tidak datang sebagai pegiat sosial, to?

Kau tidak layak menjadi wisatawan jika tujuanmu terutama adalah agar lokasi wisata itu ramai dikunjungi. Itu tugas agen perjalanan wisata. Tugasmu sebagai wisatawan adalah itu tadi, menikmati perjalanan spiritual.

Atas dasar itulah saya selalu merasa bleh bleh bleh kalau lihat setumpuk, eh, sejumlah wisatawan yang merasa telah berbuat sesuatu bagi penduduk lokal--berbelanja barang kerajinan mereka, dan lain-lain. Dude, kalau dengan itu saja kau merasa menjadi orang yang berjasa, apa kabar sikapmu itu kalau kau adalah orang yang ikut merawat lokasi wisata itu agar tetap cantik dikunjungi? Kau pasti merasa seperti Tuhan.

Santai saja, ka. Berkunjung, merasa senang, datang lagi kalau sempat, tetapi tidak perlu merasa telah menjadi duta wisata. Duta toh telah lama menjadi vokalis Sheila on 7. Iya, to?

Baca juga: Jejak Langkah Di Atas Pasir

Pada bagian akhir catatan ini, saya ingin membuat pengakuan. Sejak percaya bahwa travelling is spiritual journey, saya tidak lagi melihat lokasi wisata sebagai sesuatu yang harus dijepret. Saya selalu memilih melihatnya, menikmatinya, dan kalau sempat, berbicara dengan orang-orang yang ada di sana.

Banyak yang tidak percaya bahwa saya sudah pernah ke Batu Cermin di Labuan Bajo. Mereka tidak pernah melihat saya berfoto di tempat itu. Mereka juga tidak percaya bahwa saya pernah ke Gua Maria Pohsarang. Tetapi, apakah kita harus menjadi wisatawan agar orang-orang percaya?

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

2 comments:

  1. Hey, dude! Ini tulisan Ranalino tentang wisata paling sinis (tapi tetap aseek) yg pernah saya baca dari sekian banyak.. (maafken ya...) tentunya ini berangkat dari fakta di lapangan (ko co'on?).. mau tidak mau sy harus setuju. Tabe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo, Dude :-D Terima kasih sudah mampir. ranalino.id membutuhkan tulisan-tulisan senada agar pariwisata bisa dilihat dari sudut pandang yang berbeda :-D :-D :-D

      Delete