Om Rafael Salah Pilih Kapten, Pertandingan Bubar Jalan

Seperti telah diketahui, seri Om Rafael tahun ini hadir tidak (dengan tujuan tunggal) melucu. Om Rafael tetap konsisten dengan salah kata tetapi berusaha lebih filosofis *smile. Kali ini Om Rafael tidak mau jilat ludah sendiri. Mari simak!
om rafael salah pilih kapten, pertandingan bubar jalan
Nomor 7, Pemain yang Hebat

Om Rafael Salah Pilih Kapten, Pertandingan Bubar Jalan


Om Rafael pusing tujuh keliling. Dia tidak tahu bagaimana caranya mengembalikan kepercayaan dirinya sendiri. Dia dilanda kebingungan hebat karena harus berhadapan dengan pilihan seumpama buah simalakama, dimakan pemain hanya tinggal sepuluh tak dimakan pemain cadangan tidak bisa diharapkan.

Baca juga: Om Rafael Melarang Orang Bernafsu Memimpin

Suatu ketika, Om Rafael mendapat jabatan baru. Dia ditunjuk sebagai manajer tim sepak bola stasi Pateng. Om Rafael menerima jabatan itu dengan penuh sukacita. Dia menunjuk Kanisisus sebagai kapten tim dengan alasan mengada-ada. Kanisius memang sedang jadi idola karena kerap mencetak gol, tetapi alasan Om Rafael memilihnya dijelaskan dengan cara yang rumit. Ah, Om Rafael. Kau mulai-mulai sudah...
Ceritanya, agar tidak menimbulkan kecemburuan sosial tim, dan demi menegaskan bahwa keputusannya memilih Kanisius telah benar, Om Rafael memberi penjelasan. Barangkali harus begitu. Setiap hal harus disertai alasan, meski kadang mengada-ada. Oh...
Kanisius dipilih bukan karena namanya sama dengan penerbit buku-buku hebat itu. Juga bukan karena buku-buku itu ada di perpustakaan paroki. Saya tidak pernah baca buku-buku itu. Terpilihnya Kanisius tidak berhubungan dengan buku-buku. Setuju?

Saya lihat seluruh tim mengangguk-angguk setelah mendengar penjelasan Om Rafael. Mereka mengerti? Entahlah. Saya merasa penjelasan Om Rafael terlalu berlebihan. Mengapa harus bawa-bawa buku di sepak bola? Tetapi ini Om Rafael. Dia bisa menjelaskan apa saja dari sisi mana saja dan tidak peduli apakah itu berhubungan atau tidak. Maka dia habok terus.

"Apakah ada di antara kamu yang baca buku?" Tanyanya kemudian. Semua menggeleng. Om Rafael tidak marah dan bilang bahwa tidak baca buku tidak masalah asalkan bisa main bola.
"Kanisius?" Seseorang bersuara.
"Ah, iya. Kanisius adalah kapten tim kalian karena dia adalah pemain yang panjang sabar. Kapten harus begitu. Tidak ada lagi di antara kalian yang layak kapten selain Kanisius. Selamat bertanding. Semoga selamat sampai di tujuan," katanya lalu pamit pulang.

Saya mendekat, menanyakan padanya dia hendak ke mana. "Pulang, Nana," katanya. "Tapi kan pertandingannya baru mau mulai, Om." Om Rafael terkaget-kaget. Menepuk jidatnya. Terlalu kuat, sampai dia merasa matanya kunang-kunang. "Oh, iya. Saya lupa. Saya pikir tadi mereka mau pergi. Padahal mau main bola," ujarnya sambil menepuk dahinya sekali lagi tapi kali ini kena hidung. Seperti pukul tiang kena tembok. #eh.

Pertandingan baru berjalan dua menit, Kanisius bikin kasus. Pukul wasit. Alasannya: "Itu wasit dulu sempat jadi pacarnya Mama Lalong waktu mereka masih SMP." Astaga! Kasus di mana, balasnya di mana? Babi betul aeh.

Atas kecemburuan tiada tara dan lekang itu, Kanisius diganjar kartu merah. Inilah muasal Om Rafael mual dan pusing tujuh keliling. Mau ganti kapten, dia sudah telanjur bilang tidak ada lagi pemain yang layak selain Kanisius untuk posisi itu. Mau tidak ganti kapten, Kanisius tidak lagi ada di lapangan. Siapa saja yang tahu sepak bola pasti juga tahu bahwa tim sepak bola tanpa kapten bagaikan tidak ada kapten dalam tim sepak bola. Itu!

Artikel lain: Om Rafael Bilang Motiwasi, Saya Protes

Di tengah kebingungan hebatnya, Om Rafael mendekati salah seorang pemain cadangan. Pemain ini sesungguhnya adalah cadangan mati. Sampai mati tidak akan diberi kesempatan main karena selalu keliru antara mana gawang lawan dan mana gawang sendiri. Pernah juga sekali waktu pemain ini berlari kegirangan memeluk pemain lawan yang berhasil menjebol gawang tim asuhan Om Rafael itu, tim mereka sendiri. Pemain macam apa ini?

"Nana masuk. Ganti Kanisius dan jadi kapten," kata Om Rafael padanya.
"Siap, Om!" Lalu dia berlari ke tengah lapangan, mendekati wasit dan merampas pluit. "Sekarang saya jadi kapten. Jadi Bapak silakan keluar lapangan dan pluit ini saya pegang," katanya pada wasit yang lantas terdiam tanpa suara.

Hari itu pertandingan bubar jalan begitu saja. Tim Om Rafael dinyatakan gugur karena pemain cadangan mereka berulah. Setelah tidak berhasil mengusir wasit keluar lapangan, sang cadangan mati ini salah tempat. Dia ngotot bermain di tim lawan. Jadinya 12 lawan 10. Pertandingan macam apa itu? Akar soalnya tentu saja karena Om Rafael salah pilih kapten.

"Saya salah, Nana," curhat Om Rafael beberapa saat kemudian ketika kami berjalan pulang beriringan, "saya terlalu percaya pada Kanisius," lanjutnya.
"Tapi kenapa Om pilih itu pemain cadangan?" Tanya saya.
"Terus, Nana mau saya pilih seorang dari antara mereka yang sudah saya hina?"
"Kenapa tidak?"

Ada hening yang panjang mengiring langkah kami. Kesiur angin senja menyambar pohon akasia. Beberapa daun yang kering jatuh. Sebelum sampai ke tanah, satu daun terbang dan hinggap di hidung Om Rafael. Terlalu sekali itu daun e. Kehadirannya menyentak kesadaran Om Rafael.

"Saya tidak mau jilat lidah sendiri, Nana," katanya dengan suara rendah dan malu-malu.
"Ludah, Om. Pake 'U'. Bukan 'I'! Saya mengingatkannya perlahan.
"Ya, ya. ya. Saya tidak mau julat lidah sendiri."
"KALAU YANG ITU JILAT, OM. JILAT. PAKAI 'I'! Kali ini saya berteriak.
"Nana bilang tadi pakai 'U'. Sekarang malah pakai 'I'. Nana tidak konstituen e aeh."
"KONSISTEN, OM. KONSISTEN!!!!!!!!
"Nah. Itulah. Kita harus konsisten. Itu lebih baik daripada kita malu."

Di persimpangan, saat kami akan berpisah, Om Rafael mengingatkan saya tentang pentingnya sikap konsisten. "Biar salah, Nana. Asal kita konsisten, kita akan dianggap keren. Saya juga tadi sengaja bawa-bawa buku di penjelasan awal, biar terlihat keren. Yang baca buku kan selalu dianggap keren, to? Biar mereka asal baca, tetap keren. Hidup kadang se-babi itu," katanya lalu berlari ke kandang babi.

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

Ps:
Di musim #PilgubNTT, seri Om Rafael dapat dibaca dengan merujuk pada perkembangan terkini seputar perhelatan itu. Pada situasi lain, Om Rafael dapat dibaca sebagai kisah yang berdiri sendiri. Begitu kira-kira.

2 comments:

  1. Jan sampe kita salah pilih kapten utk kita punya flobamora tercinta e Om Rafael.. sa senang Om Rafael punya quote soal sikap konsisten tu.. krn itu sikap su makin langka sekarang... ko coon Om Rafael?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah. Itu dia. Barangkali benar. Yang konsisten (baca: abadi) hanyalah kepentingan. Tabe.

      Delete