Kota Ruteng Dalam Koper, Catatan Perjalanan Dibuang Sayang Bagian Kedua

Seperti yang telah diceritakan pada bagian pertama, Kota Ruteng Dalam Koper adalah sebuah catatan lama yang sayang kalau dibuang. Bahwa setiap hari adalah perjalanan, beberapa di antaranya sungguh baik jika terekam dalam tulisan.
kota ruteng dalam koper catatan perjalanan dibuang sayang bagian kedua
Kota Ruteng Dalam Koper Bagian Kedua
Bahwa pada kesempatan ini saya berhasil mengunggah catatan tujuh tahun silam yang saya duga telah raib, saya berterima kasih pada notepad dan file *.txt yang kebal dibawa sepanjang masa.

Menyiarkan kembali catatan lama di ranalino.id, adalah usaha dokumentasi. Judulnya saya ubah dari judul bergaya majalah-majalah masa lalu berbunyi Menembus Waktu, Sebuah Catatan Perjalanan menjadi lebih ramah SEO yakni Kota Ruteng Dalam Koper, agar bernuansa sama dengan catatan populer lain yang berjudul "Travelling Light dan Kekasih Dalam Ransel".

Ini adalah bagian kedua dari seri koper ini. Sebuah penjelasan lebih panjang tentang apa yang pada bagian pertama sempat saya ceritakan; kami di Bandara Ngurah Rai.

Kota Ruteng Dalam Koper, Catatan Perjalanan Dibuang Sayang Bagian Kedua


Ternyata ini tahun 2011.

Bandara Internasional Ngurah Rai terbayangkan sangat panas. Suhu di bandara dilaporkan tiga puluh derajad celcius. Saya dengar informasi itu dari pramugari Aviastar, aircraft yang membawa kami dari bumi Komodo, Labuan Bajo, Manggarai Barat.

Bayang-bayang kegerahan menjadi nyata saat kami keluar dari ruang klaim bagasi bandara besar itu. 12 November 2011, kesibukan biasa terlihat di pelataran bandara. Beberapa pemuda dengan pakaian adat Bali mengacungkan kertas putih bertuliskan nama-nama orang yang harus dijemput. Tak ada nama saya di kertas itu, juga dua pastor teman seperjalanan saya.

Kami memang tak dijemput siapa-siapa. Bali bukan tujuan. Hanya tempat singgah sementara. Pesawat yang akan membawa kami ke Jakarta belum akan berangkat. Sekarang waktunya menitipkan tas di tempat penitipan barang dan bergegas menikmati situasi terminal.

Tujuan pertama adalah mencari kopi karena kami dari Manggarai dan kopi telah lama menjadi nama tengah kami semua. Maka dengan merogoh kocek lebih banyak dari biasanya--di bandara harga apa saja selalu lebih mahal--kami menikmati kopi, bercerita tentang Bali yang panas dan Ruteng yang sejuk.

Tetapi kota Ruteng sedang ada dalam koper. Yang ada di sini bandara ini adalah bule-bule berpenampilan aduhai dengan kacamata hitam yang semoga semurah yang saya pakai. Harapan yang mungkin sia-sia. Bali itu menyenangkan tetapi panas dan mahal, pikirku karena 50 ribuan hanya kembali 5000 untuk kopi yang kami minum.
Masih jam 12 siang. Ke toilet terdekat untuk keperluan biasa lalu tersadar, ada yang beda. Toilet di Bandara Komodo tak sebersih toilet di Ngurah Rai ini. Mengapa, oh, mengapa... aku tak berrrdayaaa. Eh, itu lagu siapa?
Perjalanan kami lanjutkan ke terminal luar negeri. Sesuai rencana, kami makan siang di sana. Terminal itu luas sekali, tetapi berjalan rapi. Tak ada kesibukan berlebih, sesuatu yang jelas berbeda dengan pemandangan di terminal dalam negeri. Pilihan makan siang jatuh pada lalapan ayam. Kali ini uang seratus ribu hanya kembali empat ribu rupiah. Pesan moral: Jangan makan siang di bandara kalau tidak siap terkaget-kaget.

Lama kami habiskan waktu di terminal luar negeri, berpura-pura sebagai calon penumpang ke Canberra. Ketika pengeras suara menyebut nomor penerbangan dan tujuan Canberra akan segera diberangkatkan, kami bergegas meninggalkan kios makan, begerak, kembali ke tempat asal, terminal domestik.

Baca juga: 10 Plus Satu Hal Paling Diingat Tentang Ruteng

Sudah jam tiga sore, Waktunya check in. Pesawat ke Jakarta akan berangkat dalam satu jam ke depan. Itu kata mereka. Tetapi pesawat kami adalah Lion Air yang sedang senang-senangnya delay. Kami sudah di ruang tunggu dan penjemput di Jakarta sudah bergerak ke Soekarno Hatta ketika pengumuman terdengar: Dear passanger… bla bla bla… etc, etc. Yang berarti pesawat kami mengalami penundaan satu setengah jam.

Ho ho ho… Lion Air yang terkasih. Berapa kalikah dalam sehari sebuah penerbangan boleh tunda berangkat? Tertahan di ruang tunggu selama dua setengah jam, di tengah gerutu calon penumpang lain yang terburu jadwal meeting de-es-be, tidak ada yang lebih berat; mau tidur, orang di sampingmu mengomel tanpa henti.

Beruntung bandara ini menyiapkan fasilitas internet gratis yang untuk memakainya harus rebutan dengan ratusan orang lain. Saya memenangkan perebutan karena terlihat bengis dengan kacamata hitam yang tak pernah saya lepas. Mata saya bintitan, Saudara-saudari.
Maskapai Lion Air kami yang bagai kekasih yang selalu menunda waktu pernikahan ini menyiapkan hiburan pengganti delay berupa makanan dalam kotak yang tak menarik minat. Di saat yang sama, penumpang Garuda yang juga terjebak delay mendapat fasilitas mewah menunggu di City Link Lounge. Oh, dunia kelas yang abadi.
Toh akhirnya pesawat kami berangkat jam setengah enam sore. Tiba di Soekarno Hatta satu setengah jam kemudian, tetapi masih jam enam sore waktu Ibukota Negara. Kami beruntung karena berhasil mengalahkan waktu satu jam. Terima kasih zona waktu.

Penjemput sudah lama menanti bahkan sempat berpikir untuk tidak menunggu. Kami lupa memberi informasi bahwa merpati ekor merah kami delay. Beruntung dia mencoba bertahan menghadapi dirimu walau kadang kala tak seiring jalan, halaaah… malah nyanyi. Ada yang bisa tebak ini lagu siapa?

Dan, Jakarta oh Jakarta. Menyambutku dengan tak ramah. Macet dan udara yang bikin jengah. Perjalanan dari Bandara ke Biara Vinsensius di Kramat memakan waktu empat jam. Gedung-gedung tinggi menatapku curiga seakan penuh tanya sedang apa di sini? Nah, lagu lagi, bukan?

Dan saya terkagum-kagum. My first time, dan kota ini langsung membuatku kangen Ruteng kota kami yang damai dan indah dan pelan tapi tak macet. Saya membuka koper saya. Cerita menyeruak, tentang anak dan istri yang bermain ceria. Rindu. Jawaban atas pertanyaan kapan pulang adalah: nanti kalau pulang, Bapa bawa oleh-oleh.

Hanya saja kami belum boleh pulang. Perjalanan masih panjang. Sebuah perjalanan spiritual. Bukankah sesungguhnya setiap perjalanan adalah sesuatu yang spiritual? Hari ini kami telah kenyang pengalaman jasmani. Bali itu mahal dan panas dan bule, Jakarta itu macet dan tidak segar dan macet dan entah ke mana orang-orang itu dengan mobil-mobil mereka.

"Malam Minggu biasa gini, Om," kata penjemput kami.
"Kalau malam-malam lainnya?"
"Begini juga."

Saya masih menunggu apa lagi yang terjadi kemudian. Setelah tahu, saya memutuskan untuk menulisnya lagi besok atau entah kapan. (Bersambung)


Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

Catatan:
Kota Ruteng Dalam Koper sengaja dipilih sebagai judul seri ini karena sesungguhnya di setiap bagian perjalanan, ke mana saja, Ruteng selalu ada bersama saya. Ruteng berarti orang-orang tercinta.

0 Komentar:

Post a Comment