Kota Ruteng Dalam Koper, Catatan Perjalanan Dibuang Sayang Bagian Pertama

Saya pernah menikmati sebuah perjalanan yang menyenangkan. Saya baru menyadarinya ketika mengutak-atik, mengubek-ubek, mengobrak-abrik file lama. Catatan ini pernah ada di blog multiply saya, sebelum situs itu berubah wajah menjadi lapak dagang. Entah bagaimana nasibnya sekarang.
kota ruteng dalam koper catatan perjalanan dibuang sayang bagian pertama
Catatan Perjalanan Dibuang Sayang Bagian Pertama | Ist.
Beruntung, saya masih menyimpan naskah asli dalam bentuk *.txt. Terima kasih notepad untuk kekebalanmu yang tak terhingga terhadap serangan virus.

Saya memutuskan untuk menyiarkannya lagi di ranalino.id, sebagai usaha dokumentasi. Judulnya saya ubah. Selain untuk alasan klik, perubahan dilakukan karena judul yang lama terlampau melankolis, yakni: Menembus Waktu, Sebuah Catatan Perjalanan. Ckckck... saya pernah se-text book itu ternyata *smile. Kota Ruteng Dalam Koper saya pilih agar bernuansa sama dengan catatan Ucique Klara Jehaun yang berjudul Travelling Light dan Kekasih Dalam Ransel.

Catatan ini dibagi dalam tiga bagian demi kemudahan membaca, karena setiap bagian berisi kisah-kisah yang berbeda, meski masih dalam satu rangkaian perjalanan. Sayang sekali rasanya kalau catatan ini dibuang. Selamat menyimak bagian pertama ini.

Kota Ruteng Dalam Koper, Catatan Perjalanan Dibuang Sayang Bagian Pertama


Ini tahun berapa?

Kami memulainya hari itu, saat Timnas Senior Indonesia kalah atas Qatar di laga Pra Kualifikasi Piala Dunia. Tim Garuda kalah dan kami di Labuan Bajo menyaksikan betapa tak berdayanya Firman Utina digempur anak-anak Timur Tengah. Sudah tanggal 12 November dini hari.

Kecewalah kami semua. Indonesia kalah dan kami kelelahan menempuh perjalanan panjang dengan mobil rocky tahun lama dan terguncang -guncang menembus malam di jalan yang tak mulus. Saya, dua orang Pastor, Bertin sang driver dan James yang bertugas menemani driver pulang ke Ruteng saat kami yang lain melanjutkan perjalanan ke Jakarta; sebuah perjalanan spiritual. Kota Ruteng kami bawa dalam koper.

Kota Ruteng tetap ada dalam koper ketika kami tidur karena dengan lelah dan kecewa. Selain insomnia, pada beberapa orang, rasa kecewa bisa menjatuhkan mereka pada tidur yang aneh. Sungguh bukan pengalaman yang manis untuk dikenang tetapi tetap akan terkenang.

Tak ada mimpi sampai saya bangun dan mendapati betapa rumah tempat kami menginap malam tadi terasa panas. Bukan rumah itu yang panas. Tetapi Labuan Bajo, kota di ujung barat Pulau Flores, tempat kami singgah sejenak sebelum berangkat ke Jakarta.

Sudah tanggal 12 November pagi, kenangan akan kekalahan Timnas atas Iran masih segar, tetapi kami sudah boleh sedikit tersenyum. Running text di layar televisi menampilkan cerita tentang Komodo yang lolos (sementara) ke New7Wonders dan berada peringkat kelima. Lumayan, pikir kami sambil menikmati sarapan pagi di kamar makan berukuran jumbo di Patres (tempat para Pastor tinggal) Seminari Menengah Yohanes Paulus II Labuan Bajo.

Menu pagi itu: ikan kering digoreng, daun singkong ditumis, dan nasi putih terhidang di meja dari manakah datangnya… dari sawah dan ladang di sana… Eh, saya malah nyanyi.

Check-in di Bandara Komodo berlangsung lancar, dapat seat bagus, tetapi saya terheran-heran. Kenapa bandara ini sepi ya dari publikasi tentang Komodo? Sudahlah… tak banyak berpengaruh, toh saya sudah mendukung dengan 50 sms per hari selama ini. Tetapi tetap protes dalam hati. Gila! Tak ada satu flyer pun tentang Komodo di bandara ini. Poster? Apalagi! Apa itu poster?
Ah, sudahlah. Mungkin memang yang di Labuan Bajo tidak terlampau berminat memenangkan Komodo di ajang New7Wonders of Nature itu. Kadang begitu. Biarkan orang lain berjuang dan hasilnya kita nikmati bersama. Hidup kadang seabsurd itu.
Hari ini bandara Komodo menampilkan cerita lain. Tentang ratusan orang yang menangisi kepergian seorang misionaris kembali ke negeri asalnya. Suster Virgulla, SSpS memutuskan untuk pensiun dari karya kemanusiaannya di Cancar dan Binongko karena masalah kesehatan. Dia pergi meninggalkan panti asuhan di Binongko, Labuan Bajo dan cerita mulia tentang pendampingannya pada orang kusta di wilayah Manggarai Raya.

Saya mencari-cari di antara ratusan rombongan pengantar yang sahaja, tak ada satu pun orang-orang pemerintahan yang ikut mengantar pejuang kemanusiaan itu. Apakah tanah ini tidak merasa kehilangan? Pesawat yang membawa Suster Virgulla, SSpS lepas landas diiring isak tangis dan lambaian tangan tak percaya dari orang-orang yang mencintainya. Saya ikut melambai sembari menahan tangis.

Jam sembilan lebih tigapuluh menit, giliran kami yang harus siap terbang. Satu jam kemudian, Bandara Ngurah Rai, Bali menyambut kami dengan panasnya yang biasa. Ribuan spanduk selamat datang tampak berjejer di sana. Bukan untuk saya dan dua Pastor sahabat seperjalanan saya. Kami orang biasa dan spanduk hanya dipasang untuk orang luar biasa.

Spanduk-spanduk itu ditujukan kepada rombongan Kepala Negara dan utusan penting lainnya yang akan mengikuti sebuah pertemuan penting di negara ini. Tampak baliho besar berisi foto SBY dan Ibu Ani dengan tangan terkatup di dada, dan tulisan besar selamat datang dalam dua bahasa, Inggris dan Indonesia. Di baliho itu, Ibu Ani mengenakan pakaian dengan motif Songke Manggarai. Saya bangga menyaksikan pemandangan di terminal luar negeri itu.

Mengapa pula kami sampai di terminal luar negeri?

Begini ceritanya. Kami bertiga sepakat menitipkan barang di terminal domestik dan dengan sengaja berjalan-jalan ke terminal luar negeri. Kami akan makan siang di sana. Sekali-sekali begini. Merasakan atmosfir seperti orang-orang yang sering bepergian ke negara lain, pikir kami.

Baca juga: Mengunjungi Jakarta itu Baik

Terminal luar negeri begitu ramah, damai, dan tenang. Itu yang kami rasakan. Mungkin karena kami baru saja datang dari terminal domestik yang begitu sibuk dan para calo berlarian ke sana-kemari mengejar setoran. Ah Indonesia…

Pesawat yang akan membawa kami ke Jakarta masih beberapa jam lagi. Waktunya menikmati Indonesia kecil di bandara ini. Kenyataan tak pernah mau berubah. Tim sepakbola kita tak maksimal, bangsa ini kehilangan rasa terima kasih, dan negeri ini terlalu sibuk dengan urusan sendiri.

Kesimpulan itu tentu saja adalah bagian kecil dari seluruh perjalanan kami. Jalan masih teramat panjang, mustahil berlalu bila dayung tak terkayuh, kata Iwan Fals. Maka ketika waktunya tiba, kami semua sudah di pesawat menuju Jakarta. Harusnya begitu. Tetapi apa benar begitu? Ceritanya akan hadir di bagian kedua.

Oh, iya. Ini tahun berapa? (Bersambung)


Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

Catatan:
Kota Ruteng Dalam Koper sengaja dipilih sebagai judul seri ini karena sesungguhnya di setiap bagian perjalanan, ke mana saja, Ruteng selalu ada bersama saya. Ruteng berarti orang-orang tercinta.

0 Komentar:

Post a Comment