Natal di Ruteng, Tenda Kampung Cahaya, dan Pohon Natal Media Sosial

Tahun ini, Natal di Ruteng tetap sama. Menyenangkan, hujan, dan payung-payung di teras gereja. Buat sa bahagia, tentu saja. Lalu kau jalan-jalan ke Tenda. Kampung itu penuh cahaya. Dinding media sosial juga penuh warna merah-hijau, warna Natal, dari topi Santa dan pohon Natal. Lalu, saya mengganggunya dengan catatan ini. Nikmatilah!
natal di ruteng tenda kampung cahaya dan pohon natal media sosial
Cahaya | Foto: Frans Joseph

Natal di Ruteng, Tenda Kampung Cahaya, dan Pohon Natal Media Sosial


Pada sebuah kesempatan, Paus Benediktus XVI meminta agar kita membawa Kristus ke media sosial. Tentu saja yang ingin dicapai dari permintaan itu adalah agar dinding-dinding media sosial berisi pesan yang sarat dengan semangat dan inti ajaran: cinta kasih. Agar kita menjadi garam dan terang melalui berbagai cuitan dan unggahan di media sosial.

Kira-kira begitu; facebook, twitter, instagram berisi informasi tentang iman-harap-kasih, dan yang paling besar di antaranya adalah kasih.

Tetapi, tentu saja sebagai generasi yang hidup dengan tengah badai informasi--berikut kecenderungan besar untuk menghindari kedalaman dan bermain di pinggiran saja membiarkan tempias ombak mengecup mata kaki tetapi merasa telah bermain di laut dan mengabarkannya kepada dunia dengan bangga--kita memiliki begitu banyak tafsir (baca: usaha membenarkan diri) dalam merumuskan permintaan Paus Benediktus XVI ke level sikap.
Maka, usai perayaan ekaristi hari Minggu, dinding-dinding media sosial menjadi penuh dengan foto-foto selfie (swafoto) berlatar belakang gedung/bangunan gereja dengan caption: Senang sudah bertemu Yesus
Di foto itu, si pemiliki akun tampak memamerkan senyum yang disiapkan dengan sempurna, dengan kecenderungan besar bahwa yang diunggah adalah hasil jepretan kedelapan atau bahkan keenambelas karena di beberapa jepretan sebelumnya menampakkan hasil yang kurang maksimal.

Bibir kurang tipis saat tersenyum, mata kurang belo padahal ingin menggoda, ada beberapa helai rambut yang disiapkan menutup jerawat justru terbang saat layar hape diketuk dan jerawat di jidat itu nongol. Foto-foto seperti itu pasti langsung dihapus. Iya, to?

Baca juga: HIV/AIDS Terlampau Dekat - 2

Lalu kita merasa sah bahkan merasa ikut menjalankan dengan kekuatan penuh permintaan Paus Benediktus agar Kristus dibawa ke media sosial. Yang tidak dijelaskan di caption adalah apakah hape dimatikan ketika mengikuti misa, atau justru sebagaimana biasa kita saksikan di dalam ruang megah gereja, hape di-mode silent tetapi layar menyala sepanjang perayaan dan terus diskrol atas-bawah untuk menyaksikan percakapan di WAG, facebook timeline, instagram, atau private chat di messanger.

Kemudian kita tiba di bulan Desember, bulan Natal, dan Natal di Ruteng juga berjalan dalam situasi yang tidak jauh berbeda.
Foto-foto berisi gambar seseorang duduk di kursi, silang kaki-tersenyum rapi-santa di kepala dalam rupa topi, di samping pohon Natal yang tinggi, beredar sepanjang Desember. Caption-nya jelas: Selamat Natal, Damailah Bumi Sebagaimana Damainya Surga
Yang tidak dijelaskan di caption adalah apakah pemiliknya akan mampu menjaga kedamaian jika itu telah menyentuh wilayah perbedaan pendapat?

Baca juga: Paskah di Ruteng, Seorang Perempuan Memakai Gincu yang Lembut

Barangkali kita memang telah bergeser dari makhluk yang gemar bercakap-cakap dengan sungguh-sungguh menjadi orang-orang artifisial. Tentu saja itu adalah hasil yang sah, ketika kita tidak pernah menyiapkan waktu untuk memberi diri sendiri jeda, time break, atau whatever-lah itu namanya: sebuah momen di mana kita membuat refleksi atau sebut saja pemaknaan serius/lebih atas setiap informasi yang berkeliaran di layar hape kita.

Kita baca judul berita, lalu memberi komentar sembari menutup mata atas pengetahuan bersama bahwa judul berita memang sengaja dibuat untuk memancing emosi atau klik.

Maka atas perbedaan pendapat, kita berkelahi dengan membabi-buta, saling serang, saling sikut di media sosial hanya karena pilihan politik kita berbeda. Situasi itu terjadi persis setelah kita mengunggah foto di samping pohon Natal dengan caption pesan damai. Juga kerap terjadi beberapa saat setelah foto kita di depan gedung gereja mendapat ratusan like dan puluhan love.

Apa kabar pesan agar Kristus dibawa ke media sosial? Maafkan kami Benediktus. Hanya sampai di batas mengunggah foto itu yang kami mampu. Selebihnya? Dinding media sosial ini milik pribadi dan kami sah memaki-maki orang lain yang beda partai. Kalau tidak suka, silakan unfollow, unfriend, atau blokir sekalian. Ckckckck!

Tenda Kampung Cahaya


Tetapi di Ruteng ada Kampung Cahaya pada Natal kali ini. Kampung Tenda namanya. Di setiap gang, kau akan berjalan di tengah cahaya lampu-lampu Natal. Berkilo-kilo meter, lampu Natal dinyalakan di pinggir jalan dengan gaya yang seragam di setiap gangnya. Di satu gang ditata melengkung, di gang lain dibuat menyerupai pohon Natal, sama indahnya. Panjang sekali sehingga kau harus berulang kali menarik napas dan mendesahkan kekaguman ketika menghembuskannya kembali.
Bagaimana mereka merumuskan ide itu tanpa gembar-gembor di media sosial adalah salah satu alasan mengapa saya sering bernapas dalam kagum. Saya dan keluarga berulang kali ke Tenda dan menikmati kampung cahaya itu pada malam-malam kami yang menyenangkan pada Natal di Ruteng tahun ini. 
Rasanya, pemilik ide itu, dan semua orang di kampung itu yang dengan rela memberikan arus listriknya untuk menciptakan pengalaman indah tersebut, tidak seperti saya yang kerap mengunggah foto pohon Natal aneh yang saya anggap indah. Mereka santai saja, menyalakan lampu Natal, lalu menikmatinya, tanpa niat memecahkan rekor apa pun.

Tahun ini saya harus mengakui bahwa saya mengagumi kampung cahaya itu dan terutama mengagumi kemampuan mereka untuk menahan diri, tidak menggembar-gembor karya kreatif itu di media sosial. Padahal kalau mereka mau, mereka bisa saja membuat caption lebay a la Armin Bell seumpama: Tenda Kampung Cahaya.

Atau, kalau itu karya saya, saya akan bilang di foto itu: Inilah Lorong Tempat Tiga Raja dari Timur Berjalan ke Betlehem. Lalu, atas caption itu saya mendapat ratusan like, ratusan love, dan puluhan ha-ha-ha.

Tetapi yang di Tenda tidak melakukan apa yang saya pikirkan itu. Mungkin memang sebaiknya begitu. Menanam bunga di taman tanpa memikirkan bahwa bunga-bunga tersebut akan dipamerkan di media sosial. Mengapa menanam bunga? Supaya bunga tumbuh di taman, dan halaman rumah kami hijau dan indah. Itu saja.

Begitu kira-kira umat di Tenda berpikir, membuat lampu Natal yang indah, supaya suasana Natal jadi indah. Bahwa beberapa orang datang berkunjung lalu menjepret dan mengunggahnya di media sosial, itu bonus. Bukan tujuan.

Sampai di sini, saya tiba-tiba sadar bahwa sudah lama sekali saya melakukan sesuatu tanpa membayangkan bahwa yang saya lakukan itu akan ada di media sosial. Ya, lamaaaa sekali. Dengan alasan bahwa itu adalah dinding pribadi saya, setiap hal menjadi berorientasi jepret, like, love, viewers, followers, bahkan haters. All about me. Peduli setan dengan inspiratif, saya buat saja yang saya suka.

Termasuk bahwa suatu saat saya akan terlibat dalam perdebatan menjijikkan dan jauh panggang dari api di media sosial tentang kandidat pemimpin politik pilihan saya.

Tentang pesan agar membawa Kristus di media sosial, saya kira sudah cukuplah dengan mengunggah foto gereja atau pohon Natal. Begitu? Oh... betapa sedih. Lalu bagaimana? Tiba-tiba saja kita akan ada di 2018. Tahun baru. Tahun politik. Beberapa orang akan memakai isu agama untuk kepentingan perut semata. Kita bisa apa?

Sampai di sini, saya merasa catatan ini ternyata sangat panjang. Lalu menyerahkan nasibnya pada waktu dan harapan semoga masih ada yang gemar membaca. Kalau tidak, toh kita memang begitu adanya. Membaca judul, memberi klik like, lalu pergi begitu saja dan tulisan ini bernasib seperti kekasih yang tak dianggap. Mamaaaa.... tolong. Tiba-tiba saya ingin pulang ke Atambua, Gaes. #Halaaah.

Tetapi bagaimanapun, sebagai blogger Ruteng, saya percaya bahwa media sosial itu baik bagi mereka yang menggunakannya dengan baik untuk kepentingan yang baik. Di luar itu, media sosial adalah media di mana kau berubah dari mahkluk ngobrol-ngobrol menjadi makhluk di depan layar. Kini kau tidak lagi bisa menganggap bahwa mereka yang tertawa-tawa sendiri adalah orang gila. Karena kalau begitu, betapa banyak orang gila sekarang ini.

Ketika menulis ini, saya sesungguhnya merindukan agar permintaan Paus Benediktus XVI kepada kita untuk membawa Kristus ke media sosial, dirumuskan kembali dan disampaikan dalam kotbah-kotbah di gereja. Semoga ada pastor yang mau.

Kalau tidak, marilah menyiapkan diri untuk pertarungan bebas tanpa kendali. Tidak apa-apa. Toh, Natal di Ruteng tetap jadi yang bikin bahagia apalagi jika dibandingkan dengan Natal di media sosial.

Selamat Natal, Gaes. Selamat tahun baru juga. Semoga yang pulang ke Atambua dapat menikmati liburannya dengan baik. Begitu, Gaes. #ApaSih? Terima kasih karena sepanjang 2017 ini kita telah bersama-sama di ranalino.id. Di tahun 2018, blog ini akan terus menata dirinya. Jangan bosan berkunjung. Sesekali, berilah kritik. Atau kado ke nomor rekening saya #eh.

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

2 comments:

  1. Kampung Tenda memang beda, Om.. Dia tidak butuh itu media sosial utk buat dia terkenal. (ini blog masuk golongan media sosial ka Om?) Cukup dengan berbagi cahaya di masa natal saja dia sudah jadi terkenal. Berharap sesekali Ruteng jadi city of light..biar hanya waktu natal saja..hehhee..tabe..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Beberapa tahun silam, Ruteng jadi city of lights. Tahun ini agak sepi. Kita beruntung bahwa Tenda tetap memberi warna. And, that's great!

      Delete