Orang Bodoh Tidak Perlu Ikut Pemilu Kecuali Karena Desakan Perut

Judul tulisan ini barangkali menjengkelkan. Saya minta maaf. Tetapi percayalah, tidak ada maksud meremehkan kelompok atau golongan tertentu. Toh, di era sekarang ini, jumlah orang bodoh telah menurun drastis seiring dengan meningkatnya jumlah orang yang sok tahu. Seperti saya ini. Kita bisa apa?
orang bodoh tidak perlu ikut pemilu kecuali atas desakan perut
Perbaikan jalan biasanya jadi materi favorit dalam kampanye | Foto: ranalino.id

Orang Bodoh Tidak Perlu Ikut Pemilu Kecuali Karena Desakan Perut


Sesunggunya, tidak ada yang namanya orang bodoh dalam Pemilu. Yang ada adalah orang-orang yang mau dirinya dibodohi. Termasuk oleh janji-janji muluk pada masa kampanye. Kadang yang berkampanye juga mau saja dibodohi oleh pemilih atau tim sukses. Dari ramainya permainan saling membodohi itu, bukankah wajar kalau saya menyimpulkan bahwa tidak ada yang bodoh?

Catatan ini adalah penggabungan dari sekian banyak tulisan yang sebelumnya hadir secara pendek-pendek dalam bentuk status atau catatan singkat di berbagai akun media sosial saya. Bahwa dalam perjalanan membaca tulisan ini ditemukan lompatan-lompatan yang tidak koheren, hal tersebut tentu saja wajar.

Tetapi saya menyarankan satu tips agar pembacaan atas teks ini menjadi masuk akal, yakni: bacalah dengan rileks. Jangan menghakimi, tidak perlu merasa dihakimi.

Kesibukan Tahun Politik


Tahun politik datang lagi. Hampir dalam setiap perhelatan seperti ini, kita mengalami kesibukan yang sama. Sibuk cetak kalender. Cetak stiker. Cetak baliho. Juga mencetak nama di hati para pemilih. Yang terakhir ini adalah kerjaan tim sukses dan junjungannya.

Ini seperti kisah yang akan terus diulang. Juga konsekuensinya. Senang, menyesal, harapan yang tidak kunjung terealisasi, juga akan terus berulang. Tetapi kita sibuk lagi pada event serupa di kesempatan berikutnya. Heran? Sama. Saya juga heran. Kok bisa kita mengulang-ulang hal yang sama padahal kita tahu bahwa hasilnya akan tetap sama?

Caling mori meu bom caling mendi ami. Kalimat itu ada di Manggarai. Go'et yang muncul pada setiap kontestasi politik. Yang artinya, siapa saja yang terpilih, kami (pemilih) akan tetap seperti ini. Akibatnya, wajib pilih cenderung bersikap pragmatis. Memilih yang membayar. Ini satu-satunya kesempatan mereka (para caleg) bertemu kita dan bagi uang. Ambil saja. Pilih dia saja.

Siapa tau setan tolak malekat tendang. Kalimat itu juga ada di Manggarai. Di beberapa tempat lain juga ada. Yang mendengungkannya adalah para caleg dan tim suksesnya. Mumpung ada kesempatan, yuk jadi caleg. Kalau tidak lolos, kita bisa lamar jadi pegawai. Pikiran macam apa itu? Tetapi yang begitu banyak.


Yang satu menggunakan hak memilihnya karena dibayar, yang lain menggunakan hak dipilihnya karena sedang tidak ada kesibukan lain. Kita ini seperti kumpulan orang yang tidak terlalu bisa berpikir saja rasanya. Seolah-olah ajang hebat bernama Pemilu itu adalah salah satu fase mencari kerja atau mencari uang sayur tambahan. Sedih? Menangislah.

Lalu saya merasa betapa menyedihkannya uang negara sebesar itu ketika yang terlibat dalam seluruh peristiwa adalah yang tidak sadar atau hanya setengah sadar tentang manfaat penting Pemilu dalam mengubah nasib bangsa ini.

Berbagai tagline kampanye yang dipikirkan dengan matang oleh tim sukses seperti menjadi pelengkap penderita saja. Dibuat supaya ada. Tidak terlalu bermanfaat juga. Ini kita yang bodoh atau bangsa ini yang lupa memberi pendidikan politik?
Catatan ini memang berjudul seperti ini karena apakah judul lain yang tepat? Saya sungguh berharap bahwa Pemilu akan melahirkan perubahan. Orang-orang memilih dengan sadar, yang nanti terpilih akan melaksanakan tugasnya karena merasa menjadi anggota legislatif bukan pekerjaan tetapi sebuah tanggung jawab.
Pertanyaannya adalah jumlah yang demikian itu berapa banyak?

Baca juga: 10 Tipe Manusia yang Muncul Setelah Pesta Demokrasi Bernama Pemilu

Orang Bodoh Tidak Perlu Ikut Pemilu


Saya pikir begitu. Yang masih berpikir bahwa Pemilu adalah hal sesederhana urusan perut, harus segera berpikir ulang. Itu adalah sebodoh-bodohnya alasan untuk terlibat/berpartisipasi dalam perhelatan politik. Jangan begitu. Berat. Ikutlah Pemilu dengan sadar.

Jika urusan kita masih dikendalikan perut, solusinya bukan Pemilu. Solusinya adalah: mencari kerja. Pemilu bukan ajang mencari kerja tetapi mencari orang-orang hebat yang mampu membawa perubahan. Bagi orang-orang di sekitarnya. Orang-orang yang menitipkan harapan padanya. Kesejahteraan anggota dewan melalui gaji mereka nantinya, harus dianggap sebagai konsekuensi. Bukan tujuan.

Tetapi. Kita memang tetap dikendalikan perut. Karena itulah, para caleg berduit akan selalu menang. Orang-orang dekat yang memahami soal kita dengan sungguh dan telah berniat membawanya ke gedung dewan untuk digodok kebijakannya tidak akan terpilih. Mereka tidak punya uang. Kita pilih yang bayar. Puiiiih.

Kalau modal memilihnya seperti ini, tidak seorang pun berhak menyesal kalau yang terpilih tidak mewakili persoalan-persoalannya. Toh dia sudah bayar. Tidak kenal tapi bayarannya bagus, kita pilih orang seperti itu. Ckckckck.

Saya menggerutu. Iya. Karena setelah sekian lama, kita masih belum berubah. Akan tetap ramai dialog-dialog seperti ini:

A: Dia bayar berapa?
B: 350.
A: Saya kasi 400.
B: Saya pilih yang kasi 400.

Dialog selesai. Catatan ini juga selesai. Sudah. Begitu saja. Saya tetap berharap orang bodoh tidak perlu ikut Pemilu. Kecuali kalau kita tetap merasa bahwa Pemilu adalah ajang memenuhi kebutuhan perut. Saya bisa apa?

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

Ps:
Silakan bergabung di ranalino.id. Kirim tulisan Anda via armin.ranalino@gmail.com.

0 Komentar:

Post a Comment