Jadi Petani, Rabies dan Pagar Betis

Jadi petani adalah seri tulisan Yeris Meka, seorang teman yang senang menulis dengan gaya melompat-lompat. Bukan Yeris yang melompat ketika menulis, tetapi cara dia bertuturlah yang melakukan itu #eh
Kali ini Yeris membawa kita ke beberapa tempat, beberapa masa, dan beberapa kisah unik sekaligus. Mulai pelajaran sejarah di sekolah, pilihan mengikuti acara sambut baru atau ajakan Nona Resti ikut Misa, sampai pada nasib para petani yang anjingnya diburu petugas medik veteriner. Ini asyik. Mari...!
jadi petani rabies dan pagar betis
Yeris Meka, orang Mangulewa yang tinggal di Kupang | Foto: Pribadi

Jadi Petani, Rabies dan Pagar Betis


Oleh: Yeris Meka

Setelah belajar seupil tentang kaum nomad pada kelas sejarah. Saya pikir, itu pelajaran tentang kaum sendiri dan mengikutinya dengan perasaan yang aneh. Lebih banyak pelajaran ini memaksa saya untuk setengah mati mengatasi dua perasaan yang hadir bersamaan, lalu dengan cara yang tiba-tiba pula dipaksa untuk mematikan salah satunya dengan kecepatan yang tidak diduga. Woiih lebe ngeri e! Itu untuk sebuah situasi ketika Guru Sejarah mencoba menghubungkan salah satu kegiatan kaum nomad dengan kebiasaan beberapa petani di kampung saya.

Kita bisa bangga mati pung untuk hadiah pujian yang didapat, lalu dengan segera merasa sedang berada di the wrong place ketika ternyata pujian itu punya maksud lain: sekedar membuat kelas menjadi gaduh dengan kebiasaan “angkat banting” yang lumrah saja dianggap sebagai basa-basi kelas tertentu. Setelah tawa lepas sebagian banyak orang, pasti ada seseorang yang  menyesal hadir di situ.
"Kamu bisa belajar tentang kaum nomad hari ini di beberapa tempat. Di Mangulewa misalnya," kata Guru Sejarah--itu tepat di mana saya merasa kampung saya jadi macam museum dan saya bangga--yang dengan segera melanjutkan, "tapi mereka masih suka bikin rusak alam dengan berpindah-pindah ladang, bakar hutan sana-sini.” 
Ai…! Itu padahal satu kelas sudah takjub terpesona saja pada Mangulewa, sampai kata tapi  mementahkan semuanya. “Eaaalah ternyata….!” Tau to rasanya? Itu materi memang eee... Bikin kami merasa bagaimana ko? Tetapi kami tertawa lepas, saya juga tidak dendam, asalkan kau bahagia. Hahaha #apasih?

Jadi begini, Kawans. Bertani atau jadi petani itu semestinya jadi kehendak bebas. Sama bebasnya ketika kau harus memilih hendak ikut ke acara yang mana: pesta sambut baru cucu pertama Guru Yan, atau ke kenduri empat puluh malam Opa dari Nona Rista yang manis dan kau kadang curi-curi pandang untuk sekedar melihat parasnya. Nonas Rista mengundangmu pertama kali dengan cara yang kau anggap spesial. Dia pukul-pukul kau punya pundak, setelah kau toleh sedikit dia bilang, “Malam sebentar ke rumah, kita Misa untuk Opa e.” Kau cuma angguk-angguk tanpa suara.

Pada situasi seperti ini, pilihlah dengan sadar. Di rumah Guru Yan, ada arak, musik dan ja'i, juga dangdut. Kau pasti happy dan puas joged di sana. Tapi, Nona Rista tidak mungkin mengundang lagi di kali berikut. Tak ada kesempatan kedua. Pilih mana? Bebas!

Baca juga: Jadi Petani, Bermula dari Pertanyaan Guru Martha

Okay! Kita omong-omong lagi tentang nomad di kampung saya. Tentang suatu masa yang sudah lalu cukup jauh atau sering disebut tahun ti enak oleh generasi modern. Tahun ketika sirih pinang dari Jerebu'u masih dibarter jagung, juga kelapa masih jadi barang mahal untuk orang-orang dataran tinggi Mangulewa.

Ya! Secuil daging buah kelapa masih dipamerkan seorang bocah sebagai makanan langka nan mahal. Ia dikerubuti teman sepermainan lalu di rumah pasti dimarahi bahkan dirotan, sebab itu bisa berarti jatah meku uta menjadi berkurang. Begitu sudah pokoknya.

Om-om petani masih suka buat ladang berpindah. Alasannya sederhana. Lahan yang baru dibuka, mengandung humus tanah tinggi dan bakal menghasikan panen yang lebih banyak. Uma Anga begitu dalam bahasa daerah Bajawa atau kebun yang baru dibuka. Lebih subur, lebih menjanjikan panen, dan tidak akan percuma tenaga yang sudah dibuang.

Walaupun sebenarnya, mengurusi lahan berpindah itu susah. Tidak hanya bakar, tanam, dan pelihara saja. Pagar keliling dan mete jaga malam, itu mutlak. Babi hutan, landak, musang, sampai tupai kadang berpesta di saat yang tidak diduga. Kenapa perlu buka lahan luas dan berpindah, padahal tenaga cuma seorang? Sudah luas, kalau tidak subur juga percuma, bikin tenaga menguap seperti embun pagi. Cahhh….

Ya. Karena seorang petani berbagi. Tidak saja pada anak istri. Tapi pada alam yang kadang menuntut diberi lebih. Perang itu pilihan terakhir. Ya perang. Kalau kerja setengah mati, hasil sudah dilihat dengan mata eh.. ternyata ada yang seenaknya menikmati hasil akhir dengan cara brutal dan bikin sakit hati.

Maka pertemanan seekor anjing dan seorang petani adalah salah satu simbiosis yang tidak bisa diputuskan begitu saja di sini. Seorang petani bisa lebih dekat dengan anjing dibanding istrinya, pada masa ladang sedang dibutuhkan penjagaan ketat.
Jadi jangan heran ketika di medio 2.000-an ketika rabies mewabah lalu ada program eliminasi anjing, banyak yang akhirnya menyelamatkan anjingnya dengan bersembunyi di padang atau ladang masing-masing. 
Siapa coba, yang tega rekan kerjanya dibantai. Sudah sama-sama senasib menjaga ladang lalu ada yang memutuskan untuk membunuh salah satu. Kau tega ngeri eee?

Ya, begitulah. Cerita tentang itu Om-om yang bawa lari mereka punya anjing sudah macam cerita Yesus yang diselamatkan dari kejamnya Herodes. Bapa Yosep yang pendiam itu harus pontang-panting cari tempat aman. Itu sama. Alasannya? Karena rasa cinta dan takut kehilangan untuk hal-hal yang sudah punya predikat kesayangan.

Lalu, sampailah kita pada babak ketika kegiatan eliminasi ditentang karena tidak cukup efektif mencegah rabies di Pulau Bunga. Vaksin masal dan rutin dipilih untuk menekan rabies. Tentu, ujung tombaknya adalah petugas medik veteriner. Itu profesi yang cukup asing untuk awam, juga orang kampung. Tugasnya teknis sekali, dengan tingkat resiko besar. Digigit anjing bisa jadi kecelakaan yang tidak diduga.

Ah, ini serius sekali eee. Tapi memang serius. Berhadapan dengan orang kampung yang kadang bersikap ekstrim itu susah, Maaan. Susah mati pung. Mereka berani mengusir petugas yang datang hanya dengan alasan yang lahir dan tumbuh serta diyakini di kalangan mereka sendiri, semisal: anjing kesayangannya bakal mati setelah divaksin. Bahkan sebelum petugas menjelaskan bagaimana seharusnya, mereka sudah teriak: “Kami punya anjing tidak usah vaksin. Pulang!” Petugas pulang dengan perasaan tidak dihargai.

Kasian sekali nasib para pagar betis ini. Padahal terjun medan begini badan kami jadi taruhan. Anjing bukan kami punya, kalau digigit juga badan ini belum di-back up asuransi. Wala! Boro-boro asuransi, kita belum pernah di-VAR juga to?
(*)

Yeris Meka
Orang Mangulewa, tinggal di Kupang, pernah punya kenangan manis dengan buah alpukat.

Catatan:
  • Meku uta: Meku=halus, uta=sayur. Bahan/bumbu supaya sayur jadi lebih enak.
  • VAR: Vaksin Anti Rabies
Tema-tema Dari Desa dapat disimak di tautan ini. Mari bergabung dan kirim tulisan Anda ke armin.ranalino@gmail.com.

0 Komentar:

Post a Comment