Cerpen Yeris Meka - Orang Asing

Saya berterima kasih kepada Yeris Meka karena mengizinkan "Orang Asing" tampil di ranalino.id. Selamat membaca.
cerpen yeris meka orang asing
Yeris Meka | Foto: FB Yeris Meka

Orang Asing


Oleh: Yeris Meka

“Bapakmu gila. Bapakmu bodoh!” Kata ibu suatu hari. Setengah membentak. Saya diam. Adik saya yang terus bertanya-tanya tentang bapak selalu disumbat dengan bentakan itu. Ia baru tiga tahun. Sedang giat-giatnya berlomba dengan teman sebaya tentang hebatnya bapak-ibu masing-masing, menggelar segala khayalan dalam dunia kanak-kanak. Tugas berat yang mereka tahu hanyalah perintah untuk tidur atau makan ketika sedang asyik-asyiknya bermain.

Saya baru menjelang enam tahun dan adik saya baru belajar untuk lupa pada puting susu ibu, ketika rumah kami sering kedatangan orang asing.

Sebagai tuan rumah yang baik, bapak tidak mau kehilangan muka di hadapan tamu-tamu itu. Malu bila tamu pergi tanpa cerita betapa baiknya yang punya rumah. Kalau itu terjadi, bapak tentu berharap kumis dan rambutnya tumbuh berpuluh kali lebih cepat, supaya wajahnya bersembunyi di sana.

Sepertinya sudah jadi tradisi di kampong ini. Tamu tidak boleh meninggalkan rumah dengan kesan kurang senang. Jadilah bapak wajib memberi yang baik sebagai tuan rumah. Kopi, makan, sopan santun, dan segala ramah-tamah. Bahkan saya dan ibu tidak boleh berlalu-lalang bila mereka sedang di ruang tamu. Pembicaraan hanya mereka yang tahu; bapak dan tamu-tamu itu.

Ibu tidak menaruh pusing untuk urusan begitu. Tamu-tamu itu bagi ibu--dan saya--tidak lebih seperti orang jauh yang singgah makan. Ibu patuh saja pada bapak menyangkut semua hal yang harus disiapkan. Dapur biasanya menjadi ramai: ibu sibuk memasak, nasi juga opor.

Bapak menemani tamu-tamu. Bercerita, menghabiskan bergelas-gelas arak. Lalu bapak mengantar bila mereka pulang. Setelahnya, ibu sibuk membersihkan piring-gelas kotor. Sesekali bapak dihadiahi rupiah. Dibungkus amplop. Tetapi ibu sering mengeluh bila tetap masih ada selisih untuk harga seliter beras dan beberapa bumbu yang harus dibeli di pasar. Bapak bergeming.

Baca juga: Analisis Cerpen Armin Bell - Nada-nada yang Rebah

Pohon asam di samping rumah sudah jadi istana ayam kampung. Daunnya lebat sepanjang musim. Kulit pangkal batangnya sudah sarat tahi ayam. Dari situ satu per satu ayam dijebak bila tamu-tamu datang. Ibu menjadi jagal. Sudah tidak terhitung jumlah ayam yang menjadi opor atau gulai. Dan akan selalu begitu bila rumah ini ditandangi tamu.

“Besok ada yang datang. Pagi-pagi. Jantan putih di dahan pertama. Yang itu saja!” Kata bapak. Suaranya patah-patah. Ibu diam saja. Pikirannya barangkali sudah kembali ke siang tadi ketika penjual arak datang menagih utang. Dua ratus lima puluh ribu. Ibu menggerutu setelah bapak menghilang di balik pintu menuju pohon asam di samping rumah itu.

“Tamu-tamu lagi. Orang asing lagi. Bapakmu tidak pernah pikir tentang utang-utang kita,” gerutu ibu yang dilanjutkannya dengan cerita tentang dia yang menjadi malu karena harus selalu berjanji ke tuan warung tempat keluarga kami sering berutang.
Tangannya sibuk meninabobo adik. Itu bukan kali pertama ibu berkeluh. Sering. Selalu ditutup dengan nada mengancam. Pada saatnya, tunggu kau! Saya tidak mengerti. Apa yang ditunggu?

Tamu datang lagi. Dapur disesaki aroma bumbu lagi. Ibu memasak nasi dan menggulai ayam lagi. Bapak bersama tamu. Dari balik tirai melihat terlihat mengangguk-angguk. Hanya beberapa patah kata yang meluncur darinya. Sang tamu bersuara lebih banyak. “Harus bias, Pak!” Bapak hanya mengangguk mendengar kalimat itu. Menawarkan tamu menghabiskan kopim kemudian ia segera ke dapur menemui ibu.

Makan siang sudah siap. Yang bertandang makan dengan lahapnya. Seperti terburu-buru. Bapak tersenyum. Puas. Makin banyak tamu makan, tuan rumah semakin merasa dihormati. Dan semua yang di meja tandas. Nasi, gulai ayam, dan arak. Tamu pulang. Bapak mengantar. Ibu sudah memersembahkan wajah kuyu.

“Utang arak sudah besar.” Ibu menyergap memberi laporan. Bapak mengulur beberapa lembar rupiah. Setelah diterima ibu tidak banyak bersuara. Satu masalah selesai. “Tidak jadi. Bos besarnya akan datang beberapa hari lagi. Katanya mau melihat langsung barang itu,” kata bapak kemudia. Ibu diam saja. Mungkin kesal.

Setelah beberapa hari, tamu bernama Bos Besar itu tiba di rumah kami. Seperti biasa bapak berusaha menjadi tuan rumah yang baik. Ibu, setelah lelah dengan kesibukan di dapur, rebah di tempat tidur dan terlelap bersama adik saya di sana. Saya berdiri di balik tirai.

Tamu pergi membawa koper tua, setelah menyerahkan dua buah amplop tebal. Kalau isinya uang, itu jumlah paling banyak yang bapak terima. Ya, memang uang. Saya tahu ketika sehari setelahnya bapak menyerahkannya pada ibu. Ibu tersenyum girang. Senyum paling renyah pertama sekaligus terakhir yang ibu gelar di muka bapak.

“Berapa ini?” Tanya ibu sebelum membuka amplop untuk menghitung terlebih dahulu.
“Lima puluh juta,” kata bapak, “saya belum sempat menghitung.”
Air muka ibu berubah aneh.
“Belum dihitung? Belum juga dibuka sejak kau terima ini?”

Ibu kalap. Dibukanya amplop dan isinya dimuntahkan di lantai tanpa peduli pada bapak lagi. Uang lembar dua ribuan berhamburan keluar. Amplop yang lain isinya juga sama. Dihitungnya dengan sisa ketenangan yang masih bisa ia simpan. Semuanya berjumlah lima juta rupiah, disimpan sekenanya saja di pangkuannya, sementara ia tetap duduk di lantai.

Ia mengusap wajah dengan kedua telapak tangan sebelum menantang bapak yang duduk di kursi di hadapannya.
“Hanya dua amplop ini? Betul?”Tanya ibu lagi. Bapak mengangguk pasrah.
“Itu warisan dari bapak saya. Hanya itu!”Kata ibu.

Bapak mematung. Lalu segala sumpah serapah keluar dari mulut ibu.

Sejak hari itu tidak ada tamu yang datang. Ibu tidak peduli dengan bapak lagi. Bapak lebih sering keluar rumah. Sehari, dua hari, sampai akhirnya kami terbiasa bila bapak sering tidak pulang. Terakhir pulang hanya untuk memakai baju tebalnya. Rambut, kumis dan jenggotnya sudah tumbuh lebat. “Bapakmu bodoh juga gila,” kata ibu. Bapak pasti masih malu, pikirku. (Selesai)

Yeris Meka
Alumni SMU Negeri 1 Bajawa dan School of Alam Raya, sekarang tinggal di Kupang.

0 Komentar:

Post a Comment