Om Rafael Menangis di Kandang Babi Setelah Mendapat Ancaman

Om Rafael menangis di kandang babi. Dia mendapat ancaman serius. Berawal dari seekor babi miliknya terlepas dan mengobrak-abrik kebun ubi tetangga. Kebun ubi itu sedang begitu cantik wajahnya karena hujan yang sesekali mengguyur di bulan Juni.
om rafael menangis di kandang babi setelah mendapat ancaman
Ekspresi ketika mendapat ancaman *smile | Foto: Dok. RanaLino.ID

Om Rafael Menangis di Kandang Babi Setelah Mendapat Ancaman


Ah, hujan bulan Juni. Saya tiba-tiba ingat puisi Sapardi Djoko Damono ketika menulis ini. Tetapi hujan bulan Juni memang paling tabah. Bagaimana tidak? Dia tetap datang dengan tulus ketika ribuan orang menggerutu dan menganggapnya salah waktu.

Mungkin karena itulah SDD menulis puisi sejuta umat itu. Karena ketabahan hujan. Tetapi Om Rafael bukan tipe orang yang tabah. Ketika mendapat ancaman, dia menangis tersedu-sedu memegang batang-batang bambu yang terlepas dari kandang babinya.

Saya mampir ketika itu. Beberapa hari setelah ulang tahun saya. Mendapati tokoh kita ini menangis, saya hendak tertawa. Saya pernah melihat ada tattoo jangkar di bahu Om Rafael dan bagi seorang anak kecil yang takut jarum, melihat seseorang dengan tattoo di badannya sedang menangis adalah pemandangan yang lucu.

Kelak setelah besar saya mengerti bahwa tattoo tidak berhubungan dengan perasaan. Setiap orang bisa menangis; apakah itu Om Rafael dengan tattoo jangkar atau Om Jonathan dengan tattoo Dewa 19 atau Om Geradus dengan tattoo salib.

Hari itu saya tidak jadi tertawa karena takut Om Rafael marah. Saya lalu pura-pura bersedih. Menanyakan padanya alasan dia menangis. Dengan terbata dia bercerita. "Saya dapat anggapan, Nana," tuturnya sambil membersihkan ingus bening dengan lengan kanannya.

Om Rafael dianggap sebagai salah seorang tokoh penting di kampung kami. Maka saya bilang bahwa asal anggapan itu positif dia tidak perlu bersedih.

Baca juga: Menjadi Blogger Tidak Akan Buat Seseorang Mendadak Keren Bagian Pertama

"Om dianggap sebagai apa? Tokoh masyarakat?" Tanya saya.
"Bukan, Nana. Saya dianggap akan dibunuh kalau tidak ganti rugi," jawabnya dengan muka ngeri.
"APA? ITU ANCAMAN, OM. BUKAN ANGGAPAN. HARUS DITANGGAPI SERIUS!"
"Memang ancaman ka. Tadi saya bilang apa?"
"Om bilang: anggapan!"
"Itu salah, Nana. Bukan anggapan. Tapi ancaman. An-ca-man," jelasnya sembari mengeja.

Saya sejenak bingung: apakah saya telah salah dengar? Beruntung saya segera sadar bahwa Om Rafael kadang salah kata. Maka dialog berlanjut dengan kisah yang lebih lengkap tentang alasan Om Rafael menangis.

Om Rafael diancam akan dibunuh jika tidak segera mengganti kerugian yang disebabkan oleh babinya yang terlepas. Satu pohon ubi harus diganti dengan tiga ratus tujuh puluh sembilan ribu rupiah. Total ubi yang hilang adalah 47 pohon. Kalikan sendiri hasilnya.

Saya terpana. Uang sebesar itu jika dipakai membeli cup-cup atau kuping gajah atau sebombon lidi pasti bisa memborong semua jajanan di kios Ako Siong. Bila perlu yang sedang Ako Siong pesan juga saya beli semua.

"Lalu penyelesaiannya bagaimana, Om?" Saya penasaran tentang kemungkinan Om Rafael dibunuh atau Om Rafael mendadak bangkrut.
"Saya mau nego, Nana," jawabnya.
"Nego itu apa, Om? Bau badan?"
"Bukan e. Itu nepo. Nego itu nama kau punya Mama punya kampung e," jawabnya.
"Itu REGO, OM! REGO. Nego itu apaan sih?"

Om Rafael tertawa mendengar saya bilang apaan sih dan menganggap itu lucu karena saya berusaha meniru cara bicara Bruce Lee di televisi. WHAT?

Kemudian dia jelaskan bahwa nego adalah usaha menyelesaikan ancaman dengan menawarkan sesuatu yang lebih baik. Bahwa kata nego itu berasal dari kata menego-nego. Saya mengangguk-angguk mengerti.

Saya lupa bagaimana persisnya Om Rafael melakukan menego-nego ketika itu, tetapi pasti dia berhasil karena tidak jadi dibunuh. Yang dibunuh adalah babinya yang nakal itu. Menego-nego itu pasti ada hubungannya dengan dikorbankannya seekor babi.

Sekarang saya mengerti bahwa nego tidak berasal dari menego-nego tetapi dari negosiasi dan bukan negoisasi. Lalu terjadilah sebuah peristiwa besar yang melibatkan ancaman di dalamnya. Saya ceritakan peristiwa itu pada Om Rafael melalui BBM.

Salah satu pesan yang saya kirim adalah tentang kekhawatiran saya bahwa ancaman itu akan berujung negosiasi dan mengorbankan cukup banyak pihak, bisa babi, bisa jadi manusia.

"Saya khawatir ini akan berujung negosiasi," tulis saya ke Om Rafael. Lalu ada PING. Dari Om Rafael. Dia baru saja punya HP bagus dan bisa BBM-an. Setiap ingin membalas pesan, dia PING terlebih dahulu. Lalu muncul pesannya: "Nasi memang penting untuk kesehatan."

Saya ingin marah tapi ada PING lagi sebelum pesan baru: "Itu!" Lalu PING. Lalu: "Maaf. Saya baru baca ulang ternyata Nana tulis negosiasi. Kalau benar, kita perlu khawatir." PING. "Sekarang musim hujan. Jangan negosiasi dulu. Akar kayu cepat busuk kalau terus-terusan hujan." PING.

"OM RAFAEL! ITU REBOISASI! DAN TOLONG JANGAN PING TERUSSSSS!" Lalu muncul pesan baru, diawali kata "PONG". Om Rafael bilang, "Nana punya HP atau saya punya yang rusak? Kenapa pesan terakhir huruf besar semua?" PONG.

Saya tidak membalas pesan itu. Malas. Sampai muncul pesan baru. Diawali "PUNG". "Kalau ini pesan Nana tidak balas, suatu saat akan terungkap alasannya. Negosiasi adalah perayaan setelah seorang pemain mencetak gol. Dia lari keliling lapangan, melakukan negoisasi kepada penonton. Itu. PANG."

Saya memutuskan menelepon dan bilang bahwa saya sedih dengan chat kami yang aneh. Om Rafael bilang, "Sudah, sudah... jangan negosiasi."

Saya segera mencari kandang babi tetangga di dekat rumah, memegang batang-batang bambu di sana, dan menangis. Hujan bulan Juni mengguyur kepala dan kumisku yang indah. Di bawah guyuran hujan saya percaya bahwa dalam negosiasi selalu ada yang rugi; mungkin bukan pihak yang terlibat dalam menego-nego itu.

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

0 Komentar:

Post a Comment