Paskah di Ruteng, Seorang Perempuan Memakai Gincu yang Lembut

Paskah di Ruteng adalah beberapa kisah yang tak akan hilang dari ingatan. Dari purnama yang hadir pada malam Kamis Putih, hingga seorang perempuan dan gincu yang lembut di bibirnya.
paskah di ruteng seorang perempuan memakai gincu yang lembut
Foto: Frans Joseph, Ruteng Manggarai

Paskah di Ruteng, Seorang Perempuan Memakai Gincu yang Lembut


Kamis Putih, Kenangan dan Purnama


Pada Misa Kamis Putih di Gereja Katedral Ruteng, saya duduk di sayap barat setelah berhasil berangkat lebih cepat dari biasanya. Di kota ini, perayaan-perayaan besar di gereja berarti kau harus ke sana minimal satu jam sebelum jadwal perayaan dimulai. Kurang dari satu jam berarti tempat dudukmu ada di bawah tenda yang dibangun di samping gereja dan 'menikmati' misa dari layar proyektor yang disiapkan Kaka Ited, dkk.

Beberapa hari sebelum Kamis Putih, seorang perempuan datang dari Matraman, Jakarta. Di kota seribu gereja ini dia tak punya teman yang bisa menemaninya keliling kota. Saya bersedia, dia cantik.
Kami keliling kota, berkunjung ke rumah kenalannya, suatu malam menembus dingin berdua dengan sepeda motor butut saya di bawah bulan yang penuh. Usai mengantarnya berkeliling malam itu, saya mengiriminya pesan singkat, sebuah puisi, tentang bulan yang penuh dan seluruhku yang gembira karena peristiwa itu.
Usai Misa Kamis Putih, sebelum tidur, perempuan itu mengirimkan sebuah pesan singkat. Itu sesungguhnya pesan balasan atas pertanyaan saya, "Tadi Misa ke berapa?" Dalam pesan singkat itu dia bilang bahwa dia melihat saya saat komuni. Dia juga bilang sesuatu tentang saya tampak bercahaya.

Baca juga: Dongeng Brothers Grimm - Tujuh Burung Gagak

Saya menduga itu terjadi karena baju saya berwarna putih dan di deretan kami, teman-teman saya memakai baju-baju berwarna gelap. Saya membalas sms itu dengan he-he-he dan mengucapkan selamat malam, juga menyampaikan harapan agar dia bermimpi indah.

Pada malam Kamis Putih tahun itu ada purnama yang sempurna. Itu kenangan paling menyenangkan tentang Ruteng dan peristiwa mengenang hari lahir ekaristi.

Purnama juga bulat sempurna pada malam Kamis Putih setahun kemudian. Ketika itu, saya dan perempuan itu menjadi petugas liturgi. Dia lektor dan saya adalah salah seorang rasul yang dibasuh kakinya. Saya pakai kaus kaki baru ketika itu, sedangkan dia memakai wajahnya yang paling cantik tanpa riasan berlebih, dan gincu yang lembut di bibirnya.

Jumat Agung, Kisah Sengsara


Rana tahu bahwa tahun ini kami kembali mementaskan tablo Kisah Sengsara Yesus. Setahun silam dia ikut melihat penampilan kakak-kakak dan om-tantanya, anggota OMK Lumen Gratiae Katedral Ruteng ketika memainkan kisah agung ini. Dia ingin lihat lagi.

Maka semalam dia tidur lebih cepat supaya bisa bangun pagi karena saya bilang bahwa Om Enno (Vinsensius Juna), dkk akan pentas pagi hari. Tetapi sebelum benar-benar tidur, Rana bilang, "Kalau saya tidak bisa ikut nonton tablo, tidak apa-apa e, Bapa e." Saya bilang tentu saja itu tidak apa-apa, dan besok pagi kita akan tahu Rana bisa ikut atau tidak.

Pagi tadi beberapa hal membuat Rana akhirnya tidak ikut saya ke Lapangan Motang Rua Ruteng. Dia memutuskan tinggal di rumah, menemani Lino adiknya, dan Mamanya--perempuan dari Kamis Putih beberapa tahun silam.

Saya pamit dan Rana seperti biasa menyampaikan harapannya agar pentas kami berjalan sukses. Lalu kami bermain. Bukan kami. Para pemeran tablo Kisah Sengsara Yesus bermain baik. Saya yang mereka sebut sutradara merasa sangat senang.

Baca juga: Ajak Anak-anak Membaca Agar Mereka Tidak Radikal

Saya pulang ke rumah setelah seluruh kegiatan ini beres. Rana menanti cerita.
"Bagaimana tadi tablonya, Bapa? Sukses?"
"Iya, Nak. Semua main bagus."
"Ada yang menangis?"
"Oh, rasanya ada, Nak. Bapa kurang perhatikan karena jauh dari umat."
"Bukan. Maksud saya, karakter. Ada karakter yang menangis?"
"Oh, itu. Yang menangis itu ya Bunda Maria, Veronika, dan beberapa lagi. Seperti tahun lalu. Bapa juga menangis tadi."
Rana tersenyum, menghampiri saya, memeluk, dan mencium.

Saya tentu sedikit kaget mendengar pertanyaan tentang karakter yang menangis. Mungkin Rana ingat ketika tahun lalu beberapa karakter yang tidak seharusnya menangis, malah bengkak matanya di akhir pentas, seperti Om Nathan Dalo, sang prajurit setahun silam yang tahun ini bergerak di bagian perlengkapan, properti, driver, dan pelancar.

Saya tidak cerita bahwa tahun ini beberapa pemain juga menangis meski seharusnya mereka tidak boleh menangis, seperti Om Ferdinandus Sampur sang prajurit yang dengan cepat beralih peran menjadi Yusuf dari Arimatea. Bahkan Enno si "Yesus" juga menangis, juga beberapa yang lain.

Mengapa tidak saya ceritakan itu pada Rana? Saya khawatir dia akan menganggap Bapanya ini seorang yang hebat karena berhasil membuat pemain-pemain melampaui naskah; sementara saya sendiri tidak pernah campur tangan pada bagian nangis-menangis itu ketika latihan.

Air mata mereka jatuh begitu saja, tidak ada latihan untuk sesi air mata tumpah itu. Datang begitu saja. Semoga karena kisah sengsara itu begitu sedih dan mereka menghayatinya, tidak hanya untuk hari ini, tetapi sebagai alarm pinggir pada hari-hari selanjutnya.

Bahwa sekian banyak orang memanggil saya sutradara, dalam hati saya selalu bilang, "Saya sutradara pembantu. Yang atur ini semua adalah itu BapaTua di Atas!" Toh, ini adalah Dia pu cerita sendiri. Kita mah, siapa?

Sabtu Suci, Pujian


Selalu menyenangkan membaharui janji baptis. Saya kadang melihat beberapa teman terlihat ragu menjawab beberapa pertanyaan. Saya tentu saja juga kerap tak lantang menjawab pertanyaan tentang kesanggupan menolak godaan-godaan hiburan yang tidak sehat, tetapi menjawab juga. Tuhan pengampun, berjanji dahulu, berusaha kemudian, ketika terpeleset Tuhan pasti bantu. Maka: YA, KAMI SANGGUP!

Sudah dua kali Sabtu Suci perempuan itu bilang bahwa dia bangga karena saya menemani OMK Lumen Gratiae Katedral Ruteng dalam tablo Kisah Sengsara Yesus. Saya selalu kesulitan bereaksi pada pujian. Ada niat menjawab terima kasih atau sedikit membusungkan dada, tetapi di depan perempuan itu saya hanya bisa tertawa he-he-he.
Tanpa dia yang rela, bagaimana saya dapat menghabiskan banyak waktu di luar rumah dan berlatih bersama seluruh pemeran sampai larut malam?
Tahun ini kami pulang sebelum membaharui janji baptis. Lino adalah anak lelaki kecil yang sedang gemar bermain dan melihat pelataran Katedral Ruteng yang luas itu sebagai 'istana apa saja'. Dia berseru-seru dengan suara nyaring di dalam gereja. Saya tak ingin yang datang dan menyalakan lilin pada upacara cahaya menjadi terganggu.

Tiba di luar gereja, gerimis datang, tak berhenti. Lino tetap ingin berlari-lari di pelataran. Perempuan itu tak ingin anak lelakinya sakit bermain di rumput yang sedang dikecup gerimis. "Kita pulang e, Pa," kata perempuan itu pada saya. Saya setuju. Menyampaikan itu pada Rana. Dia juga setuju. Syukurlah.

Karena jika tidak maka ini yang akan terjadi: Lino ingin bermain di pelataran, kami melarang, Lino berteriak semakin nyaring, banyak yang terganggu, semua mendadak merasa Sabtu Cahaya itu menjadi muram.

Minggu Paskah, Celestin


Perempuan itu mendandani anak perempuannya menjadi sangat cantik, anak lelakinya menjadi sangat ganteng, dan sempat bertanya pada saya apakah baju misa saya telah siap. Setelah melakukan semua itu, barulah dia menyiapkan diri, menyapu wajahnya dengan bedak, bibirnya dengan gincu yang lembut, dan hatinya dengan cinta yang sama. Kami ke Gereja bereempat tahun ini. Di Minggu Paskah. Kita pemenang!
Nama perempuan itu: Celestin. Dia menyanyi.


Salam
Armin Bell
Ruteng, Manggarai, Flores

2 comments:

  1. Saya harus bilang WOW setelah kalimat penutup yg singkat nan tegas tu...10 tips pedekate sukses dieksekusi dg sempurna...sdh sangat terlambat utk mengucapkan selamat paskah... selamat menulis aja deh!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha... makanya saya berani tulis itu tips *rotfl

      Delete