Tentang Cobaan Iblis yang Pertama, Renungan Tobat RD Lian Angkur

Di masa Prapaskah ini, RanaLino.ID menambah satu kategori baru yang Gereja. Kolom ini ada di menu Jurnal, dan berisi dokumen, catatan, dan renungan yang disiapkan bagi kita semua yang membutuhkannya. Masih dalam hubungannya dengan Prapaskah, kolom ini menghadirkan renungan tobat. Selamat menikmati!
tentang cobaan iblis yang pertama renungan tobat rd lian angkur
RD Lian Angkur di Katedral Ruteng | Foto: Frans Joseph

Tentang Cobaan Iblis yang Pertama


Renungan Tobat oleh: RD Lian Angkur

Teman-teman seiman yang terkasih,

Kita sedang menjalani masa prapaska, masa tobat. Berdosa, pada umumnya berawal dari cobaan/godaan iblis. Jika kita kuat, pasti menang. Tapi, jika lemah, kita pasti kalah. Tuhan Yesus juga alami yang sama. Tapi, Yesus keluar sebagai pemenang. Kita ikuti kisahnya dalam Mat. 4: 1-11. Sekali lagi, Yesus menang atas tiga bentuk cobaan-serangan iblis di padang gurun.

MengapaYesus berhasil bahkan menang telak (3-0) atas iblis?

Yesus menang karena Ia sudah menjalankan puasa secara benar, serius, dan ketat. Ia bergerak ke padang gurun untuk menyendiri. Di sana Ia bergumul dengan diri sendiri, berdoa-berkomunikasi dengan BapaNya. Ia membiarkan diriNya dipenuhi-diselimuti oleh Roh Allah dan SabdaNya. Itu berbuah pada terbentuknya hati dan pikiran yang jernih dan suci serta sikap yang bijaksana dan tegas, yang menjadi kekuatan-senjata ampuh bagi Yesus untuk menangkal-melawan godaan iblis.

Ini hal pertama yang mesti selalu kita pelajari dari Yesus, yakni berusaha menjalankan puasa secara serius; mengambil waktu ke “padang gurun”, berarti sejenak menepi-keluar dari kesibukan, untuk berpuasa, berdoa, dan merenungkan sabda Tuhan sehingga terbentuklah hati dan pikiran yang jernih serta sikap yang tegas sekaligus bijaksana.
Karena Roh Allah berdiam di dalam diri kita, pada gilirannya kita mampu melawan-menangkal setiap cobaan/godaan iblis.
Sekali lagi, buah atau manfaat puasa yang dijalankan Yesus, tampak nyata dalam cara Yesus menanggapi-menyikapi setiap cobaan iblis; yang berkaitan dengan makanan/urusan perut, kesenangan/kenikmatan, dan kedudukan/kekuasaan.

Memang bagi Yesus, sama seperti manusia pada umumnya, makanan, kesenangan/kenikmatan/hiburan, dan kekuasaan-kedudukan itu, baik adanya. Semua orang butuh makan dan kesenangan. Tetapi, yang dipersoalkan Yesus adalah cara untuk memperoleh semuanya itu. Sekali lagi, Yesus mempersoalkan cara.

Dengan demikian, kisah Injil ini tidak hanya berbicara tentang resep keberhasilan-kemenangan Yesus atas cobaan Iblis,tetapi lebih jauh, bahwa melalui sikap/tanggapan Yesus terhadap cobaan itu, sesungguhnya Ia sedang mendidik, mengajar, dan menyampaikan pesan penting bagi para pengikutNya, termasuk bagi kita saat ini.

Saya mengajak kita untuk fokus pada sikap/tanggapan Yesus terhadap cobaan Iblis yang pertama. Saat Yesus lapar, Ia digoda untuk mengubah batu jadi roti. Yesus menolak itu dengan mengutip Firman, “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap Firman yang keluar dari mulut Allah.” 

Ada dua pesan penting di sini.

Pertama, bagi Yesus, mengubah batu jadi roti untuk mengatasi rasa lapar itu tidak sulit. Sebagai Anak Allah, Ia punya kuasa untuk itu. Tetapi, itu cara yang tidak tepat dan tidak mendidik; terlampau instan, sifatnya cari gampang, jalan pintas.

Baca juga: Yubileum, Presiden SBY, dan Celana Goni

Dengan menolak cobaan itu, Yesus mau katakan, bahwa untuk atasi rasa lapar, orang harus bekerja keras cari makan, berjuang, memikul salib. Demi sesuap nasi, orang harus dempul wuku tela toni-lait pait detak nggera-dulu.
Yesus tidak menghendaki para pengikutNya mengenyangkan perut dengan cara instan dan pakai jalan pintas, semisal hanya meminta-minta, hingga yang paling parah, dengan mencuri, korupsi, memeras, berbohong, termasuk dengan berjudi tentunya. 
Prinsip kerja keras ini tentu berlaku juga dalam konteks lain, misalnya: untuk seorang anak sekolah, agar memperoleh nilai bagus dan lulus dalam ujian, ia harus belajar keras, bukan dengan jalan pintas, semisal menyontek. Atau, dalam konteks jabatan/kedudukan, dan kuasa, seseorang diharapkan untuk memperoleh semuanya ini dengan bekerja keras-berprestasi-dan kinerja yang baik, bukan diperoleh dengan cara yang tidak jujur, manipulasi, atau faktor X.

Segala cara instan-jalan pintas-apalagi yang bernuansa curang, jelas datangnya dari iblis. Ini cobaan yang harus kita lawan. Seorang pengikut Kristus sejati adalah seorang petarung-pekerja keras; yang menggunakan akal/pikiran dan kaki tangan yang diciptakan-diberikan Tuhan, untuk berpikir dan bekerja.

Kedua, Yesus tegaskan, “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap Firman yang keluar dari mulut Allah.” Pesan atau ajakan Yesus jelas. Makanan untuk perut itu penting, agar orang bisa hidup. Tapi, bukan satu-satunya. Seseorang tidak boleh melupakan-mengabaikan “makanan” untuk jiwa/hati; santapan rohani. Jangan sampai, perut kita kenyang, tapi hati-jiwa kita lapar-gersang.

Di sanalah peran Sabda Allah begitu penting, sebagai salah satu makanan favorit dan sangat bergizi bagi jiwa kita. Kita perlu selalu menyantap Sabda Allah, yang bermanfaat untuk menyehatkan hati-jiwa, membentuk sikap-perilaku, dan mengarahkan hidup ke jalan yang benar; “FirmanMu adalah pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku”, kata Pemazmur.

Ajakan Yesus tentang pentingnya menyantap Sabda Allah ini, sangatlah relevan-tepat ketika sekarang kita--umat keuskupan Ruteng khususnya, menjalani puasa pada tahun pewartaan; saat bagi kita untuk lebih banyak bergaul dengan Kitab Suci dan menjadikannya sebagai buku kehidupan. Karena itu, harapannya, tangan kita lebih banyak memegang Kitab Suci, dari pada barang lain, semisal HP atau sejenisnya.

Akhirnya, mari kita mengisi masa puasa ini dengan tekun berdoa dan lebih banyak membaca dan merenungkan Sabda Tuhan-di rumah, di sekolah, dan di tempat kerja, serta berbondong-bondong-berusaha terlibat aktif dalam katekese/syering iman di kelompok (KBG). Yakinlah, jika kita tekun berpuasa, berdoa, dan semakin akrab dengan Sabda Allah, cobaan Iblis, apa pun bentuknya,tidak dengan begitu mudah menyeret-merasuki, dan menjatuhkan kita. (*)


RD Lian Angkur | 
Pastor Kapelan di Paroki Katedral Ruteng, Manggarai.

0 Komentar:

Post a Comment