Skenario Alternatif untuk Film AADC 2 Remake

Film AADC 2 akan di-remake. Judulnya adalah AADC 2 Remake. Selain karena versi original film tersebut gagal menuai pujian, alasan lainnya adalah ketika Reza Rahardian sudah terlalu mainstream--ada di semua film, Nicolas Saputra harus muncul lagi. 
skenario alternatif untuk aadc 2 remake
Siap diaudisi untuk AADC 2 Remake *lol | Dok. RanaLino.ID

Skenario Alternatif untuk Film AADC 2 Remake


Alasan di atas tentu saja untuk menyembunyikan alasan sesungguhnya; saya kangen Dian Sastro dan berharap dia mendapat naskah yang lebih baik dari film Ada Apa Dengan Cinta, AADC, dan tentu saja jauuuuuh di atas AADC 2. Itu! Dian Sastro berhak mendapatkannya setelah AADC 2 yang begitu menyedihkan.

Bukan hanya karena Ladya Cheryl tidak ada di layar, tetapi karena skenario itu seperti diciptakan di antara kesibukan penulis bermain kartu, atau bermain petak umpet--membuat Dian Sastro tampak menyedihkan.

Please, Dude. Itu Dian Sastro lho, Dian Sastro yang bikin semua lelaki pada masa AADC serentak melepas panjang rambut mereka dan belajar menulis puisi atau paling tidak membayangkan dirinya adalah Anda Bunga yang mengiring pembacaan puisi Dian di cafe. Ko mati ka tida?

Anyway, she deserves a better scenario after all her dedications to Indonesian screenplay; Dian invited more crowds to love this national creative industry just by her kisses at the airport. Nah, loe. Dan kau kasi dia itu naskah AADC 2 yang mengerikan itu? Tir tau trima kasi skali e aeh. Karena itulah, menurut saya film AADC 2 ini akan di-remake.

Saya membayangkan bahwa produser film tersebut memiliki kesadaran yang sama dengan saya dan karenanya saya menulis ini. Sebuah tawaran skenario alternatif untuk AADC 2 Remake. yang semoga bisa jadi dari sekian banyak alternatif yang ada di setiap kepala penggemar AADC garis keras. Mengapa ini saya lakukan? 

Jawabannya jelas. Saya penggemar Ada Apa Dengan Cinta a.k.a AADC garis keras yang sekarang tinggal di Ruteng, kota kecil dengan 1000 gereja, kota dingin, kota dengan musim terpanjang sepanjang tahun adalah hujan dan kenangan cie cieee. Dan, I have a 'what the hell' feeling after watched AADC 2 which is look like sinteron kejar tayang.

Baca juga: Kumcer Iksaka Banu "Semua untuk Hindia", Sebuah Tanggapan Pembaca

Begini ceritanya. Meski selama ini berbagai ulasan yang saya baca setelah AADC 2 premier menyiratkan kesan tak bagus tentang film yang ditunggu puluhan purnama itu, saya tetap toh nekat nonton AADC 2. Alasannya, ya, itu tadi. 

Saya penggemar garis keras yang beberapa tahun lalu rela mengantri di lantai 1 Malang Plaza hanya agar bisa sampai ke lantai 3 beberapa jam kemudian untuk menonton Ada Apa Dengan Cinta. I was single that time dan mengantri tanpa malu-malu selama beberapa jam, terjepit di antara pasangan-pasangan yang mesra saling memeluk. Masih anggap itu kurang garis keras? Dua hari kemudian saya antri lagi. Di tempat lain. Di Dieng Plasa. Still single, in a similar situation, dan tetap percaya diri.
Masih berani anggap saya bukan penggemar garis keras AADC? Lihat fakta ini: SA LEPAS SAP RAMBUT GONDRONG SETELAH NONTON AADC! Meski hasil akhirnya saya menjadi lebih mirip Ahmad Albar daripada Nicolas Saputra, tetapi itu namanya dedikasi, Bro. Dan dedikasi sedemikan hanya bisa dilakukan oleh PARA PENGEMAR GARIS KERAS MATI PUNYA.
Ketika tahu bahwa AADC 2 mulai diproduksi, hati saya berbunga-bunga, Oh, Dian Sastro. Ketika film itu mulai tayang, saya siburibuk cari informasi tentang kapan film itu berhasil didownload oleh para maniak film di kota Ruteng dan siap disebarluaskan. Ruteng kota kecil di kaki deret pegunungan Mandosawu, tak punya bioskop, dan film hasil unduhan adalah kemestian.

Baca juga: Cafe - Sebuah Cerpen Kolaborasi

Sekali lagi saya abaikan fakta bahwa beberapa teman telah mengulas film itu dengan nada yang miring, saya tidak peduli apakah puisi-puisi Aan Mansyur tidak fit in dengan film itu, saya tetap nonton AADC 2. Sebuah dedikasi sekaligus penghormatan yang dalam dari seorang penggemar garis keras.

Dan saya nonton. Bersama istri dan anak perempuan kami Rana. Film itu tampak begitu menyedihkan. Oh, Miles, apa yang sedang kalian lakukan? Saya kecewa. Film itu begitu datar, agak tak jelas.

Di zaman serba surel begini, haruskah seorang saudari tiri ada di film ini untuk menjemput Rangga ke New York untuk Ibunya? Maksud saya, apa iya alasan paling masuk akal agar Rangga pulang ke Indonesia adalah karena saudari tirinya menjemput? Tugas saudari tiri itu lalu dimatikan begitu saja setelahnya. Aduh! 

Tidak cukupkah alasan lain seperti karena Rangga kangen Indonesia lalu dia pulang? Atau misalnya dia pulang dan mau ikut Pemilu? By the way, tentang Pemilu, berani-beraninya Rangga dan Cinta membicarakan itu di sebuah candi. Obrolan macam mana itu? Garingnya minta ampun dan betapa bodoh. Untuk apa?

Sebagai penggemar garis keras saya harus melakukan sesuatu dan saya memutuskan kegiatan tersebut adalah berpikir tentang tawaran skenario alternatif yang akan ada di AADC 2 Remake, yakni: ketika tahu bahwa Rangga sudah di bandara hendak ke New York, Cinta kelimpungan minta ampun. Dia langsung mengambil mobilnya, memacunya ke bandara, lalu mengalami kecelakaan yang luar biasa (adegan ini sudah ada di film AADC 2). 

Di AADC 2 Remake, kecelakaan itu membuat Cinta mengalami gegar otak lalu hilang ingatan tetapi tetap bisa mengemudikan kendaraannya--tanpa sadar mobilnya tiba di Priok. Di pelabuhan itu dia bertanya: "Gue di mana?" Ternyata dia tidak hanya hilang ingatan, Cinta juga kehilangan kemampuan membaca papan nama pelabuhan akibat kecelakaan itu.

Singkat cerita, akhirnya dirawat di New York. Rangga setia menjaganya dengan rasa cinta yang masih sama. Setiap pagi dia menayangkan video tentang kisah cinta mereka sejak awal. Cinta lalu jatuh cinta, lalu lupa lagi.
Ya-ya-ya, saya tahu ini seperti 51st Date dan The Notebook digabung. Tidak apa-apa. Meniru sedikit tidak apa-apa. Tidak akan yang marah tanpa alasan. Bandingkan dengan Cinta yang marah-marah dengan keji pada Carmen untuk alasan yang begitu remeh di AADC 2.
Pada AADC 2 Remake, adegan kemarahan Cinta itu akan dihapus atau diganti dengan adegan Revaldo yang memerankan Rangga dari AADC TV Series tiba-tiba muncul di tempat lalu bertanya di mana Ririn Dwi Aryanti. Serentak Cinta and the genk tertawa dan menjelaskan kalau sekarang mereka ada di film dan bukan di serial televisi. Revaldo kebingungan lalu pulang dan terdengar suara hatinya membicarakan harapan semoga AADC TV Series akan dibuat lagi. 

Ya, naskah skenario AADC 2 Remake haruslah serumit itu. A complicated movie ever! Itu lebih baik daripada membiarkan AADC 2 dibaca dalam versi Inggris, e-e di situ.

Tetapi bagaimana pun, tetap ada yang manis di film AADC 2. Yang manis itu adalah adegan pertunjukan boneka kayu. Seluruh skenario di pertunjukan boneka kayu dalam film itu begitu bagus. Lebih bagus dari skenario AADC 2. Tetapi ini sih soal selera. Hanya saja saya telah percaya bahwa selera saya adalah yang terbaik untuk saya sendiri.  Itu soalnya. 

Maka setelah menyaksikan AADC 2, saya berharap akan ada AADC 3. Isinya adalah permintaan maaf mereka semua atas tak eloknya AADC 2. Bukankah tak elok ketika tak ada Ladya Cheryl di film itu? Bukan hanya tak ada karena sedang kuliah di Eropa misalnya, karakter Alya dibunuh di AADC 2.

Itu kejam. Sudah kejam, tidak keren pula. Bandingkan dengan Hanibal Lecter yang dimainkan Anthony Hopkins. Kejam tapi keren, iya to? Tetapi sebelum mereka membuat AADC 3, mereka harus mempertimbangkan usulan saya ini: membuat AADC 2 Remake.

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

0 Komentar:

Post a Comment