Om Rafael Melarang Orang Bernafsu Memimpin

Om Rafael bisa melakukan apa saja. Ya, apa saja yang dia mau. Sekali waktu dia mengingatkan saya untuk tidak terlampau bernafsu mencetak gol, kali ini dia tertawa atas nasib Dar, teman saya yang berambisi memimpin tetapi lalu mencium tahi kuda. 
om rafael melarang orang bernafsu memimpin
Caci di Ruteng, Manggarai. Dilarang bernafsu, dilarang ambisi | Foto: Armin Bell

Om Rafael Melarang Orang Bernafsu Memimpin


Pada suatu musim semua orang sepakat bahwa Dar adalah pemburu paling hebat di lapangan sepak bola di Pateng. Dengan tongkat ghaju sinsuh di tangan, Dar paling gesit berlari mengejar belalang. Satu, dua, tiga, sampai limabelas bahkan lebih belalang, gugur di ujung senjatanya. Dar paling jago dan punya cara sendiri dalam memburu belalang. Semua anak mengikuti caranya tetapi tak ada yang mampu menyaingi pesona Dar.

Jika harus dibandingkan, barangkali Dar pada masa itu adalah Ray Charles dan lagu Georgia on My Mind, begitu kuat berhubungan dan begitu penuh pesona, sedangkan kami yang berusaha mengikutinya cara Dar memburu belalang akhirnya tampak seperti Usher, Michael Buble, Jammie Fox, Alicia Keys; tetap ada di belakang meski berusaha tampil lebih segar dengan aransemen ulang.

Dar sehebat itu sampai suatu ketika dia jatuh oleh nafsunya sendiri. Telah ada sembilan belas belalang di saku celana. Butuh satu lagi agar jumlahnya menjadi dua puluh. Dar berlari lurus. Dengan kecepatan maksimal. Tak sempat melihat patok kecil tempat kuda Om Rafael biasa diikat.

Terantuklah Dar di patok itu, jatuh dengan posisi akhir kepala terbenam di kotoran kuda yang setengah basah. Dar menangis sampai matanya bengkak. Kantung mata menebal, penonton tertawa, menuduhnya bebal, dan tokoh utama cerita di lapangan itu lantas berganti. 

Om Rafael mengambil alih pentas, pamer pesona memberi komentar atas kejadian yang menimpa Dar, penonton bertepuk tangan dan hanya bisa bilang kingai-ngeri-bon.

Menurut Om Rafael, Dar terlampau black sweet. Saat saya tanya apa maksud pernyataan itu, Om Rafael langsung bilang itu perumpamaan. "Sikapnya seperti nama grup vokal dari Batak itu ka, Nana," katanya. Saya menebak grup vokal yang Om Rafael sebut itu adalah Trio Ambisi dan bukan Black Sweet. Dar terlampau berambisi, begitu kira-kira maksud Om Rafael.

"Apa salahnya berambisi?"
"Tidak ada. Kecuali bahwa umumnya mereka yang terlampau sweet tadi suka tabrak sembarang, semberono, jatuh, menangis, kantong mata menebal," jelas Om Rafael menjawab pertanyaan saya.
"Tapi, Om, Black Sweet itu dari Irian," saya memerbaiki konteks percakapan kami.
"Terus itu grup vokal yang dari Batak?"
"Trio Ambisi, Om."
"Aduh. Minta maaf. Itu maksudnya. Tapi kita semua sama-sama orang-orang Indonesia, to?"
Saya mengangguk dan Om Rafael melanjutkan penjelasan tentang bahaya grup vokal #eh maksudnya sikap trio ambisi, upss, maksud saya ambisi yang berlebihan, yakni: mata buta, telinga tersumbat, otak tidak bekerja, hantam sana-sini, jatuh di lapangan sendiri, kantung mata menebal karena menangis dan curhat.
Tentang mengapa Dar begitu ambisius tidak ada yang tahu. Om Rafael hanya menebak bahwa Dar tak ingin kehilangan pengaruh.

Baca juga: Lima Puisi Pohon

Saat itu ada murid pindahan yang hampir menjadi idola baru. Ketika Dar berencana mengejar belalang keduapuluh, si murid baru sedang memungut belalang ke duapuluh satu dan penonton bersorak-sorai. 

Riuh kami itulah yang mengganggu Dar, membuatnya berlari tanpa melihat patok tali kuda tadi. Dia jatuh. Om Rafael datang. Tidak menolong, tertawa sepuasnya sebelum menuduh Dar terlampau black sweet. Saya tidak suka pada sikap Om Rafael tetapi ikut tertawa.

"Bagaimana kau tidak tertawa melihat mantan raja pertama di lapangan ini menangis hingga kantong matanya tegas?"
"Tebal, Om."
"Ya, itu sudah. Tebas."
"El, Om. El. Bukan es."
"Ya, ya, ya. Tambal."

Saya hampir saja memutuskan untuk makan rumput kalau dialog kami tak segera selesai dan Om Rafael tetap mengulang-ulang salah kata. Untunglah dia segera pamit. Sebelum pulang dia meminta kami mendengar satu lagu favoritnya dari album Trio Ambisi. Yang terdengar adalah lagu "Pesona Herawati". Satu lapangan protes dan berteriak: "ITU LAGU BLACK SWEET, OOOOM!" Om Rafael tertawa terkekeh-kekeh. Berjalan ke sudut lapangan, ke tempat Dar sedang menangis sambil menulis puisi.

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

#OmRafael #MendadakSerius #KantungMata

0 Komentar:

Post a Comment