Gerson Poyk, dari Nostalgia Nusa Tenggara ke Mimpi tentang Desa Budaya

Begitu kalimat pertama terekam, mengalirlah ribuan kalimat lain yang melukiskan tata kehidupan ini. Demikian Gerson Poyk bercerita tentang proses kreatifnya; bagaimana tokoh sastra asal NTT itu melahirkan karya-karyanya.
gerson poyk dari nostalgia nusa tenggara ke mimpi tentang desa budaya
Novel Meredam Dendam karya Gerson Poyk | Foto: Armin Bell

Gerson Poyk, dari Nostalgia Nusa Tenggara ke Mimpi tentang Desa Budaya


Saya sedang membangun ranalino.id yang di dalamnya terdapat menu khusus yang membahas tentang profil tokoh-tokoh inspiratif yang bergerak di bidang seni dan budaya. Daftar nama tokoh yang akan saya hubungi (atau tulis ulang) kisahnya cukup banyak. Beberapa di antaranya sudah saya unggah, seperti Lipooz, dan Ivan Nestorman. Beberapa nama lainnya sedang dalam daftar tunggu.

Ada nama Gerson Poyk di daftar itu. Dalam rencana, saya ingin mengirim transkrip wawancara via surel tentang bagaimana pria yang pernah tinggal di Ruteng itu bekerja di dunia kesenian. Tetapi sebelum rencana itu terwujud, saya mendapat kabar bahwa tokoh sastra yang tanggal lahirnya sama dengan tanggal lahir saya itu telah kembali ke pangkuan ilahi.

Saya bersedih untuk paling tidak dua hal: dunia sastra Indonesia kehilangan salah seorang putra terbaiknya, dan saya tidak sempat membangun komunikasi apa pun dengannya. Gerson Poyk pergi, tetapi cerita tentangnya tidak akan selesai.

Karya terakhirnya yang saya baca adalah "Meredam Dendam", sebuah novel yang kami baca bersama untuk pertemuan bulanan Petra Book Club, sebuah klub buku di Ruteng. Selebihnya, saya pernah membaca cerpen-cerpennya serta bukunya yang lain. Saya sangat menyukai "Cumbuan Sabana" yang kini ada di Taman Baca LG Corner Ruteng.

Novel itu menurut saya dengan sangat baik menunjukkan betapa Gerson Poyk memahami lokalitas dengan sangat baik, dan di saat yang sama memperlihatkan kemampuannya membuat narasi deskripsi yang memukau; membawa pembaca terlibat penuh dalam cerita.

Sebagai tokoh penting dalam dunia sastra NTT, saya ingin cerita tentang Gerson Poyk pada hari ini. Saya ambil bahannya dari beberapa sumber, termasuk dari "Meredam Dendam" yang kutipannya telah saya tulis di bagian awal artikel ini.
Begitu kalimat pertama terekam, mengalirlah ribuan kalimat lain yang melukiskan tata kehidupan ini. Paparan Gerson Poyk tentang proses kreatifnya itu terdapat di cover belakang novelnya yang berjudul Meredam Dendam (Kakilangit Kencana, 2009). Sastrawan yang lahir di Rote tanggal 16 Juni 1931 itu mengawali tuturan singkatnya itu dengan: Saat menghadapi kertas putih untuk memulai menulis, saya tidak tahu apa yang akan terjadi.
Boleh jadi yang ingin Gerson Poyk ceritakan di cover belakang novelnya itu hanya tentang bagaimana Meredam Dendam lahir, tetapi bisa juga dia sedang menggambarkan sebagian besar kerja kreatifnya selama ini.

Saya mengenal karya Gerson Poyk pertama kali ketika saya masih remaja dan berkesempatan mendapat buku kumpulan cerpennya yang berjudul Nostalgia Nusa Tenggara (Nusa Indah Ende, 1978). Sebuah novelnya saya baca bertahun-tahun setelahnya yakni Cumbuan Sabana (Nusa Indah Ende, 1979).

Novel ini adalah yang paling saya nikmati dari semua karya Gerson Poyk. Beberapa tahun lalu saya baca Meredam Dendam, di samping cerpen-cerpennya yang disiarkan berbagai media massa.

Baca juga: Mengunjungi Jakarta itu Baik

Sepanjang yang saya tahu, Gerson Poyk adalah tokoh yang identik dengan karya sastra berupa cerpen dan novel. Namun perjalanannya di dunia literasi tanah air dia mulai dari puisi. Di tahun 60-an akhir, puisi-puisinya dikurasi oleh kritikus sastra H.B. Jassin, dan dimuat di majalah Mimbar Indonesia. Sejak saat itu, langkahnya di pentas sastra seperti tidak pernah berhenti.

Gerson Poyk adalah angkatan pertama dari Indonesia yang menerima beasiswa International Writing Program di University of Iowa, Amerika Serikat yakni di awal tahun 70-an. Setelahnya, berbagai kegiatan literasi internasional dia ikuti, dan beberapa penghargaan diraihnya, di antaranya:
  • 1982: Mengikuti Seminar Sastra di India
  • 1985: Menerima Hadiah Adinegoro
  • 1986: Menerima Hadiah Adinegoro
  • 1989: Menerima Hadiah Sastra Asean
  • ....: Dan lain-lain (South East Asia Write Award dari pemerintah Bangkok, Anugerah Kebudayaan (kategori seni) dari Pemerintah RI, Lifetime Achievement Award dari Harian Kompas, Penghargaan dari Forum Academy Award dari Forum Academy NTT, Beberapa cerpennya terpilih sebagai cerpen terbaik dan pilihan Kompas.
  • 2015: Tokoh Sastra NTT

Gerson Poyk, Tokoh Penting Sastra NTT


NTT menempatkan Gerson Poyk sebagai tokoh penting dalam perkembangan sastra di provinsi ini. Karenanya, melalui beberapa pertemuan yang melibatkan sejumlah pegiat sastra beberapa tahun terakhir, hari lahir Gerson Poyk ditetapkan sebagai Hari Sastra NTT. Yohanes Sehandi, pengamat sastra NTT dari Universitas Flores dalam tulisannya yang disiarkan HU Pos Kupang tanggal 15 Juni 2016 menulis:
"Memilih tanggal 16 Juni sebagai Hari Sastra NTT mengacu pada tanggal lahir sastrawan Indonesia kelahiran NTT Bapak GersonPoyk. Ini terkandung maksud sebagai bentuk penghargaan dan rasa hormat kepada Gerson Poyk sebagai perintis sastra NTT."
Sastrawan yang bernama lengkap Herson Gubertus Gerso Poyk ini mengawali karirnya sebagai guru, lalu menjadi wartawan, kemudian beralih menjadi wartawan free lance ketika menekuni dunia kepengarangan. Gerson Poyk meninggal dunia pada hari ini, Jumat, 24 Februari 2017. Dari Ruteng saya berdoa semoga kebahagiaan abadi menjadi miliknya.

Baca juga: Soal Pengarang NTT dari Perspektif Sejarah dan Sosiologi Sastra

Beberapa mimpi yang dia ingin diteruskan oleh siapa saja yang peduli adalah membuat desa budaya, di mana di desa itu ada patung-patung sastrawan Indonesia, ada sawah yang ditanam oleh para seniman, ada teater tempat pentas para seniman untuk bermain drama, dan mengekspresikan imajinasi seni mereka.

Juga ada akses internet dengan jaringan yang baik sehingga para seniman bisa memamerkan karya-karya mereka di dunia internasional dan memperoleh donator untuk membiayai pementasan karya-karya mereka ke seluruh dunia.

Gerson Poyk berpendapat dengan desa budaya, tak ada lagi ekstrim kiri maupun kanan, yang ada adalah etis moral yang selalu membuat generasi muda Indonesia lebih kreatif dan cerdas. Selamat jalan Gerson Poyk, terima kasih untuk segalanya.

Armin Bell
Ruteng, Flores
24 Februari 2017

2 comments:

  1. Kakak ku Geson telah pergi, tapi telah meninggalkan nama, juga sesuatu bagi bangsa. Diharapkan akan muncul Gerson-Gerson yang muda untuk melanjutkan generasi sastra.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Beliau tokoh yang hebat. Semoga sastra NTT semakin berkembang.

      Delete