Cerpen Elvan De Porres - Cerita tentang Sepeda Bapak

Cerita tentang Sepeda Bapak adalah cerpen Elvan De Porres yang pertama di ranalino.id. Selamat menikmati! 
cerpen elvan de porres cerita tentang sepeda bapak
Elvan De Porres

Cerita tentang Sepeda Bapak


Oleh: Elvan De Porres

Kalau kau kira harta paling berharga itu segepok uang atau sebidang tanah, sebaiknya buang jauh-jauh saja pikiran itu. Sebab bagi Bapak saya, sepeda adalah satu-satunya wujud yang punya roh dan tentu saja jadi teman cerita menyenangkan. 

Bapak adalah seorang guru sekolah dasar di kampung. Sebenarnya telah pensiun lama, sebab usianya kini sudah mencapai tujuh puluhan tahun dan sering sakit-sakitan. Tapi pilihan untuk tetap mengajar barangkali merupakan hal tak tersangkalkan bagi seorang yang punya etos kerja tinggi. Dia masih tetap ingin masuk sekolah. 

Setiap pagi Bapak pasti menjadi yang pertama tiba di sekolah. Memang sejak pertama kali menjadi guru, Bapak tak pernah main-main untuk perkara kedisiplinan. Mesti dilaksanakan terus-menerus meski arus waktu menggerus.

Dan sepeda bututnya adalah teman perjalanan yang paling setia. Dari rumah ke sekolah, juga dari sekolah ke rumah. Sepeda butut itu adalah saksi bagaimana kedisiplinan hidup terejawantahkan. 

Tentang sepeda, Bapak selalu punya banyak cerita menarik. Itu adalah sebuah sepeda ontel buatan Belanda, hadiah salah seorang sahabatnya di kota. Ceritanya, dahulu, sewaktu masih kuliah, Bapak menyambi sebagai loper koran, berjalan kaki dari rumah ke rumah untuk mengantar koran pesanan pelanggan.
Sahabatnya, seorang Tionghoa yang punya toko roti, melihat semangat kerja keras luar biasa dalam diri Bapak. Bapak pun ditawari untuk bekerja di toko roti miliknya. 
Namun, Bapak menolak. Meski upah yang ditawarkan sebenarnya jauh di atas rata-rata penghasilan seorang loper Koran, Bapak telah nyaman dengan pekerjaannya itu. Baginya, menjadi loper koran adalah bagian dari tugas peradaban; membantu menyebarkan informasi dan pengetahuan ke sesama umat manusia. Sahabat itu pasrah, dan sebagai penghargaan atas visi mulia bapak, ia menghadiahkan sebuah sepeda lamanya. 

Sepeda ontel itulah yang kini jadi teman setia Bapak. Cinta pertama Bapak yang kehadirannya sangat membantu beliau sejak dulu, tak hanya untuk meloper, tetapi juga urusan perkuliahan. Bapak tidak perlu berjalan kaki lagi dari kos ke kampus, atau sekadar mengerjakan tugas di tempat temannya. Bapak juga lebih sering mengunjungi perpustakaan kota dengan sepeda itu. 

Baca juga: Aku Ingin Mencintaimu dengan Benar

Semangatnya meloper pun semakin menjadi-jadi. Para pelanggan memanggilnya dengan julukan “Henricus Si Ontel Loper”. Tentu saja Bapak senang dengan panggilan seperti itu. Dianggapnya sebagai bentuk keakraban, dan Bapak bisa mendapatkan komisi tambahan dari para pelanggan yang berbaik hati. Sepeda itulah yang juga mempertemukan Bapak dengan seorang gadis sesama pecinta sepeda. 

Kala itu ada festival pendidikan di balai kota. Bapak datang dengan sepeda ontel lawasnya yang khas. Berwarna hitam panjang, memiliki roda besar, rangkaian rantai yang kuat, dilengkapi bel dan dinamo lampu. Sementara si gadis mengendarai jenis jengki yang tampilannya lebih modern. Gadis itu rupanya ingin mencoba ontel Bapak yang saat itu memang semakin jarang digandrungi karena dianggap terlalu kuno. 

Perjumpaan itu adalah awal yang baik bagi pertemanan mereka. Mereka menjadi sering bertemu, sesekali bertukar sepeda, dan membicarakan banyak hal. Mulai dari persoalan di kampus masing-masing hingga urusan perpolitikan meski ternyata urusan politik ternyata tak tak menarik buat mereka.

Gadis itu sungguh menyenangkan. Juga cerdas. Wawasan berpikirnya luas. Ia adalah seorang pembaca buku ulung sama seperti Bapak. Beberapa kali keduanya terlibat dalam diskusi menarik. 

Namun, tak lama setelah itu, setelah wisuda, keduanya harus berpisah. Si gadis melanjutkan kuliahnya di luar negeri, sementara Bapak kembali ke kampung. Ingin mengabdi di sana, sebuah niat yang tertanam sejak lama sebelum berangkat ke kota. Tak lupa, sepeda ontel itu diangkutnya pulang. 

Baca juga: Gerimis dan Hujan, Sekumpulan Puisi

Di kampung, awalnya, ia ditertawai orang-orang karena pulang dari kota hanya dengan membawa sebuah sepeda butut. Biasanya orang akan membawa pulang sepeda motor merk terbaru atau perhiasan atau pakaian sebagai pertanda telah menginjakkan kaki di kota. Tetapi Bapak tak peduli apa kata orang. Baginya, dia ke kota untuk mencari ilmu, bukan mencari duit. 
Sepeda butut itu berpengaruh luar biasa dalam kehidupan Bapak di kampung. Beliau bisa lebih gesit ke kebun dan mengangkut hasil panen yang banyak, lebih sering ke kali untuk mengail udang galah, atau pun sekadar mengunjungi rumah sahabat masa kecilnya dulu. Dan yang paling utama ialah sepeda itu menjelma jadi saksi perjalanan hidup Bapak sebagai seorang guru kampung. 
Pernah suatu ketika Bapak pulang dari sekolah, di perjalanan bertemu seorang bidan yang kebetulan sedang buru-buru hendak membantu persalinan di kampung sebelah. Bapak pun dengan segera mengantar bidan muda tersebut. Mereka tiba tepat waktu dan proses persalinan berjalan dengan lancar. Itulah kisah awal perjumpaan Bapak dengan Ibu. Begitulah sepeda butut mengalurkan narasi perjalanan hidup Bapak. 

Namun, itu dulu. Sebuah romantisme kenangan yang sajikan banyak petuah mangkus. Sebab sakit asma akut yang menghantui Bapak selama setahun terakhir membuatnya lebih banyak menghabiskan waktu di rumah.

Saya pun lebih sering menemani Bapak. Duduk di sampingnya, memijit-mijit tangannya sambil berbincang-bincang banyak hal; soal buku, perpustakaan, juga pelbagai situasi di kampung. Tak lupa pula soal sepeda bututnya. Saya lebih banyak mendengarkan Bapak. Menimba pengalaman hidupnya. 

“Sepeda ontel itu memberikan banyak inspirasi. Itu adalah cinta pertama saya. Saya bisa bekerja, belajar, mengenal, dan berdiskusi banyak hal lewat sepeda itu. Saya juga bisa berjumpa orang-orang hebat. Nasib saya di kota memang dihabiskan bersama sepeda itu,” kata Bapak kepada saya dari ranjang sakitnya. Tiap kali bercerita tentang sepeda suaranya terbata-bata, matanya berkaca-kaca. 

Sakit asma akut yang sering kali kambuh menyebabkan Bapak benar-benar rapuh tak berdaya. Kondisinya semakin memburuk. Suaranya parau, sering batuk-batuk, dan dadanya yang semakin sering sakit. Namun Bapak selalu meyakinkan kami bahwa dirinya baik-baik saja, bahwa dirinya akan segera sembuh, dan kembali beraktivitas seperti biasa.

Sifat bapak memang begitu. Tidak suka membuat orang lain repot. Padahal, napas Bapak sering kali terdengar berat sekali. Matanya kunang-kunang. Bibir dan kukunya membiru. Semakin hari suaranya semakin serak dan mengecil. Dengan sekuat tenaga, dia selalu berusaha memegang dadanya mencoba menekan sembari mengatur napas. 

“Sepeda…sepeda?” Begitulah setiap hari Bapak selalu mengajukan pertanyaan yang sama. 
“Ada, Bapak.”
“Sepeda…sepeda. Mana sepeda saya?”
“Ada, Bapak. Sepeda Bapak ada di samping rumah,” saya selalu menjawab dengan jawaban yang juga sama, entah apakah mendengarkan jawaban saya atau tidak. Kondisi Bapak sudah semakin parah. 

Begitulah setiap pagi, Bapak selalu mengulang-ulang pertanyaan yang sama tentang sepedanya. Tentu saja pertanyaan itu bukanlah sembarang ujaran. Sebab terpatri kenangan di sana. Tentang sebuah perjalanan yang panjang. Tentang guratan saksi bisu yang lahirkan narasi hidup.

Seminggu kemudian Bapak meninggal dunia, meninggalkan seorang istri dan anak lelaki tunggal. Nama anak itu Sepeda. Tak ada latar kisah yang dituturkan panjang lebar tentang pemberian nama anaknya itu. Tetapi barangkali benar bahwa sepeda adalah satu-satunya wujud yang punya roh dan tentu saja jadi teman cerita menyenangkan. Saya pergi ke samping rumah. Melihat warisan itu tergeletak di sana. Kemudian saya melihat diri sendiri. (Selesai)

Ledalero, 2016
  • Cerpen ini didedikasikan untuk mengenang Dosen Metodologi, Retorika, dan Homiletik STFK Ledalero P. Henricus Dori Wuwur, SVD, meski pun latar kisah, tema, dan penokohan tidak sesuai dengan kehidupan Tuang Guru Pater Henric, SVD yang adalah seorang klerus. Untuk almarhum Pater Henric, SVD, “sepeda” bisa jadi adalah “buku”. 
  • Elvan De Porres tinggal di Maumere. Sedang berjuang untuk tamat dari STFK Ledalero. Penulis saat ini bergelut dalam proyek skripsi tentang “Analisis Wacana Hegemoni Matriarkal dalam Cerita Rakyat ‘Du’a Buhu Gelo’ seturut Pandangan Antonio Gramsci”

0 Komentar:

Post a Comment