Yang Bangkit di Hari Keempat - Cerpen di Pos Bali

Yang Bangkit di Hari Keempat adalah cerpen saya yang disiarkan di koran Pos Bali edisi Minggu, 10 April 2016. Selamat Menikmati! 
Cerpen "Yang Bangkit di Hari Keempat" di Pos Bali

Yang Bangkit di Hari Keempat 


Oleh: Armin Bell 

Cerpen di Pos Bali


Dada lelaki itu masih bergerak, tetapi dua hari terbujur di ranjang. Sudah dua hari pula istrinya menjerit-jerit.“Masih hidup.” Seseorang menghibur perempuan yang menangis itu. Yang lain setuju, juga heran.
“Kenapa tidak bangun?”
“Harus panggil Ame Nangur.”

Yang dipanggil tiba hari ini. Hari keempat sejak Nain terbaring diam, saat jerit histeris Lena menjadi sengguk dan para penghibur tak lagi yakin.

Mata lelaki itu terbuka perlahan. Berkas cahaya siang menerobos. Dikerjapnya. Senyum perempuan menyambut penglihatannya yang pertama. Lena istrinya. Kepalanya bergerak ke arah yang lain. Lelaki tua dengan janggut putih memandangnya datar dan mulut komat-kamit. Di tangan lelaki itu ada dedaun akasia basah dikibas ke arahnya. 

Dingin yang aneh menerpa. Satu tetes jatuh ke mata, dikerjapnya lagi; satu jatuh ke bibir, disapu lidahnya. Berusaha bangkit, dia jatuh lagi ke pembaringan.

“Baring saja dulu,” kata istrinya lalu beranjak pergi. Kini hanya dia dan si tua.
“Syukurlah Nain, kamu pulang. Tadi itu sulit,” kata si tua. Ketika kesadarannya benar-benar pulih, tahulah dia itu Ame Nangur dukun dari Selatan.

“Kami panggil Ame Nangur karena sampai dua hari lalu kamu tak bangun-bangun,” kata istrinya yang kini hadir dengan dua gelas air di atas dulang bulat bergambar bunga. Segelas air putih untuk lelaki itu dan segelas lagi kopi pahit untuk Ame Nangur.


Empat hari sebelumnya, Lena kembali dari mengantar anak mereka liburan ke rumah neneknya di Utara. Jam sepuluh pagi. Tekukur dari hutan akasia tak lagi bernyanyi. Lelakinya terbujur di ranjang. Tak bergerak. Dibangunkan, tak bergeming. Diteriak-teriakkan namanya, tak berhasil. Tetangga yang hendak berangkat ke kebun mampir dalam usaha. Nihil. Lalu pergi. Dua hari usaha itu dicoba, tanpa hasil.

Demikianlah Ame Nangur di Selatan dipanggil namun tidak lekas datang. “Masih pergi. Dua hari lagi baru kembali,” jelas istri Ame Nangur dan para pemanggil pulang dengan kabar tak gembira itu. Sekampung berganti berjaga menemani Lena yang terus menangis: menjerit ketika tenaganya penuh dan sesenggukan ketika lelah. 

Pagi tadi Ame Nangur datang.

“Nain punya istri lain,” jelas Ame Nangur dengan suara datar di kesempatan pertama setelah meraba-raba dahi lelaki itu dengan mulut komat-kamit. Lena menyambut cerita itu dengan air mata. 
Ame Nangur mengeluarkan sesuatu dari tas Songke Manggarai yang lusuh. Dimintanya seseorang mengambil daun akasia dan menyiapkan segelas air. Di waktu menunggu permintaannya, Ame Nangur bercerita tentang istri lain itu.

“Bukan dari sini!”
“Dari mana?”
“Dunia lain,” jawab Ame Nangur singkat.

Permintaannya telah tiba, daun akasia dan segelas air, upacara dilaksanakan.

“Sudah sadar,” kata Ame Nangur setelah mengelilingi tempat tidur tujuh putaran dengan mulut komat-kamit dan tangan tak berhenti mengibas dedaun akasia basah. Ada sungging senyum di bibir Lena melihat suaminya perlahan membuka mata. “Baring saja dulu!” kata perempuan itu.

Kisah ini meluncur dari mulut Nain setelah sebelumnya meminta maaf dan meminum habis air putihnya.

Baca juga: Dongeng untuk Anak di Ruteng, Manggarai

“Saya bertengkar dengan istri saya yang lain. Dia bukan manusia. Kakartana. Jin. Kami bertemu tujuh tahun lalu ketika kau hamil. Dia datang tengah malam. Kau sudah tidur waktu itu dan saya sedang... kau tahu...”
Istrinya mengangguk. 

“Anak kita?” tanya Nain sebelum menyambung cerita.
“Di rumah Ibu,” jawab Lena. Air matanya kembali mengalir, tanpa suara.

Didengarnya kisah suaminya dalam diam dengan tangan sesekali mengusap pipi. Tulang pipinya menonjol tepat di balik kulitnya langsat. Jemari lentiknya singgah ke hidung membersihkan air bening yang datang kompak dengan air mata.

“Sejak itu saya jarang tidur. Tiga sampai empat kali seminggu harus ke rumahnya.”
“Di mana?” sergah istrinya seolah pengetahuan tentang tempat akan meluruhkan cemburu. Tak ada jawaban. Nain melihat Ame Nangur. 

Si janggut putih yang sedang menyeruput kopi lalu menjelaskan rumah Kakartana adalah Beringin besar di hutan dekat kampung.

“Kita tidak bisa lihat, tetapi mereka ada. Kampung mereka besar. Bersih. Rapi. Tak ada sampah. Penduduknya ramah.”
“Ame pernah ke sana?” Nain kini dia berhasil duduk.
“Adik saya.”

Nain tersentak. Lalu bercerita tentang empat hari lalu. Kakartana memintanya menetap. Jika ingin tetap dapat pulang, harus ada tumbal. Semula permintaan itu disanggupinya karena menduga yang jadi tumbal adalah hewan. Salah. Kakartana meminta istri atau anaknya mendapat sakit. Dia menolak. Mereka bertengkar. Tetangga berdatangan, ada seseorang mirip Ame Nangur.

“Mengapa dia mau kami sakit?” Lena menangis lagi.
“Mungkin dengan itu dia bahagia.”
“Dengan melihat orang lain sakit?”

Ada hening, sebelum Ame Nangur berkisah. Menurut yang dapat diingatnya dari cerita adiknya, kehidupan di kampung Kakartana itu indah. Jalanan bersih dengan batu-batu hitam yang ditanam rapi, tanpa sampah. Air jernih di pinggir kampung mengalir melimpah.

“Mereka tahu bagaimana membuat diri mereka bahagia. Yang utama adalah kebahagiaan sesama. Di kelompok mereka,” jelas Ame Nangur.
“Kalau itu sudah bisa buat bahagia, mengapa harus mau orang lain sakit?” sergah Lena.

Ame Nangur menjawab dalam nada rendah.

“Dia ingin memiliki suamimu utuh. Adat mereka di sana adalah kebahagiaan yang utuh, bahkan jika itu harus membuat orang lain sakit. Kakartana tak ingin dimadu.”
“SAYA YANG DIMADU. BUKAN DIA!”

Nain bangkit. Memeluknya istrinya lembut. Sekali lagi meminta maaf.

“Saya minta maaf. Tujuh tahun telah menduakanmu. Saya tidak akan melakukannya lagi.”
“Itukah alasanmu menentang rencana pembukaan lahan baru? Kakartana itu?”
Tujuh tahun silam Nain menolak keras rencana membuka hutan di belakang kampung menjadi lahan pertanian. Dia menggalang dukungan agar hutan itu tidak diganggu, dibiarkan hijau dan rimbun.

“Kalau pohon-pohon itu ditebang, kita kehilangan sumber air. Kalau sumber air hilang, bagaimana sawah? Mau makan apa anak kita nanti?” katanya pada rapat ketika itu sambil mengelus-elus perut istrinya yang sudah membesar. Alasan Nain masuk akal, tentang hidup sejahtera yang panjang. Hutan tak jadi dirambah, Beringin tak jadi rebah.

“Lebih tepat, itulah yang membuat dia jatuh cinta. Dia datang setelah rencana pembukaan lahan baru itu dibatalkan,” jawab Nain. 

Satu malam, Kakartana datang. Mengajak Nain ke sungai di pinggir hutan. Begitu penuh pesona untuk ditolak meski akal sehat menyeruak sejenak bertanya mengapa ada perempuan yang begitu rupawan mengajak suami orang ke pinggir hutan. Di sana, Nain diminta melihat pohon-pohon yang menghitam, menutup mata selama empat hela nafas. Setelahnya mereka telah ada di kamar yang tidur dengan cahaya temaram dan Kakartana telanjang menantang. 
“Dia cantik sekali. Di malam pertama, dia menyebut percintaan kami sebagai ucapan terima kasih karena telah menyelamatkan kampung mereka!” terang Nain disambut tangis Lena yang panjang dan lara. 
Dari sana kisah percintaan dimulai. Dari ucapan terima kasih sampai pada saling jatuh cinta hingga Kakartana itu menjadi posesif. Betapa mudah membuat perempuan jatuh cinta. Lelaki hanya perlu menjadi tidak seragam.

“Saya minta maaf telah khilaf,” pinta Nain memeluk istrinya yang menangis. Istrinya juga dahulu jatuh cinta padanya dengan alasan yang sama: Nain beda.
“Kau mau saya bagaimana?” tanya Lena membebaskan diri dari pelukan. 

Nain memintanya berhenti menangis karena semua telah kembali semula. Apa yang terjadi dalam tidurnya selama empat hari tak diceritakan. Dia tahu pertarungan dengan keluarga Kakartana telah dimenangkan. Tugas selanjutnya adalah merebut kembali istrinya. Akan sulit, tetapi apakah yang tak dapat dilakukan oleh orang yang telah pulang dari dunia lain?

Ame Nangur pulang ke rumahnya. Kepada orang-orang yang masih dicekam cemas dia bilang, Nain telah sembuh. Dalam perjalanan pulang, dilihatnya deret sungai dan pohon-pohon kokoh di hutan belakang kampung. Semakin ke tengah semakin rapat dan Beringin tua menjadi pusat. Dia singgah sebentar membasuh muka. Adiknya hilang di sungai itu suatu malam. (Selesai)

Catatan: Di daerah lain di Manggarai, jin dalam rupa perempuan cantik dikenal dengan nama 'Darat'. Kakartana dipakai dalam percakapan orang Rego, Manggarai Barat.

0 Komentar:

Post a Comment