Om Rafael Indonesianival

Kisah Om Rafael dapat saja dibaca sebagai kisah semua orang. Mereka yang merasa mampu memberi komentar pada apa pun, juga mereka yang memiliki kemampuan apresiasi yang menyenangkan. Om Rafael itu lucu, tetapi juga kita. Cie cieee...
om rafael indonesianival
Indonesianival | Image: Courtesy of Ivan Nestorman Tropical Choir
Pada setiap peristiwa besar, Om Rafael senang memberi komentar. Seperti komentator. Pengamat. That's so human, right? Common act. Aeh... ngeri ini melaju suda hahaha. Nah, kali ini Om Rafael memberi komentar soal tujuhbelasan. Tau to, apa itu tujuhbelasan. Kalau tidak tidak tahu, ya, tidak apa-apa. Kita tidak harus tahu semua hal bukan?

Om Rafael Indonesianival


Om Rafael Indonesianival ini adalah catatan yang saya buat di tengah kemewahan warna merah dan putih bulan Agustus silam. Sebagai status facabook yang dipindah ke blog untuk kepentingan dokumentasi, beberapa perubahan tentu saja dilakukan. Alasannya? Macam-macam. Bisa SEO, bisa kaidah tata bahasa, bisa juga tanpa alasan #ehm. Begini ceritanya:

Sejak awal sampai tengah Agustus, Om Rafael sedikit mengubah jadwal kegiatan sore hari. Kegiatan 'kasi makan' babi yang biasanya dilakukan jam lima sore, dimajukan ke pukul 15.00. Jam empat sore dia harus ke lapangan sepak bola. 

Kalau ada yang tanya kenapa majunya harus dua jam dan bukan setengah atau satu jam saja, jawabannya adalah karena 'Satu Jam Lagi' itu adalah judulnya lagunya Mus Mudjiono halaaaah... Yang benar adalah karena Om yang satu ini perlu waktu satu jam bersama babi-babi peliharaannya. Ckckckck... betapa bertebarannya kata satu di paragraf awal ini dan anda lantas kecewa? Jangan. Dengar dulu (baca: baca dulu) alasannya. 

Mengapa bukan satu melainkan dua? Begini ceritanya. Untuk ritual mulia semacam 'kasi makan' babi atau sebut saja feeding your pigs (nah lho...) sesungguhnya kita hanya perlu waktu 10 sampai 15 menit.

Om Rafael juga demikian, hanya saja yang berbeda adalah setelah mengatur makanan di palungan, Om Rafael membutuhkan sangat banyak waktu untuk ngobrol, little chit-chat, atau sekedar curhat dengan para babi terkasihnya itu.

Toh, setiap pelaku curahan hati hanya butuh telinga dan babi juga punya telinga; plus mereka tak punya peluang membocorkannya ke pihak lain. This is so understandable, right? Ko mati ka tida hahaha... 

Jadi begitu. Setelah yakin seluruh prosesi di kandang itu beres, Om Rafael hendak meluncur ke lapangan bola dengan bersemangat. 

"Rafael, cuci tangan dulu," suara istrinya mengagetkan pria yang sedang bernyanyi Halo-halo Bandung sehingga liriknya terpeleset menjadi ...sudah lama beta tidak berjumpa denganku...! 
"Rafael, dengan kau, bukan denganku," seru istrinya lagi. 
"Mamah, ngagetin ajah, ah," sergahnya lalu tertawa sendiri dan bilang, "Saya macam Mas Jawa saja e, aeh." 

Di lapangan, dia terkagum pada anak-anak SMPK Santu Markus yang sedang latihan baris berbaris. Mereka nenyiapkan diri untuk menjadi tim pengibar bendera pada upacara tujuhbelasan di Bari, Ibukota Perwakilan Kecamatan Kuwus (sekarang menjadi Ibukota Kecamatan Macang Pacar). 

"Nana," katanya pada saya, "Kau lihat kaka-kaka Es-Em-Pe itu. Baris rapi betul. Kiri kanannya juga sempurna. Seperti peribahasa, kiri sama dipikul, kanan sama dijinjing." 

Tentu saja saya protes tentang redaksi peribahasa itu dan tentu saja Om Rafael menganggap saya terlalu banyak protes, sehingga tentu saja saya diam karena dia akan segera bilang itu masih mirip.

Dan tentu saja Anda protes karena betapa banyak 'tentu saja' di kalimat tadi, dan tentu saja saya sadar itu. Tetapi baiklah saya meniru Om Rafael dalam kasus ini; anjing menggonggong, tidak ada kafilah yang lewat. Ada yang sempat lihat itu Om Kafilah singgah di mana? Aduh, maap...

Baca juga: Pelajaran Cahaya dan Dua Puisi Lain

Tapi benar, kan? Itu Kafilah eh, maksudnya Om Rafael ternyata mengerti kegusaran saya tentang peribahasa itu sehingga sesaat kemudian dia bilang, "Itu peribahasa memang ada dua versi dan masih keluarga, Nana. Seperti Barry Prima, Adven Bangun, Josef Fungan, Rambo, dan Ricky Ricardo. Nah, daripada kita sibuk dengan peribahasa, lebih baik kita perhatikan itu Guru yang terus priit priit dia punya peluit." 

Kemudian dia larut dalam nikmat latihan upacara. Matanya berkaca-kaca ketika pembina upacara merangkap pelatih merangkap satu-satunya orang berpeluit di tempat itu mengajak mengheningkan cipta. 

"Om, apa itu gugur?" Tanya saya setelahnya. 
"Gugur itu masih keluarga dengan subur, Nana." 
"Aeh... tipu skali e." 
"Betul, Nana. Karena para pahlawan yang gugur, Indonesia jadi negeri yang subur." 
"Berarti Indonesia subur, Om? Kita bisa kaya, im." 
"Nana, kau nanti akan tahu, di tanah yang subur, tidak hanya tumbuh padi dan kopi. Juga bisa rumput-rumput liar. Tergantung kau pilih tebas yang mana, kopi atau rumput. Kalau kau tebas kopi, mana bisa kau kaya." 
Saya menganga. Ini obrolan tentang apa? Latihan upacara sudah selesai. Sudah hampir malam, senja datang sambut sang bulan*, kami melangkah bersisian, pulang. Di perjalanan Om Rafael menyanyi lagu "Sapu Tangan Merah Jambu".

Liriknya banyak yang keliru tapi dia tidak mau tahu: Sapu tanganku warna merah jambu, saputanganku membawa semua, kenangan jambu... Saya protes. Saya bilangan kenangan ayu, bukan jambu, tapi Om Rafael ngotot. 

Sama ngototnya ketika saya bilang "R" pada W. R. Supratman adalah Robertus, sama dengan saya punya nama. Om Rafael marah. Dengan nada tinggi dia bilang (dan sepertinya begitu meyakini dan bangga) bahwa "R" pada nama pencipta lagu kebangsaan itu adalah Rafael; Wensislaus Rafael Supratman.

"Kami masih ada hubungan keluarga, Nana. Santo pelindung kami sama-sama Malaikat Rafael. Ya, udah. Kita pisahan di sini aja ya," katanya di persimpangan lalu tertawa dan berkata, "saya sudah macam Mas Jawa saja e, aeh." 

Dia juga sempat bilang: "Merdeka!" Saya berlari kecil ke rumah, berlomba dengan matahari yang hampir tiba di peraduan dengan tetap berpikir bahwa W. R. adalah Wransiskus Robertus. 

Salam 
Armin Bell
Ruteng, Flores

*) Dari lagu Salam untuk Dia - Voo Doo

0 Komentar:

Posting Komentar