Rangga - Cerpen di Flores Pos

Rangga adalah salah satu cerpen di Flores Pos. Harian ini berpusat di Ende - Flores, dan cerpen saya ini disiarkan pada tanggal 14 Juni 2016 silam. Selamat menikmati. 
rangga cerpen di flores pos
Dok. RanaLino.ID

Rangga


(Cerpen di Flores Pos)

Oleh: Armin Bell 

Rangga mencuri televisi di kampung tetangga. Sesungguhnya belum berhasil. Sebelum membawa televisi itu pergi, dia ditangkap dan kini diadili. Benar-benar nasib yang sial, seperti membenarkan ramalan lama. Anak itu berat nama. Suatu saat akan mendapat sial. Adalah namanya yang sama dengan lambang di bubungan rumah adat menjadi asal tudingan.

Bertahun-tahun silam, Ibunya berlomba teriak dengan angin dan hujan. Sesekali hujan jatuh ke kamar, tak tentu tempat, kadang jidat, kadang perut, atau di kasur tua melalui lubang pada atap yang dimakan usia.

“Ayo dorong. Tinggal sedikit lagi. Dorong,” kata dukun bersalin kepada Mbau yang berteriak kesakitan. Mata dukun itu tak lepas dari selangkangan yang terbuka lebar di hadapan. Seorang lelaki berdiri mematung di sudut kamar. Lelaki itu bernama Telatoni, suami Mbau. Mereka menikah dua tahun yang lalu, pasangan yang sama-sama yatim piatu.

Telatoni seorang buruh tani. Mbau tak punya keterampilan memadai selain mencuci. Uang tak seberapa mereka kumpulkan dan mencari beras termurah adalah kewajiban agar tetap dapat makan sehari dua kali. Pada masa yang sangat sulit seperti saat hujan tak berhenti --orang-orang tak lagi sering mencuci baju, anak mereka lahir.

“Laki-laki. Anakmu laki-laki,” kata si dukun bersalin. Telatoni mendekat, mengusap dahi bayi merah itu, membisikkan doa. Setelah semuanya selesai, beras tersisa di dapur berpindah tangan sebagai sewa persalinan.

“Kita kasi nama Rangga ya, biar nanti jadi pemimpin,” kata Telatoni pada Mbau yang mengangguk lemas.

Peristiwa kelahiran di tengah hujan --di kampung mereka dianggap sebagai penanda rezeki, dirayakan sangat sederhana. Beras habis, mereka tak makan nasi, hanya ubi sisa kemarin, sepotong ubi yang tak cukup merangsang air susu ibu. Rangga merah menangis sepanjang malam, menghisap puting Ibunya dengan sia-sia.

Tetapi banyak ramalan bertemu kenyataan. Juga tentang hujan pada hari lahir. Setelah melewati malam pertama yang sedih, rezeki datang secukupnya. Rangga tumbuh menjadi anak yang lucu. Tidak gemuk memang, tetapi bukankah anak-anak selalu lucu? Rangga hidup dari tiga sumber: ayah seorang buruh tani, ibu yang mencuci pakaian tetangga, dan dari pemerintah yang sesekali memberi uang. Rangga makan nasi hingga dia menjadi pemuda.

Baca juga: Klaudius - Cerpen di Jurnal Sastra Santarang

Dia tumbuh sebagai pemuda yang gemar menyanyi. Suaranya tidak istimewa tetapi percaya dirinya tinggi. Dia jadi seniman muda, pemuda impian di kampung itu. Gadis-gadis berharap dapat merebut hatinya dan para pemuda berjuang menjadi temannya yang setia. Begitulah laku umum di sekitar orang-orang bernama.

Di kampung tetangga nama Rangga juga menjadi buah bibir, lengkap dengan juk, gitar kecil dari kayu waek yang dibuatnya bersama Telatoni. Kisah tentangnya terdengar jauh ke Kecamatan, tentang Rangga mempunyai banyak sekali kawan. Seorang calon wakil rakyat mendengar cerita itu di musim pemilu; musim para calon mencari kawan yang kawannya banyak. Rangga didatangi, diajak bicara. Kesepakatan pun tercapailah. Rangga resmi menjadi tim sukses Atanasius dengan mahar jutaan rupiah.

Di hari pemilihan, Atan gagal. Perolehan suaranya jauh di bawah bilangan pembagi pemilih. Rangga jadi sasaran. Kisah tentang seniman muda yang punya banyak kawan ternyata tidak berbanding lurus dengan perolehan suara. Lebih buruk, dari kampung Rangga hanya ada tiga suara. Dapatlah diduga suara itu milik Rangga sebagai saksi, dari Telatoni, dan Mbau. Atan meradang. Dimintanya kembali uang jutaan yang dahulu.

“H... ha.. habis, Bang,” Rangga terbata.

Atan naik darah. Ditamparnya tim suksesnya itu di depan ayah ibunya. Mbau meraung. Perempuan renta yang tak pernah menduga akan melihat anaknya ditampar. Telatoni tak berdaya. Lelaki itu telah tua. Di sudut ruang tamu rumah mereka yang masih berdinding bambu, didekapnya radio dua baterei yang dibelikan anaknya sebelum pemilu; benda termahal yang pernah dimilikinya selama hidup.

Atan merampas radio itu dengan bonus tinju keras di rahang kanan Telatoni. Kalung emas dari leher Mbau dirampas pula sebelum dia berlalu. Rumah itu penuh tangis: Mbau untuk suami dan anaknya, Telatoni pada radio dan rahangnya yang miring kiri, dan Rangga yang lara.

Tetapi selain luka, lara juga ternyata pembangkit semangat membabi-buta.

“Ini janji. Radio dan kalung emas akan ada lagi di rumah ini,” kata Rangga lalu pergi menjelang malam.

Malam itulah, seorang pemuda ditangkap karena mencuri televisi di kampung tetangga. Langsung diadili: kerja paksa membersihkan kiri kanan jalan desa sepanjang satu kilometer, sebersih-bersihnya. Tiga hari Rangga berpayah di bawah terik. Di sela kerja paksa diceritakannya ikhwal dia mencuri, kepada gadis-gadis yang tetap memujanya yang mengantarkan minum dan makan.

Baca juga: Romana dan Nene Tina - Cerpen di GSS

Tersebar cerita hingga Kecamatan: Rangga mencuri untuk membahagiakan orangtuanya. Dia ingin membeli radio untuk Ayahnya dan kalung emas untuk Ibunya. Sampai juga cerita itu ke telinga Atan, lengkap dengan bumbu bahwa Atanlah yang telah membuat seniman itu menjadi pencuri: karena ada caleg yang merampas kembali biaya kampanye gara-gara tak lolos jadi dewan!   

Atas rasa bersalah menempatkan seniman pada posisi menjadi pencuri, Atan datang lagi. Dikembalikannya radio dan kalung emas yang dirampasnya.

“Maaf, saya khilaf. Mungkin memang bukan jatah saya jadi anggota dewan. Saya kembalikan ini sebagai bentuk permintaan maaf saya,” katanya lalu pergi.

Sukacita memenuhi rumah itu. Rangga memakaikan kalung emas pada leher ibunya yang renta. Ada air bening yang menggenang di mata perempuan itu. Telatoni menyalakan radio. Ada berita politik. Digesernya gelombang radio mencari siaran lagu.

S e l e s a i 

PS: Cerpen di Flores Pos terbit setiap Selasa.

0 Komentar:

Post a Comment