Om Rafael Sarankan Pentingnya Rekreasi

Tentang pentingnya rekreasi, semua pasti mafhum. Tetapi apa itu rekreasi, Om Rafael punya pendapat lain. Begitulah Om Rafael. Suka sekenanya saja. Barangkali belio saja orang Manggarai yang bilang kalau rekreasi itu racun. Ckckck... 
om rafael sarankan pentingnya rekreasi
Ikut saran Om Rafael, sa ajak ini nona pi rekreasi | Kuta 2013

Om Rafael Sarankan Pentingnya Rekreasi


Alkisah, Om Rafael tidak tampak beberapa hari di depan rumahnya. Mungkin lebih sering di belakang rumah, mengurus babi-babi yang cerewetnya minta ampun pada jam-jam meminta makan. Sore hari paduan suara mereka terdengar menggila, bikin gila, gila-gilaan. 

Semua yang pernah memelihara babi, tahu betul rasanya ditagih makanan oleh babi-babi itu. Seperti terpenjara, berutang, tetapi kok tetap dipelihara? Pertanyaan ini tidak untuk dijawab. Pokoknya, karena alasan babi-babi itulah, sekian lama tampaknya Om Rafael tidak tampak batang hidungnya pada jam-jam tertentu. Kami biasa lewat di depan rumahnya pada jam-jam babi-babi itu meminta makan dengan gila.  

Lalu datang kabar berita. Babi-babi miliknya mendadak mati. Di kampung, kami lebih akrab menyebut itu sebagai mati mendadak. Tidak jelas alasan babi-babi itu meregang nyawa, tetapi peristiwa kematian tetap saya menyedihkan. Apalagi bagi Om Rafael. Beliau bersedih sekali. Kabar berita tersebar lebih gila, bahwa Om Rafael menjadi gila karena kepergian babi-babi itu; yang semula dipelihara untuk dijual dan uangnya dipakai untuk mengganti atap rumah yang bocor. 

Baca juga: Menanam Bambu di Ruteng Flores 2

Saya jelas bersedih. Juga takut. Seorang teman menjadi gila, bukankah itu menakutkan? Bahwa dalam kegilaannya dia tak lagi mengenalimu sebagai temannya. Betapa menakutkannya fakta itu; kita tak diakui. Ckckck... Tetapi sesungguhnya yang sangat menakutkan adalah bahwa kadang orang gila bisa menjadi sangat kejam. Om Rafael berubah menjadi kejam. Aku takut, Tuhan. Tetapi seorang anak adalah seorang anak kalau selalu ingin bukti, termasuk atas ketakutannya sendiri.  

Hujan baru saja selesai mengguyur kampung kami. Gerimis penutup juga sudah habis. Ketika warna senja belum kemerah-merahan/ menutup pintu waktu lampau*), saya melintas di depan rumah Om Rafael. Ingin bukti dan lalu berhadapan dengan pemandangan paling mengerikan seumur hidup dan lari terbirit-birit, muka pucat, keringat menderas. Di jalan saya bertemu Dar yang juga entah kenapa ikut berlari, lengkap dengan muka pucat dan keringat menderas.  

"Kau kenapa?" 
"Saya yang harusnya tanya kau kenapa!" Dar terengah-engah di sampingku.
"Kita kenapa?"
"Kenapa kita?" 

Dialog itu tak selesai. Kami bersembunyi di belakang Gereja. 

"Maksudnya?" 
"Saya lari karena lihat kau lari ketakutan. Ada apa?" 

Lalu kuceritakan padanya tentang betapa mengerikannya Om Rafael sore itu. Bahwa Om Rafael benar-benar gila. Dia mengunyah lidahnya sendiri, kataku. Dar serentak membekap mulutnya sendiri dengan gemetar.

Mungkin membayangkan dengan ngeri bagaimana rasanya mengunyah lidah sendiri. Temanku itu terlihat mual ketika kuceritakan juga tentang Om Rafael yang dengan santai sesekali meludahkan darah hasil mengunyah lidahnya sendiri. 

"Kau betul-betul lihat?" Dar bertanya masih dengan getir yang ngeri dan mual. 
"Iya. Lihat sebentar lalu saya lari." "Kita coba lihat lagi. Siapa tahu Om Rafael sudah mati. Kasian. Kehilangan babi sampai jadi gila begitu. Ayo kita pergi lihat lagi," usul Dar sebagai seorang anak yang juga ingin bukti. 

Saya setuju. Kami ke sana. Ke halaman rumah Om Rafael dan mendapati lelaki tua itu sedang meludah. Darah merah jatuh ke tanah. Dar jatuh luruh dan kini bertumpu pada dua lututnya yang bergetar; diserang ngeri. Saya terpaku dan merasa darah di muka bergerak turun ke mata kaki. Wajah saya pasti putih sekali sekarang. Om Rafael tidak melanjutkan aktivitasnya mengunyah lidah sendiri, mendekat, masih dengan mulut yang merah penuh darah. Rasanya saya akan segera mati hari itu, didekap takut yang tak biasa. 

"Hei, kamu dua ini kenapa?" Om Rafael bertanya lalu meludah lagi. Saya tidak lihat karena menutup mata, tetapi jelas mendengar semuanya. Tak mendapat jawaban, Om Rafael bertanya lagi dengan lembut tetapi jelas. 

Simak kisah pertama Om Rafael: Om Rafael Tentang Usia Manusia, Sebuah Awal

Tidaklah mungkin seseorang yang mengunyah lidahnya sendiri dapat bicara sejelas itu, kupikir. Dar tampak berpikiran sama sehingga secara bersamaan kami membuka mata. Perlahan mengintip kami sadar yang dikunyah Om Rafael bukanlah lidahnya. Dia sedang menikmati sirih pinang. Om Rafael terbahak-bahak ketika pengalaman ngeri itu kami ceritakan. Dia bilang kami terlampau rekreasi. 

"Rekreasi, Om?" 
"Itu ka, Nana. Yang langsung bikin tindakan tanpa pikir panjang." 
"Oh, reaktif barangkali, Om," kata saya hati-hati mengingat Om Rafael mudah tersinggung kalau dikritik. 
"Ya, ya, ya... sama saja to. Rekreasi dan reaktif itu masih keluarga. Mirip," kata Om Rafael. Dar mengangguk setuju. Saya hendak tersinggung tetapi batal ketika mendengar Om Rafael menjelaskan bahwa sikap reaktif hanya bikin kita terlihat bodoh. 

"Sesekali, Nana dorang harus mengambil momen rekreasi," paparnya. 
"Maksudnya, Om?" 
"Itu ka. Yang tenang sejenak. Mengambil waktu berpikir dengan tenang sebelum kasi tanggapan." 
"Oh. Momen refleksi barangkali, Om. Atau reflektif?" 
"Sama saja, Nana. Mereka masih keluarga."  
Di akhir obrolan, Om Rafael mengingatkan bahwa di suatu masa jumlah orang-orang yang seperti kami akan banyak. Orang-orang yang marah tanpa alasan. Tersinggung sedikit meledaknya banyak. Mereka perlu rekreasi. Nonton Caci Dance di Manggarai. Sesekali.
"Nanti Nana dorang lihat sendiri. Ada orang yang marah-marah padahal baru tahu sedikit tentang sesuatu. Atau ada yang ikut bersemangat menyebar gosip padahal dia tidak tahu apa pun. Pokoknya asal gosip itu tentang orang yang dia tidak suka, dia bersemangat ikut menyebarkan. Orang-orang begitu butuh banyak rekreasi, jalan-jalan, pesiar. Atau mereka akan selamanya bodoh," jelas Om Rafael, kali ini dengan penggunaan kata rekreasi yang benar. 

Lalu dia ceritakan tentang penyebar gosip bahwa dirinya gila. 
"Itu orang memang tidak suka saya dari dulu. Makanya dia sebar berita bohong begitu. Saya curiga, jangan-jangan dia yang kasi rekreasi sehingga saya punya babi-babi mati mendadak," katanya lagi. 
"Rekreasi, Om?" 
"Itu ka, Nana. Yang kasi sesuatu di makanan yang bisa bikin kita sakit sampai mati." 
"Itu racun, Oooooom!" Saya dan Dar berteriak kesal, "Jauuuuuh! Tidak mirip!" 

Om Rafael tidak membantah dan memilih tertawa. Mulutnya merah. Senja juga telah merah. Saya dan Dar pamit pulang. Om Rafael bilang dia senang melihat kami selalu bersama. Dia berharap kami dapat tetap saling menjaga rekreasi kami dengan baik. Saya tahu, maksudnya pasti relasi. Begitulah. 

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores 

*) Diambil dari puisi Surat dari Ibu karya Asrul Sani

2 comments:

  1. sebuah pembelajaran dari om Raphael, yang tidak suka beliau hanya ingin mengetahui nilai negatif yang masih samar samar....dan rasa ingin tahu yang positif soal perbendaharaan Kata. ...ahh tanpa kejadian ini Nana mungkin tak ada namanya Silaturrahim, kata yang kami sering dengar di Makassar. Walau om Raphael bukan kerabat atau keluarga.
    Tradisi yang semakin menipis.... oleh SMS, BBM, bentukan Sosmed lainnya.

    ReplyDelete
  2. Hehehe... terima kasih banyak sudah mampir, Om. Salam ke kota Daeng :-)

    ReplyDelete