Dua Ibu - Cerpen di Lombok Post

Awal tahun 2016 silam saya berkunjung ke Labuan Bajo. Melihat kota itu tumbuh menyenangkan. Dalam perjalanan pulang ke Ruteng, saya membayangkan akan berusaha membuat sebuah cerpen. Inilah cerpen itu, yang akhirnya disiarkan di Harian Lombok Post
dua ibu cerpen di lombok post
Model: Valentina Etind Damon | Foto: Frans Joseph, Ruteng
Judul Dua Ibu pada cerpen ini adalah hasil diskusi dengan Redaktur Lombok Post, Muhary Wahyu Nurba dari Komunitas Sungai Aksara. Beliau redaktur yang ramah. Hormat! Catatan: Beberapa dialog dalam cerpen Dua Ibu ini berutang pada Ivan Nestorman dan naskah Opera berjudul "Ora The Living Legend". Opera ini kami pentaskan di Pantai Pede pada puncak Sail Komodo 2013. 

Dua Ibu


Oleh: Armin Bell 

Lombok Post, 20 April 2016

Aku keluar dari terminal bandara, mengibas butir-butir keringat yang tumbuh di jidat dan ujung hidung. Di belakang, beberapa guide mengejar turis dengan tawaran trip ke pulau-pulau. Dia telah menunggu dengan senyum lebar dan dua tangan terbuka luas. Aku masuk ke sana. Ke dalam pelukan dan wangi cologne. Aku pernah menghirupnya dan telah lama tak menghirupnya lagi sampai hari ini. Seperti hendak menyelesaikan utang, aku tinggal lama di sana. 

“Tetap cantik,” katanya merenggangkan peluk.
“Dan kamu tambah keren,” jawabku setelah terlepas. 

Dia tertawa. Kami berjalan bersisian. Aku menggendong ransel yang berat dan dia menggandengku. Sejak dulu dia begitu. Tak berbasa-basi menawarkan bantuan pada hal yang dilihatnya dapat kulakukan sendiri. Aku suka. 

“Istrimu?”
“Di rumah. Menyiapkan masakan hebat untuk kamu.”
“Dia tidak cemburu?” 

Dia tersenyum. Seperti telah menebak pertanyaan itu akan kuajukan, dia menjawab dengan cerita. 

Tahu bahwa yang datang adalah mantan kekasih suaminya, mereka berbicara sangat lama. Setelah menyimpulkan bahwa mantan kekasih adalah sebenar-benarnya kisah lalu, aku diterima dengan sukacita di Labuan Bajo. Kutangkap itu dari cerita di dalam mobil sepanjang perjalanan ke rumah mereka. Tak ada riak gelombang pada suaranya saat bercerita. 

Kota ini ramai turis. Hendak melihat Komodo. Konon di pulau itu hiduplah suami istri, Wake dan Epa. Mereka dikarunia dua anak, yang seorang diberi nama Gerong dan yang lain Ora. Ora tak berwujud manusia. Menyerupai kadal, dilepaskanlah si Ora ke dalam hutan. Dalam tangis tertahan Wake berpesan pada sebuah upacara kecil di pinggir hutan: “Ora, jangan kau lupakan saudaramu manusia. Kami pun tak akan melupakanmu.” Lalu mereka pulang membiarkan Ora tumbuh sebagai pejuang. 

Baca juga: Sayang Mama pada Film "Cerita dari Lapak"

Cerita itu hidup meski Gerong dan Bapak-Ibunya telah lama mati. Sebagai keturunan Gerong, warga di pulau itu hidup harmonis dengan seluruh keturunan Ora. Demikianlah Komodo ada sampai sekarang dan manusia masih boleh hidup di pulau yang sama, tak saling memangsa meski berbeda. 

“Begitu legendanya,” ceritanya ketika kami kembali dari pulau itu menjelang malam dan berjalan bersisian di Kampung Ujung, tempat para pedagang makanan mulai menata kuliner aneka rasa. Istrinya yang siang tadi tak ikut ke pulau karena sedang haid –Komodo tak suka amis darah, kini bersama kami. Ada juga turis-turis mencari makan. 

Dia dan istrinya bergantian bercerita tentang pariwisata. Tentang gua yang menyembunyikan cermin, tentang pantai merah muda, tentang legenda perpisahan zaman perang di sebuah pantai bernama Pede di ujung kota, dan semua tempat indah di Labuan Bajo ini. 

"Pasti menyenangkan menjadi orang Labuan Bajo," selaku. 
“Tidak semua orang,” kata istrinya. 
“Iya. Tidak semua,” kata dia lalu bercerita tentang kesenjangan ekonomi, tentang masyarakat lokal yang masih tinggal dalam keheranan saat banyak wisatawan yang berkunjung – orang-orang dari luar daerah bahkan negeri cepat menangkap peluang, dan masih pelannya laju pembangunan.
“Pemerintah?” tanyaku heran. Mereka tersenyum, seperti tanda peralihan cerita. 

“Kau tahu kan? Dari semua legenda tentang Naga di bumi ini, hanya Komodo yang berasal dari keluarga manusia. Itu yang membuat hewan ini tetap hidup. Manusialah yang membuat dia bertahan. Persisnya kearifan. Kearifan manusia. Yang dipelihara mungkin bukan Ora, tetapi cerita. Karenanya Komodo lalu memiliki tempat tinggal yang baik. Sayang, pada beberapa situasi kita tiba-tiba menjadi tidak arif karena keinginan personal sehingga tidak hanya mengancam lingkungan tetapi juga sesama manusia,” ceritanya panjang setelah terdiam beberapa saat dalam senyum yang kukenal dahulu.

Seorang pemuda bergitar memainkan Redemption Song tak jauh dari tempat kami menikmati makan malam. 

“Lalu bagaimana?” tanyaku. 
“Lagu bagus. Emancipate yourself from mental slavery, none but ourself…,” istrinya bersenandung. Kupakai itu sebagai jawaban atas pertanyaanku sendiri. 

Di rumah mereka, aku tidur dengan istrinya. Dia di kamar yang lain sampai hari pagi.

“Awang?” tanya istrinya. 
Pertanyaan itu akhirnya datang setelah sejak aku tiba dua hari silam kami sibuk pada topik-topik lain; sebuah strategi menghindar. Bertiga kami nikmati kopi pagi di teras rumah. Kulirik dia, tak ada yang berubah pada raut lelaki itu. Tetap tenang seperti dulu, ketenangan yang mengalir padaku yang semula berencana gelisah menghadapi dialog serupa ini. 
“Awang baik. Sudah kelas sembilan. Pintar. Kemarin juara. Sebentar lagi SMA,” jawabku. 
“Jadi sekolah di sini?” 
“Di sini ada sekolah pariwisata. Nanti Awang bisa belajar sama saya juga.” 

Keduanya bergantian bicara. Suaranya tetap sama tanpa riak gelombang, tenang. 

“Bagaimana?” 
“Entahlah. Nanti bagaimana Awang saja,” jawabku pasrah. 

Awang anakku. Anak kami. Ketika dahulu aku dan dia adalah kekasih. Kami sepakat tak menikah. Dia pulang ke tempat ini, bekerja di bidang pariwisata, dan menikah. Hidupku sendiri berjalan baik sampai suatu ketika Awang bilang akan pergi ke tempat ayahnya. Detik ini kuingat lagi legenda Komodo yang dia ceritakan kemarin. 

“Sebelum melepas Ora ke dalam hutan, Wake dan Epa terlibat pertengkaran. Epa tidak setuju rencana itu. Baginya melepas Ora berarti membuang. Ibu manakah yang rela membuang anaknya sedang seorang ayah saja tak mungkin memberi ular pada anaknya yang meminta roti? Ini anak pemberian Yang Kuasa, kata Epa ketika itu. Wake punya pertimbangan lain: seorang anak hanya dapat hidup di tempat yang tepat. Maka peristiwa itu terjadilah dan alam menerima Ora dengan baik; keturunannya hidup hingga kini.” 

Baca juga: Pergilah ke Sanur dan Mulai Menulis

Pembicaraan tentang Awang tak selesai. Siangku habis dengan gelisah. Ketika senja kami ke Pantai Pede. Berdua saja. Aku dan istrinya. Anak-anak berlari kecil mengikuti langkah panjang seorang turis yang menenteng kamera. “Hallo, Mister. Hallo, Mister,” mereka berteriak berebutan sepanjang jalan. Yang diikuti berhenti sejenak, mengambil gambar mereka lalu meneruskan berjalan dengan raut yang ceria. Tempat ini begitu ramah. 

“Aku akan jadi Ibu yang baik,” kata istrinya. Rautnya arif. Aku tersentak. Angin Pantai Pede berhembus seperti biasa, pecah ombak di pantai, semerdu tetabuh rebana. Kupungut sebatang kayu. Di ujungnya ada cabang berbentuk V. Oleh pawang, kayu model demikian dipakai untuk menenangkan Komodo agar tidak menjadi pemangsa.

Yang kudengar dari legenda itu, kala melihat ranting sedemikian, Komodo akan mengingat bahwa dia dan manusia bersumber satu. Batang itu kubawa pulang. Oleh-oleh untuk Awang. 

Selesai

0 Komentar:

Post a Comment