Ombeng Berterima Kasih Kepada

Kini waktunya berterima kasih. Bukan semata karena Ombeng telah berhasil dipentaskan dan menuai banyak apresiasi, tetapi terutama karena setiap kita memang wajib berterima kasih atas apa saja. Paus Fransiskus menyebut kata terima kasih itu penting, selain maaf dan permisi. Itu! 
ombeng berterima kasih kepada
Tarian "Saeh Go Lino" di Drama Musikal Ombeng | Foto: Frans Joseph, Ruteng

Ombeng Berterima Kasih Kepada...


Karena ini adalah pentas yang melibatkan banyak pemain, tim kerja, sponsor, donatur, seniman, penonton, maka daftar orang-orang yang ada di ucapan terima kasih pasti akan sangat banyak. Menulisnya di satu artikel akan membuat tulisan ini panjaaaang sekali. Saya sendiri merasa, menulis terlalu panjang akan melelahkan. Saya lebih memilih berdoa panjang-panjang untuk mereka semua cie cieee... 

Tetapi Ombeng tetap harus berterima kasih kepada banyak pihak. Sebelum mulai, saya ingin syering pengalaman. Singkat saja. Beberapa hari terbaring sakit dan melewatkan pentas Ombeng di Aula Baru Katedral Ruteng 17 Juni silam membuat saya sadar, roh memang kuat tetapi daging lemah. 

Drama Musikal Ombeng sendiri seperti ditakdirkan keren sejak pertama kali bertemu. Buktinya? Pentas besar dengan tiket terjangkau itu sukses besar. Kalau tidak percaya, tanya Guru Don dan Muder Yuliana yang bela-belain datang dari Paurundang hanya untuk lihat Ombeng.

Saya sendiri harus kucing-kucingan dengan panas tubuh yang meninggi secara periodik dan berharap segera berlalu agar bisa sekadar melihat persiapan pentasan tersebut. Saya berhasil. Membolos dari sakit dan mampir di aula tanggal 17 Juni siang, sehari setelah umur saya menjadi 36. 36 saja, tanpa A atau B atau C; karena ini umur dan bukan ukuran yang lain. 

Saya lihat di tempat itu Peik Paus, dkk. sedang utak-atik panggung dengan modal pengalaman di beberapa tempat. Mereka bekerja dalam hening dan rapi. Di barisan tim musik, Pompy Pojus dan Rian kini ditemani pasukan lengkap Family Project (Rio dan Donald). Romo Risal sudah mulai memimpin check sound. Aman sudah. 

Saya pulang. Menunggu panas datang lagi, reda lagi, panas lagi, dan rumah sakit. Begitulah... saya melewatkan momen menyaksikan teman-teman saya tampil, justru di tempat kami sendiri, Aula baru Katedral Ruteng, tempat kami bermain sehari-hari. Seperti kasih tak sampai. Tetapi saya tetap senang.

Selama di rumah sakit dan berjuang menahan jengkel pada demam berdarah yang menyerang, beberapa teman datang dan bercerita tentang kerennya Ombeng pada tanggal 17 Juni itu. Keren dan murah. Itu penting. Lalu saya ingat, betapa banyak pihak yang telah membuat pentasan di beberapa kota itu berhasil baik. 

Baca juga: Sore Cerita - Dongeng untuk Anak di Ruteng

Saya wajib berterima kasih kepada mereka: 

Para Seniman


Yang menginspirasi; beberapa nama wajib disebut di sini karena pengaruh karya mereka pada mood saya menulis naskah. Ivan Nestorman, musisi besar yang telah dengan begitu baik menawarkan menulis lagu-lagu baru untuk pentasan ini tetapi saya tolak karena gugup. Apa? Lagu baru? Saya bisa apa nanti? Maka kepada Kae Ivan saya bilang, "Saya mau main dengan Ngkiong Le Poco dulu, Kae." Beliau setuju, plus merelakan beberapa lagu lainnya. 

Kata Ombeng bahkan bersumber dari satu lagu karya seniman besar ini: Gego Lau Gego Le. Selain Kae Ivan juga ada Ka Illo Djeer yang telah membuat lagu Mai Sae terdengar begitu merdu dan memanjakan. Enak. Lagu ini kabarnya ditulis oleh Om Herry Tanis dan kami mendapat izin memainkannya di Ombeng. Tanpa izin mereka, rasanya kami tidak cukup percaya diri mementaskan drama musikal ini.

Para Supervisor


Orang-orang yang dengan sukarela meluangkan waktu membaca draft awal Ombeng dengan menggunakan kacamata akademik dan pengalaman, lalu memberikan catatan-catatan baik sehubungan dengan perbaikan naskah, dan lain-lain. Beliau-beliau ini bahkan juga hadir pada saat gladi bersih dan memberikan beberapa komentar perbaikan. Saya bersyukur bahwa interaksi dengan mereka membuat Ombeng berjalan dengan baik. 

Mereka adalah rohaniwan dan budayawan Romo Ino Sutam, ahli bahasa Romo Bone Rampung, penulis naskah teater/seniman Romo Edy Menori, akademisi seorang dosen sastra di STKIP St. Paulus Ruteng Marcelus Ungkang, Pater Piet Pedo Neo, SVD. 

Para Donatur


Sahabat-sahabat yang dengan penuh gembira mendukung kegiatan ini padahal beberapa dari mereka berada jauh dari Ruteng dan tidak akan bisa menikmati secara langsung drama musikal ini. 
Saya sangat beruntung berkenalan dengan orang-orang baik seperti itu. Ada Ka Watty Rahman Mahal di Jakarta, adik ipar Elna Hadi juga di Jakarta, Ka Yani Rewos, Frans Joseph a.k.a Kaka Ited, Family Project Ruteng, beberapa teman yang bergabung dalam sindikat orang keren, dan tentu saja istri saya tercinta yang tidak pernah tanya kenapa saya selalu minta uang lebih. Luph you phul cie cieee.. 
Sudah sejak lama mereka menjadi sponsor kegiatan kesenian saya, bahkan tanpa diminta. Bumi penuh orang-orang baik demikianlah ombeng berterima kasih selalu. 

The Team


Semua orang yang terlibat secara langsung di Ombeng, baik sebagai pemain, make up artist, tata panggung dan lampu, sound system, musik, tim air minum, konsumsi dan lain-lain. Guys, benar-benar kehormatan bisa bekerja dengan kalian semua e. Asli! Kita ini tidak ada hubungan darah tetapi saya boleh marah-marah. Maaaan, kalian keren e.

Nanti kalau ada garapan baru, kita kerja lebih rapi dan lebih bersenang e. Saya akan mengurangi cakar pinggang dan menggantinya dengan cakar dinding barangkali.dan kita akan tetap mengutamakan stenga *lol 

Para Director


Mereka yang bekerja berdasarkan keahlian masing-masing untuk kesuksesan pentasan ini. Yup, saya memang menyutradarai pentasan ini. Tetapi hal-hal teknis itu dilakukan oleh orang-orang ahli. Maka hadirlah music director Pompy Pojus dan Rian, stage director Peik Paus, choreographer Febry Djenadut dan Putri, sound director Romo Risal Baeng, choir coordinator Livens Turuk, acting coach Erick 'Ujack' Demang.

Baca juga: Gerimis dan Hujan, Sekumpulan Puisi

Mereka yang bikin semua penonton terperangah dan pesona tak terbantah cie cie cieee. Sedang saya? Anggap saja sebagai dirigen yang juga bertugas memeriksa apakah bedaknya Adeng Crova sudah pas dengan karakternya sebagai suami dari Yolland Mbukut, atau apakah selendangnya Sintus sudah dipegang dengan benar. 

Media


Semua koran, media massa online, radio, pegiat media sosial, yang telah dengan gembira hati mewartakan kegiatan kami. Foto-foto kami ada di koran dan ternyata itu rasanya keren. Suara kami terdengar di radio dan itu menyenangkan. Ada ficer tentang Ombeng di media online dan di-share berkali-kali dan itu membuat kami terkenal. Ombeng rasanya sempat jadi trending topic lokal dan itu mencengangkan. Media berperan sangat besar dan ombeng berterima kasih untuk itu. 

Produser


Yang telah memercayakan saya menggarap kegiatan ini dengan leluasa. Semoga di kesempatan selanjutnya, berdasarkan pengalaman Ombeng, kita menjadi lebih siap mengguncang dunia panggung dan terutama kaum muda di Manggarai. Terima kasih Romo Frans Sawan. 

Jadi begitu. Ombeng berterima kasih kepada semua pihak itu. Yang tadi sudah saya sebutkan dan tentu saja yang selalu ada dalam hati yakni para penonton. Orang-orang yang dengan penuh kerinduan memenuhi undangan kami, bertepuk tangan, dan pulang ke rumah dengan cerita yang baik. Terima kasih telah memberikan kami kesempatan berbagi. Selanjutnya, mari menulis komentar, kritik, saran, dan lain-lain tentang Ombeng, agar di pentas selanjunnya kami menjadi lebih baik. 

Salam 
Armin Bell
Ruteng, Flores

2 comments:

  1. Semua ini mengingatkan saya pada suatu masa (sebelum era Pak Armin dkk), ketika halaman pastoran di katedarl menjadi tempat kami 'bernyanyi dan bermain'.. dan ruang2 pastoran diwarnai gelak tawa kami. Kami mudika paroki Katedral pada masa itu (2002 - 2005) dua kali mengadakan pementasan (drama musikal)..kalau tdk salah yg pertama dulu judulnya Kalau Perempuan Angkat Bicara, yg satunya lagi sy lupa (drama musikal natal). Ada Pa Manto Tapung dan Pa Jeffrin sbg sutradara, kami sbg pemain, dan ada beberapa nama di atas yg juga terlibat aktif dlm pementasan tsb. Juga dgn lagu2 Om Ivan yg luar biasa.. time flies but Om Ivan songs still remain. Utk Pa ARmin jangan pernah lelah mendampingi anak2 muda kita. Mereka butuh ruang utk menumpahkan mereka pu kreativitas. Selamat berkarya! Kami tunggu karya2 berikutnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di era itu saya masih jadi penonton karena baru balik Ruteng. Salah satu pentasannya membuat saya kenal dengan beberapa anak Mudika, termasuk the very talented Ramlan Ponggo. Saya senang bisa bergabung dengan mereka akhirnya, dan keterusan sampai sekarang hehehe.

      Delete