Drama Musikal Ombeng itu Bagaimana?

Drama musikal Ombeng akan pentas di beberapa kota. Di Ruteng bahkan harus dilaksanakan dua kali. Tentang itu, tentu saja bukan urusan saya. Ada produser dan tim produksi yang mengurusnya. Lha... trus saya? Tugas saya dimulai akhir 2015 silam. Begini ceritanya... :-D 
drama musikal ombeng itu bagaimana
Drama Musikal Ombeng

Drama Musikal Ombeng itu Bagaimana?


Sebagai persiapan untuk setiap pentasan, seluruh tim Ombeng berkumpul. Dialog pada dasarnya sudah beres dua minggu sebelum pementasan pertama dilaksanakan (Sabtu, 23 April 2016). Tari juga begitu. Lagu apalagi. Yang nyanyi itu ya yang biasa nyanyi di Ruteng ini. Langganan juara lomba pula. Maka beres.

Yang dibicarakan lagi dan berulang biasanya adalah pola lantai. Yang soal siapa berdiri di mana saat dialog, siapa ada di ujung panggung sebagai titik kunci, siapa keluar panggung paling awal, de el el. Harap maklum, ini pentasan yang lumayan kolosal (iya kah?). Sehingga, selalu memikirkan pola panggung menjadi penting agar tampak simetris karena ini pentasan live dan kita tidak bisa crop panggung. Saat itulah beberapa pertanyaan masuk ke japri: "Mengapa buat drama musikal Ombeng?" 

Menjawab satu per satu akan membuat daftar pekerjaan menjadi lumayan panjang padahal mau tidak mau saya juga harus pura-pura sibuk berpikir tentang bedak pupur apa yang cocok untuk wajah para pemain, atau pelembab apa yang pas untuk jenis kulit para lelaki Manggarai. Ya, para lelaki juga harus dibedaki. Ini pentasan live dan mereka harus tampak cantik, para lelaki itu. Eh... maksudnya tentu saja ganteng. Maka begitulah saya memutuskan menulis ini sebagai semacam jawaban singkat tentang 'mengapa Ombeng' tadi. 

Ombeng itu ceritanya adalah salah satu kata dalam bahasa Manggarai, berhubungan dengan gaya, dan atau keindahan. Sesuatu yang dapat menumbuhkan kekaguman karena citarasa seni yang muncul dari gaya atau sebuah tampilan. Orang yang berkesenian dengan indah dapatlah disebut sebagai orang yang 'ombeng'. 

Saya agak sulit menentukan apakah dia kata benda, kata sifat, kata kerja, atau malah semuanya; paling tidak itu yang saya tangkap dari pengalaman nonton caci atau pentas budaya Manggarai lainnya selama hidup saya.

Tentu saja saya harus memastikan arti leksikal kata ini dengan membaca kamus Manggarai milik Pater Jilis Verheijen, SVD tetapi saya belum sempat baca. Kata Ombeng menjadi akrab kembali dengan saya setelah berulang mendengar "Gego Lau Gego Le"-nya Ivan Nestorman, si musisi aneh dari Flores itu. 

Maka ketika diminta menulis naskah yang berhubungan dengan kaum muda, kata Ombeng adalah yang pertama kali muncul di kepala. Pada proyek ini saya memastikan judulnya di bagian awal, dan narasi utuh baru hadir setelahnya; sesuatu yang tidak biasa. Jadi, saya bungkus dulu judulnya, baru mulai berpikir: "Mau bikin cerita apa?" Itu akhir 2015 silam, saat Manggarai begitu sibuk dengan politik dan saya malah bermesraan dengan Om Rafael dan semua cerita uniknya. 

Pilkada selesai dan kita ada di 2016. Romo Frans Sawan, Ketua Komisi Kepemudaan Keuskupan Ruteng selaku pimpinan proyek mengingatkan bahwa kami sudah ada di Januari akhir dan pentas dijadwalkan bulan April karena kami juga harus bersiap-siap untuk Indonesian Youth Day 2016 di Manado. "Bagaimana naskah?" Saya jawab: Beres, Romo.

Lalu pulang ke rumah, membuka netbook dan mendapati sebuah file bernama "Drama Musikal - Ombeng". Saya klik. Terbuka. Tertera tulisan ini: 

OMBENG
Sebuah Drama Musikal
Oleh: Armin Bell

BABAK I
...semoga sukses menyelesaikan naskah ini.....
...............

Hanya itu. Selanjutnya adalah lembar putih ukuran A4 yang begitu polos dan menyilaukan. Saya belum bikin apapun. Betapa, yah... ckckckck. Sejenak terpana, beberapa saat merana, saya lalu membuka beberapa file rekomendasi Sinode III Keuskupan Ruteng tentang kaum muda. Dan, begitulah. Ombeng saya tulis dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Saya membayangkan beberapa seniman lain ketika menulis ini termasuk peluang mereka berkreasi melalui dan di dalam naskah yang saya susun kebut tiga malam. 

Hampir malam di Jogja, ketika keretaku tiba... halaaah. Kok malah nyanyi. Begitulah... Ada wajah koreografer andalan saya Febry Djenadut, musisi yang akan terlibat Pompy Pojus dan Romo Risal Baeng, Peik Paus di bagian lampu dan tata panggung, de-el-el. Beberapa wajah calon pemain juga muncul di langit-langit kamar, terutama Erick Ujack Demang aktor favorit saya, membuat naskah menjadi lumayan lancar. 

Lalu saya minum kopi. Anda juga silakan minum kopi. Catatan ini ternyata masuk dalam kategori panjang sehingga anda berhak menjedanya dengan segelah kopi, entah yang ke berapa hari ini. Kopi Manggarai jika dapat. Itu begitu hebat rasanya. Bagaimana? Sudah? Mari kita teruskan...  

Baca juga: Tokoh Utama Senang Bernyanyi

Draf awal jadi, waktunya diajukan ke produser yang ternyata sudah bersama tim supervisor naskah yang pengalaman dan kompetensi akademiknya bikin saja jejer, gemetar. Ada budayawan Romo Dr. Ino Sutam, dosen sastra Njeuk Ungkang, pakar bahasa Romo Bone Rampung, dan penulis naskah kawakan Romo Edy Menori. Mereka baca, mereka kasi catatan dan saya pulang dengan senang hati. Naskah saya lolos. Tak ada perubahan mendasar. 

Btw, sampai di sini belum ada jawaban tentang mengapa Ombeng kan? Begitulah... Kalau menulis, saya selalu begitu. Agak berputar. Ke kiri-ke kanan, seperti menari barangkali. Ah, ya... Drama Musikal Ombeng. Mengapa ombeng? Karena pentas ini memang adalah sepenuh-penuhnya Ombeng. Di satu panggung, dalam satu cerita, semua kesenian kami mainkan dengan porsi yang sama, tidak ada satu jenis yang mendominasi dan tidak ada satu yang hanya berposisi sebagai suplemen. 

Saya dan beberapa teman yang merancang ini di bagian awal punya niat semulia ini: penari harus menari sebagai pentasan utama, penyanyi juga demikian, penutur apalagi, musik begitu pula, tata panggung pun begitu. Ambisius mungkin. Tetapi siapa pun yang kami rasa memiliki jiwa seni harus mendapat porsi yang sama untuk ber-ombeng ria di panggung Ombeng. 
Jadi, Drama Musikal Ombeng terutama berkaitan dengan aksi panggung. Lalu cerita? Lha, iya... cerita juga berhubungan dengan per-ombeng-an. Untuk sampai kepada pesan puncak tentang usaha mencari jembatan antara kemajuan tekhnologi dan kearifan budaya, naskah ini harus kiri-kanan-depan-belakang dulu. Ombeng keta ho'o. Seorang perempuan muda harus hamil, seorang Ibu menangis lara, Bapa Tua harus ikut modern dance dan seorang dosen STIKES St. Paulus harus pakai baju seragam SMA. Kiri kanan keta ho'o. Ombeng.  
Begitu kira-kira. Belum terjawab? Ah, nontonlah kalau sempat. Atau kontak saya via email supaya dapat naskahnya hihihi. Tetapi kira-kira begini saja. Kami ingin menyampaikan sesuatu dengan cara yang lain.

Kabarnya, panggung kesenian adalah tempat terbaik mengusulkan sesuatu bahkan ketika itu usulan paling kasar sekalipun, kelompok yang disasar tetap tidak tersinggung. Paling tidak, tidak langsung tersinggung di tempat kejadian. Apa pasal? Ya, karena di tempat kejadian mereka begitu senang, terpesona, larut dalam citarasa seni yang bisa bikin bahagia, tertawa, sedih, menangis. 

Setelahnya, setelah mereka pulang ke rumah masing-masing, setelah mengambil jeda atas rapture of the deep moment, ingatan tentang pentas itu dipanggil kembali dalam situasi batin yang lebih netral.

Baca juga: Bougenville Pada Sebuah Perjalanan

Saat itulah poin-poin penting dari pentas seni--sekiranya ada--lalu menyeruak, menjadi diskusi yang berujung pada pencarian solusi. Kingaiiii e aeh... mulia betul. Ombeng yang kami maksudkan itu begitu. Lagi pula, orang muda memang wajib menguasai teknik ombeng ini, terutama ketika pintu-pintu lain telah ditutup. 

Itu seperti kalau kita mengungkapkan cinta pada seseorang dan dia jawab 'sudah ada yang punya', kita bisa berkelit santai dengan bilang: "Tadi saya cuma becanda, koq!", lalu pulang rumah dan menggigit sandaran kursi. Begitu. Lha, hubungannya? Silaken difikirken sendiri. 

Yang pasti, drama musikal ini wajib berterima kasih ke cukup banyak orang. Karenanya saya tidak menyampaikannya di sini; akan cukup panjang daftarnya. Akan hadir beberapa catatan lain tentang Ombeng itu bagaimana. Sekarang, izinkan kami menyiapkan diri untuk pentas di beberapa tempat lagi. Kita bertemu di tempat kejadian perkara, dalam cinta, dalam rasa, lalu datang entah apa, mungkin dendam atau apa... eh... ini dialognya Celly Djehatu kan? Ooops... 

Salam
Armin Bell
Ruteng Flores

0 Komentar:

Post a Comment