Om Rafael Tanggapi Sepak Bola Menyerang

Semoga kita sudah maklum bahwa Om Rafael adalah manusia segala bidang. Maksudnya tentu saja orang yang merasa menguasai semua bidang. KEPO barangkali. Knowing Every Particular Object. Macam tau semua, tapi sedikit-sedikit. Isssh...! 
om rafael tanggapi sepak bola menyerang
Sepak bola menyerang | Dok. RanaLino.ID

Om Rafael Tanggapi Sepak Bola Menyerang


Om Rafael tahu banyak hal dan setiap hal diketahuinya sedikit-sedikit. Suatu kali dia berkomentar tentang pesawat terbang, kali lain tentang strategi bertarung, kali berikut tentang cara memelihara babi. Pernah sekali dia curhat dengan peliharaannya di kandang babi. Apa saja dapat dia komentari asal dia tahu sedikit.

Kali ini dia bicara tentang sepak bola. Ya, Om Rafael menanggapi soal sepak bola menyerang. Bayangkan! Dari puisi, ke kungfu dan kini sepak bola. Ckckckck...

Tim sepak bola Paurundang, PS Gempar berhadapan dengan tim sepak bola Rego, PS Solider, pada babak semifinal. Penonton ramai. Saya menduga, mereka ingin melihat kedigdayaan Gempar dan terutama saya berlanjut. Pada beberapa pertandingan sebelumnya selalu mencetak banyak gol. Delapan gol ketika melawan PS Lambananga dari Nggilat dan lima gol ketika melawan Tureng. 

Di tim Rego, ada Renyald Pongkor, striker hebat yang punya sejarah gol cukup banyak pada babak penyisihan. Guru Don dan Muder ada di deretan penonton--dua orang yang selalu hadir dalam setiap detik hidup saya, juga Om Rafael. Tepuk tangan membahana dari sudut lapangan. Dari tempat suporter Gempar berkumpul. 

Baca juga: Kampanye

Pertandingan berlangsung seru, lengkap dengan baku kejar orang dan baku tunjuk, tapi tidak sampai berkelahi. Saya cetak dua gol dua. Remy juga. Baku balas. Di ujung pertandingan kami lengah. Tercipta gol baru dan Rego keluar sebagai pemenang. Penonton kecewa. Saya juga, meski gelar top scorer sudah di tangan: 15 gol dan masih menyisakan satu pertandingan, perebutan tempat ketiga. 

Tentang mengapa kami kalah, banyak yang bilang karena faktor adat. "Tidak bisa lawan anak rona e, Armin. Biar jago bagaimana, mereka yang pegang kita punya wakar. Terima saja itu kekalahan," kata seseorang ketika saya terlihat duduk dan menangis di tepi sungai Piedra ...eh. 

Pokoknya, intinya, dalam  adat Manggarai, posisi kami orang Paurundang adalah sebagai anak wina (keluarga perempuan, biasa juga disebut woe/weta) dan keluarga saudara laki-laki adalah orang Rego. Jika kalian ke Manggarai, pasti akan tahu bagaimana kami berlaku pada saudara. Menghormati dengan sepenuh hati dan patuh. Melanggar sabda anak rona bisa berakibat buruk. Itu yang kami yakini.

Saya hampir saja percaya bahwa kekalahan kami pada pertandingan sepak bola antarkampung tersebut berhubungan dengan peta anak wina-anak rona, sampai ketika datang Om Rafael. 

"Kamu terlalu konsentrasi menyerang, Nana. Lupa bertahan. Sampai kejar lawan dan mau bekelai itu keterlaluan. Emosionalisme kamu tadi," tembaknya. 
"Emosi saja, Om. Tidak pake onalisme," kata saya. 
"Itu? Kau mulai krestik eh kripik eh kritik saya lagi. Tidak berubah. Sama saja waktu kau kecil. Padahal sudah tamat SMA," serangnya.

Baca juga: Kritik Tak Pernah Sepedas Kripik

Saya diam. Dia melanjutkan analisisnya atas kekalahan kami. Menurut Om Rafael, barisan pertahanan PS Gempar lemah. Akibatnya menjadi cenderung main kasar saat diserang. Koordinasi kurang.

"Nah, karena bek sudah emosionalistis, kamu di depan juga ikut emosionalisasi. Akibatnya, alih-alih berpikir tentang menambah gol, kamu malah sibuk cari kaki lawan. Gagal to? Sudah begitu, kamu punya stok pemain bertahan juga kurang. Kurang bekal alias toe do bokong." 
"Bokong, Om?" tanya saya dan melirik ke bagian belakang tubuh saya. Rasanya porsinya masih benar, tidak ndiget, tidak juga tepos. 
"Toe bokong ngong pantad tah. Bukan bokong yang pantat tapi bokong bahasa Manggarai untuk bekal," sergahnya. Saya setuju. 

Beberapa bulan setelahnya, saya ke Malang. Kuliah. Sebelum berangkat, Om Rafael sempat menitip pesan.

"Armin, ingat kekalahan lawan Rego? Itu karena kalian menyerang dengan emosionalistisisme. Fatal. Nanti kalau kau sudah jadi orang, kalau sudah tamat sekolah, kalau mau serang orang, harus banyak bekal. Do koe bokong. Perbanyak bekal. Dalam hal apa saja. Juga kalau mau berdebat. Kalau tidak, kau akan terlihat bodoh ketika pendapatanmu dibantah dan kau tidak mampu jawab," katanya. 

"Pendapat mungkin, Om?"
"Itu! Kau mulai krentik saya lagi. Pokoknya, eme toe do bokong (tak cukup bekal), ketika dibantah kau akan membabibuta. Menyerang lawan bicara bukan lagi pada pendapatannya tetapi pada kepribadinya."
"Pendapat, Om. Dan pribadi," kata saya lagi.
"Kau dengar dulu ka. Jangan kristik."
"Baik, Om." 
Dia lalu bicara tentang ketelanjangan kebodohan saat kita berdebat tanpa data tetapi ngotot. Biasanya lalu mengungkit masalah-masalah pribadi lawan bicara, membawa-bawa nilai rapor dan transkrip nilai kuliah, membawa macam-macam lain yang dapat menjauhkan diri soal. 
Bertahun-tahun setelahnya, saat ini, saya sering mendapati diri sendiri sebagai orang seperti yang Om Rafael ceritakan. Ketika kesadaran itu muncul, saya biasanya melarikan diri dari debat. Tidak ingin terjebak dan telanjang. Karena kalau telanjang, bokong saya biasa-biasa saja, tidak ndiget, tidak tepos, tetapi sekseeeh. Eh. 

Ketika menulis ini, saya berusaha untuk tidak memancing emosionalitasiasi siapa pun. Btw, sekarang saya masih jadi striker, tidak sehebat dulu tetapi tetap sepercaya diri dulu. Oh iya, di akhir turnamen, saya jadi top scorer. 17 gol dalam satu turnamen. Belum ada yang berhasil lawan. 

Salam 
Armin Bell
Ruteng, Flores

0 Komentar:

Posting Komentar