Om Rafael Jelaskan Tentang Roda

Ada banyak kata di muka bumi ini yang bunyinya sama tetapi dimiliki oleh orang-orang dari suku atau negara yang berbeda. Di Indonesia, beberapa kata di KBBI bisa jadi berbunyi sama dengan kata bahasa daerah Nusantara. Tetapi berseberangan arti. 
om rafael jelaskan tentang roda
Roda dan Pembangunan di Manggarai Barat | Foto: Armin Bell

Om Rafael Jelaskan Tentang Roda


Bahwa ada situasi seperti itu--kata dengan bunyi yang sama tetapi berbeda arti--selalu ada cara untuk menghubungkannya. Ada saja. Dan Om Rafael adalah salah seorang tokoh yang memiliki kemampuan menghubungkan itu. Saya kagum cie ceee... 

Karena kemampuan itulah, Om Rafael saya datangi. Di halaman rumahnya saya mendapatkan penjelasan yang sama sekali berbeda. Apakah saya kecewa? Tidak. Saya hanya kuciwa, eh? Perasaan itu muncul ketia dia menjelaskan tentang hubungan antara roda yang dikenal orang Manggarai dan roda yang dikenal bangsa Indonesia. Saya baru melihatnya dan mendapati bahwa ternyata....*silent... keduanya tidak berhubungan. Oh.

Pohon jambu di belakang rumah Om Rafael berbuah lebat ketika itu. Sebuah alasan tambahan mengapa sore itu saya ke sana, mengabaikan trauma digigit anjingnya seminggu silam. Untuk kenikmatan, manusia kadang senekat itu.

Pemilik jambu menyambut hangat. Anjingnya menggonggong lembut. Saya lihat mata anjing itu lalu bilang: "Sudahlah. Lupakan. Meski kita berteman, saling melukai kadang terjadi. Saya maafkan!" Dia menggonggong lagi, lebih lembut. "Sama-sama," kataku membalas ucapan terimakasih itu. 

Di bawah pohon jambu, Om Rafael menanti dengan jambu-jambu yang sudah dipetiknya, dan sekotak cerita. Di langit terdengar lagu tentang persahabatan dari lirik puitis nenek moyang; "Neka koah nung kota, neka beghah nung kena!"

Baca juga: Pada Sebuah Panggung

Di Ruteng, kita akan mendengar ini sebagai neka koas neho kota, neka behas neho kena, yang mengisyaratkan tentang pentingnya persatuan seumpama batu-batu bersusun dan pagar yang dijalin rapi. Tetapi masa kecil saya di Pateng - Rego, Bro, maka dialeknya menjadi demikian. Begitulah. 

Senja itu Om Rafael jelaskan tentang 'roda'. Bukan yang sinonim ban, tetapi yang berarti 'terlalu', 'terlampau', 'sangat'. Berasal dari ungkapan "Neka roda bail", jangan berlebihan/terlampau. Misalnya kalau membenci sesuatu, jangan terlalu, 'neka roda bail'. 
Ya, segala sesuatu memang sebaiknya jangan terlalu, 'neka roda bail'; kecuali mencinta, saat kau tak mampu membuat batasan apa pun, tak mampu memegang kendali, cie cieee.
"Mengapa?" tanyaku. 
"Karena tidak ada hal yang benar -benar buruk!" 
"Lalu?" 
"Kalau demikian, sesuatu yang kau benci hari ini, mungkin akan kau peluk mesra kemudian hari." 
"Masalahnya?" kejarku. 

"Masalahnya, ketika kau terlampau mengumbar kebencian hari ini, mungkin akan sulid kalau suatu saad Nana mau jabad erad dia punya tangan. Ai (karena) sudah telanjur mbermbotah keta tida'n le ghau ata ghitu (engkau mengeluarkan maki-makian yang buruk tentang orang itu). Imi amah semol'n sepiha! (Kau akan salah tingkah. Sedikit kesulitan bersikap wajar)" 

"Berarti memang neka roda bail. Jangan berlebihan," gumamku. 
"Yo'i. Karena hidup itu roda yang berputar, Mameeen," kata Om Rafael. (Oe darad, sui se jiri gaul'n kole ata tu'a gho'o gah? Haissss

Jambu di tangan kami habis. Saya mau petik lagi. Tapi Om Rafael bilang: "Neka roda bail ghang jembu, jaga beti tuka." (Jangan terlalu banyak makan jambu, bisa sakit perut.) 

Bertahun-tahun kemudian... 

Saya tinggal di zaman media sosial, sudah bisa naik pesawat terbang, sudah melihat banyak tempat, jendela-jendela terbuka lebar. Berhamburan maki-makian, roda ketay, sungguh terlalu, hate speech di mana-mana. Apa kata Om Rafael kalau dia tahu? 

Kuingat, sepulang Pemilu yang pernah saya ceritakan itu, kepada Guru Don, Om Rafael bilang, "Jaman dihe Armin sepiha, toe danga bae hiang sama tau'd ata. Roda bael pintar dihe sepiha." (Pada zaman Armin besar nanti, mereka akan kesulitan menghargai orang lain. Mereka akan tiba di masa mereka terlampau pintar). Guru Don tersenyum. Di rumah, kepada saya, Guru Don mengingatkan bahwa di atas segalanya, dunia akan membutuhkan banyak stok orang baik. 

Hari ini, rasanya saya tak berniat melucu. Mungkin karena saya merasa, dinding-dinding media sosial sahabat saya sudah lucu. Orang-orang hebat memaki-maki. 
Sangad lucu menurud aku sengata. Oe darad, neka koe roda bail ta. Le mai ghitu, ahe ka'e kin ite ghoo. Ahe kae toe le nunduk. Le mai mangga masing mangga lereng. Seni-seni ked mohe ghoo. (Betapa lucu rasanya. Ah, seharusnya jangan terlalu. Setelah setiap perbedaan pendapat yang tajam hari ini, kita tetaplah saudara, seperti sejak dulu kala. Hiduplah dengan seni/indah). 
Ketika menulis status ini di akun facebook saya, saya membayangkan suasana Natal yang tidak terlampau penuh bahagia di kota kecil kami karena perbedaan pilihan politik yang membuat banyak orang bermusuhan, terlampau kasar saling menghina. Kebahagiaan mungkin hanya ada di rumah-rumah, tetapi tidak dirayakan secara bersama; sesuatu yang berbeda dengan Natal-natal sebelumnya.

Dan ternyata benar. Natal 2015 silam, tak banyak lampu Natal di kota kami. Sendu. Oh iya, tentang Natal, lagu favorit Om Rafael itu judulnya "O iya". Dia selalu bersemangat menyanyi: O ooo O ooo O ooo iya, in excelcis Deeeooo... 

Pertanyaan terbesar saya pada setiap situasi beda pendapat yang memunculkan hate speech adalah: "Bagaimana mereka akan kembali?" Jika kau politisi, situasi tentu akan jauh lebih mudah. Tinggal ator koalisi, lihat peluang, lalu baku mesra lagi. Tapi kalau kau adalah seorang biasa? Bagaimana kau menyapa orang-orang yang pernah kau lukai dengan brutal? Neka roda bail ta! 

Tetapi tentu saja sedikit sulit. Saya menghubungi tokoh yang oleh sesuatu hal saya tempatkan pada posisi sulit. Saya jelaskan bahwa sebuah langkah telah dilakukan sebagai pembenahan. Dia bilang, "Seharusnya langkah itu sudah menyelesaikan soal. Tetapi tentu tidak bagi orang-orang yang negatif."

Barangkali soalnya di sana. Kita hidup dalam kebencian. Atau telanjur benci? Untunglah di Manggarai ada pepatah yang mengajarkan agar kita tidak hidup dalam kebencian: nggoling di toni -  nggolong du gong, one wae's laud - du leso's saled. Ini baik sekali karena hidup dalam kebencian itu menyakitkan; apalagi kalau yang dibenci ternyata baik-baik saja.

Salam 
Armin Bell
Ruteng, Flores

2 comments: