Om Rafael tentang Usia, Sebuah Awal

Kisah Om Rafael Tentang Usia Manusia ini adalah bagian paling awal dari seluruh catatan tentang Om Rafael di blog ini. For your information, cerita-cerita seputar Om Rafael berawal dari status-status panjang di akun facebook saya akhir tahun 2015 silam. 
om rafael tentang usia sebuah awal
Tentang Usia | Foto: Armin Bell

Om Rafael tentang Usia, Sebuah Awal


Kesibukan Pilkada di Kabupaten Manggarai mulai terasa sejak awal tahun 2015. Situasi berlangsung semakin seru memasuki pertengahan tahun. Saat itulah catatan ringan yang menempatkan Om Rafael sebagai tokoh utama mulai saya buat di facebook; sebuah usaha memberi komentar lucu tentang cara orang-orang kami berkampanye.

As you know, Pilkada kami itu berlangsung ‘sangat seru’ karena yang terlibat hanya dua pasang kandidat. Sepasang dianggap sebagai calon yang matang—oleh pihak lawan dianggap sebagai “sudah tua”--, dan yang lain adalah calon yang dianggap mewakili generasi muda—dipandang sebagai ‘anak baru—oleh pihak lawan. Perang isu berlangsung sengit!

Pada kisah catatan ini, Om Rafael mengingatkan agar dalam situasi apa pun kita tidak perlu lagi berpikir tentang usia; kecuali tentu saja pada beberapa hal seperti tontotan televisi atau bacaan-bacaan, kita perlu berpikir tentang kategorisasi berdasarkan umur. Iya to? Selamat mengikuti #Eh

Om Rafael Tentang Usia Manusia: Neka Pika Umur


Om Rafael, pada suatu ketika memberi petuah tentang usia. Usia tak perlu dijual karena tak ada yang beli. Andai usia manusia diminati untuk dibeli, berapa harga dapat ditetapkan kepadanya? Dan bukankah itu artinya orang-orang kaya akan banyak yang berumur panjang?

Mari kita mulai dengan alih bahasa; ke Indonesia, neka pika umur kira-kira berarti: usia jangan dijual. Sayang sekali, terjemahan bebas tersebut tidak banyak membantu usaha memahami ungkapan Manggarai itu. Saya mendengarnya ketika kecil, sedang bermain dengan ekstrim di pohon Nangka di samping rumah dinas Guru Don di Pateng. 

Melompat dari satu dahan ke dahan lain, sedang uji nyali sepertinya, atau sedang menjaring pujian. Anak kecil kan memang hidup dari pujian, iya toh

Baca juga: Ahok, Kita Buka Gading, Kan?

Lalu datang Om Rafael. Dia bilang, "Nana, neka pika umur gega ghitu ta!" Yang saat itu saya tangkap adalah; dengan bermain ekstrim, berlompat-lompat di dahan Nangka, saya mungkin akan cepat mati. Misalnya jatuh dengan posisi kepala ke bawah, leher patah dan serentak putus napas sebelum sempat bilang "Mama, tolong!" 

Neka pika umur adalah semacam ungkapan agar kita sayang nyawa, boleh melompat-lompat, tetapi di tanah saja bukan di dahan Nangka. Jangan jual nyawa! Begitu kira-kira maknanya dalam kasus saya; neka pika umur gega ghitu ta, dapatlah diterjemahkan sebagai: sayangilah nyawamu ketika sedang bermain; berhati-hatilah. 

Bertahun-tahun kemudian saya menjadi dewasa. Di lain tempat, di Kota Ruteng. Pada suatu ketika, orang-orang sedang ramai jualan usia. Ada dua tokoh yang maju sebagai calon pemimpin, yang seorang berusia muda, yang lain tidak.

Lalu para pendukungnya memakai usia itu sebagai bahan jualan. Bahwa muda itu enerjik, atau bahwa yang tua itu berpengalaman. 
Ah, kok ya usia dijual? Apa tidak ada hal lain? Maksud saya: Apakah kalau muda itu artinya mampu?; Apakah kalau muda itu artinya tidak/belum cukup mampu?; Apakah kalau tua itu artinya mampu?; Apakah kalau tua itu artinya tidak lagi/kurang mampu? 
Saya lalu ingat Om Rafael itu dahulu dan nasihatnya untuk neka pika umur. Mungkin salah satu maksud ungkapan itu juga adalah untuk situasi seperti hari ini. Kalau benar demikian, mestilah yang dipikirkan untuk dijual adalah hal lain, asal jangan umur. Kan umur memang tidak bisa dijual to?

Baca juga: Indonesia Negeriku Amnesia

Yang bisa dijual kan banyak: pisang goreng, pisang bakar, pisang satu tandan, sambil nyanyi Pisang Bola-bola, atau juga jualan nangka, mangga; pokoknya bukan umur. Soalnya, susah menentukan harga umur. Sekilo berapa? 

Nah, tentang neka pika umur, seperti umumnya larangan dalam ungkapan Manggarai, ungkapan itu juga bersayap. Neka daku ngong data, neka oke kuni agu kalo, neka lage alu, neka hang toe tanda-neka inung toe nipu; siapakah yang dapat benar-benar memberi terjemahan singkat? Butuh kalimat panjang-panjang agar kita bisa mengerti. 

O iya, tentang nasihat Om Rafael dahulu, saya akhirnya sadar bahwa itu berarti: jangan cari hal kalau masih mau makan Nangka. Begitulah.Namanya juga terjemahan sekenanya.

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

0 Komentar:

Posting Komentar