Om Rafael Menjelaskan Paradoks Pertarungan

If you want peace, prepare for war. Jika mendambakan perdamaian, bersiap-siaplah menghadapi perang. Si vis pacem, para bellum. Pepatah Latin itu seperti ngajak perang. Damai hanya diperoleh melalui perang? Sa tir tau, tir mau debat. Sa tukang cerita
om rafael menjelaskan paradoks pertarungan
Jeda Pertarungan. Caci di Ruteng, Manggarai | Foto: Armin Bell

Om Rafael Menjelaskan Paradoks Pertarungan


Om Rafael gemar berkomentar. Memberi komentar apa saja. Dari sudut pandang yang dia rangkai sendiri. Membiarkan orang lain mencari sendiri artinya atau jika berani melakukan konfirmasi. Resiko konfirmasi adalah konfrontasi. Dan mohon diingat, jangan pernah melakukan konfrontasi dengan Om Rafael. Karena baginya, konfrontasi adalah sosialisasi penggunaan kondom kepada seluruh masyarakat. See?

Om Rafael kadang semulia itu. Menjelaskan sesuatu dengan berapi-api dan pada beberapa kasus mau tidak mau memaksa kita untuk mencari artinya. Semoga kita mafhum, Om yang satu ini kerap memakai istilah-istilah yang menurutnya sendiri telah benar sementara menurut kita hanya mirip secara bunyi. Bagaimanapun, seperti angin, Om Rafael berhembus dan berlalu cie cieee...

By the way, bukankah judul tulisan ini adalah sesuatu yang cuka minyak? Meminjam ungkapan populer zaman dulu yang dipopulerkan lagi oleh seorang teman Tuang yang sekarang di luar negeri, setelah menulis judul tulisan di atas, saya harus bilang: Kingai! Ngeri bon betul ini judul tulisan e aeh, macam pentiiiing sekali. 

Baca juga: Ruang Kosong - Cerpen di Antologi Telinga

Begini ceritanya. Suatu malam, saya dan Om Rafael bertemu di Pastoran. Bersama puluhan masyarakat kampung lainnya, kami numpang nonton tivi hitam putih di pastoran; satu-satunya pesawat televisi di kampung kami ketika itu.

Ada film Jet Lee sepertinya. Atau Bruce Lee? Lupa-lupa ingat saya. Pokoknya Kungfu. Mereka bertarung di tivi, sampai berdarah-darah. Warna hitam darahnya, karena di tivi hitam putih pertarungannya, iya to

Kami senang karena Jet Lee--atau Bruce Lee--menang. Serentak semua bertepuk tangan. Seorang Ibu bahkan serentak melakukan tanda salib, menyentuh kepala-dada-bahukiri-bahukanan, mensyukuri kemenangan itu. Ada kabar bahwa keesokan harinya ada umat yang mempersembahkan intensi khusus pada Misa hari Minggu sehubungan dengan peristiwa itu. Saya tidak tahu pasti, karena tidak pergi Misa. Terlambat bangun. 

Tetapi kisah itu memang menarik. Bukan filmnya, tetapi reaksi kami. Tentang mengapa tokoh utama bisa menang, tentu saja sudah diskenariokan. Tetapi tidak begitu yang Om Rafael tangkap. Dalam perjalanan pulang, Om Rafael katakan dengan yakin: "Dia menang karena bertarung tanpa kemarahan!" 

Ini dia ternyata alasan judul status ini tampak begitu penting dan kingai ngeri bon. Bukankah itu paradoks? Ada orang bertarung tetapi tidak marah-marah tetapi menang. 
Om Rafael bilang, kalau kita bertarung, bertarunglah dengan tenang. Jangan emosi. Apalagi kalau kepala bermuatan bara dendam. Bisa berabe kita. Karena marah, kita membabibuta. Strategi bertarung menjadi tidak dipikirkan dengan baik, asal pukul; mau kena syukur, tida kena biar to? Bertarung, bukankah hanya dilakukan ketika kita sedang marah? Terus Om Rafael minta kita bertarung dengan tenang? Cilaka
"Di situ seninya," kata Om Rafael. Bahkan ketika kita sadar bahwa berkelahi itu negatif, kita harus tetap melakoninya dengan energi positif. Kingai e. Lanjut Om Rafael, "Dalam energi positif, kesumat dipoles menjadi semangat. Semangat untuk menang. Bukan untuk menghancurkan lawan. Kelengahan lawan yang bertarung membabibuta bahkan bisa kita gunakan sebagai senjata kemenangan kita. Seperti yang dilakukan Barry Prima tadi. Lihat tadi to?" 

Saya tercenung. Setuju. Tetapi sepertinya ada yang salah. Lalu saya bilang, "Tadi kita nonton Jet Lee, Om!" Om Rafael tertawa tetapi tidak mau disalahkan. Dia bilang, "Sama saja ka. Mereka itu satu keluarga masih." 

Kami telah tiba di persimpangan. Om Rafael ke kiri, saya ke kanan. Pulang ke rumah. Sebelum berpisah, Om Rafael mempromosikan anjingnya dengan cara yang sangat kreatif. Katanya, anjingnya itu tertib. Bisa diperintah duduk, kencing teratur dan seni. Kadang kencing sambil angkat dua kaki. Seni!

Saya penasaran. Beberapa hari setelahnya saya berkunjung dan terjadilah kisah itu: Anjing Om Rafael menggigit regot saya. Epik. Paketnya saya bawa hingga kini. 

Dan Om Rafael tidak persis menyebut paradoks dulu. Sepertinya dia bilang: "Ingatlah ini saat kau besar; tentang parameks pertarungan: jangan bertarung kalau sedang marah, jangan marah-marah kalau sedang bertarung. Benar-benar butuh parameks!‪ 

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

2 comments:

  1. Om Rafael punya lutut tidak rapat di aspal e...
    kadang untuk menang cukup dengan 'ketenangan', 'kesederhanaan'....santai.
    jadi rindu ketemu Om Rafael di Ruteng

    ReplyDelete
  2. Hahahaha... itu sudah, Om. Sesuatu yang sederhana, daya gunanya kadang sangat mengejutkan :-) Salam hangat

    ReplyDelete