Om Rafael Memuji dan Mengenang

Katakan padaku hai tukang kayu (halaaah, malah nyanyi). Maksudnya, katakan padaku sekarang siapakah di antara kita yang tidak memerlukan pujian. Pasti tidak ada. Seperti kenangan, pujian adalah kemestian dalam hidup cie cieee... 
om rafael memuji dan mengenang
Memuji | Dok. RanaLino.ID

Om Rafael Memuji dan Mengenang


Salah satu hal yang membuat hari seseorang menjadi lebih baik adalah pujian. Di lain tempat, orang-orang yang terlampau sering mengenang masa lalu adalah sesedih-sedihnya manusia #eh?. Prolog ini sungguh tidak penting karena yang paling penting adalah anda harus segera menyiapkan kopi. Tulisan ini akan sangat hebat, dan segelas kopi adalah teman yang tepat. Di Ruteng, kopi selalu benar. Ehm... 

Ada dua hal yang mau Om Rafael kisahkan pada bagian ini. Tentang peranan pujian yang kadang membutakan dan tentang betapa kenangan tak dapat dipakai sebagai bahan jualan. Aduh... 

Peristiwa saya digigit anjing om Rafael di regot tampaknya telah terkenal. Paling tidak beberapa orang telah mengikuti kisah tragis, pilu dan lara itu di dinding facebook saya. Semakin lama, dinding facebook saya penuh cerita itu, berbaris-baris, mungkin seperti barisan semut di dinding Obbie Mesakh yang bertanya: "Sedang apa di sini?" Lalu Om Obbie menjawab merdu: "Menanti pacar!" Jujur amat, Om? Sama semut ini. *smile

Pokoknya begitulah. Kisah tragis romantis masa kecil itu ternyata melahirkan banyak cabang yang mau tak mau harus dikupas perlahan agar tak berair mata halaaaah... Ini bukan bawang dari Reo, Armin! 

Saya ingat, setelah digigit saya tidak menangis. Tegar. Seperti lagunya Rossa mungkin. Dan karenanya saya mendapat pujian dari Om Rafael. Katanya: "Armin memang hebat!" Dikatakannya juga pendapatnya itu kepada orang-orang yang lewat. "Hebat memang Armin. Tidak menangis padahal regotnya digigit anjing," katanya.

Baca juga: Pulang - Cerpen di Antologi Telinga

Orang-orang yang lewat itu setuju dan mengulangnya seperti litani: "Memang Armin hebat!" "Memang hebat Armin!" "Hebat Armin memang!" Saya mendengarnya berulang-ulang, sampai akhirnya saya merasa saya memang hebat. 

Sayangnya saya lupa konteks. Sampai sekarang, berbekal pujian Om Rafael di masa kecil saya merasa saya memang hebat. Bahkan kalau ada yang tidak percaya bahwa saya memang hebat, saya akan minta orang itu untuk tanya langsung ke Om Rafael. "Kalau tidak percaya, coba tanya Om Rafael!" kata saya murka meninggalkan mereka yang kebingungan tentang Om Rafael yang mana? 

Ah... saya benar-benar lupa konteks. Pujian tentang kehebatan saya itu sebenarnya hanya untuk peristiwa: Saya tidak menangis setelah regot saya digigit anjingnya Om Rafael! Bukan peristiwa lain. 

Saya bahkan cenderung payah di peristiwa lain. Saya pernah menangis bombai di tengah hutan ketika ban sepeda motor saya pecah. Cemen. Saya juga menangis ketika di sebuah pertandingan sepak bola Pentekosten, kakak saya berkelahi dengan pemain lawan. Solidaritas yang aneh. Bukannya ikut membantu kakak saya tetapi saya malah menangis. Ketika itu saya baru saja cetak gol, cie cieee. Perayaan yang aneh ya? Sudahlah. 

Intinya, karena Om Rafael pernah bilang "Armin memang hebat!", saya lalu merasa benar-benar hebat. Saya bahkan pakai pujian Om Rafael itu sebagai bekal menarik simpati. Membabi-buta. Menjual Om Rafael dengan menghilangkan konteks sebenarnya ketika pujian itu disampaikan. Haissss... 

Lalu saya dengar, ternyata bukan hanya saya yang begitu. Hari-hari terakhir ini, banyak yang mengutip sedikit saja pendapat orang lain tentang sesuatu asal dianggapnya pemberi pendapat itu adalah orang hebat dan sebagian pendapatnya dapat mendongkrak daya jual mereka. Ho ho ho ... Mereka serentak lupa konteks. Ckckckck... Tetapi apa sebenarnya konteks? 

Sambil kalian memikirkan jawabannya, saya akan berikan jawaban saya. Konteks adalah merk celana dalam pria yang pernah sangat populer beberapa belas tahun silam. Ooops, itu bontex ya? Atau mungkin konteks adalah pewarna kuku? Apa? Salah juga? Mungkin konteks adalah ungkapan kita pada pacar yang telah hilang tetapi kita masih jatuh cinta berat, lalu kita bilang: Pleaseeee, konteks to me, My Darling - Mi Amo 

Mari membahas kenangan asal jangan merengek kepada mantan. #ApaSih? 

Om Rafael memang penuh pesona. Lho? Saya sendiri hanya mampu mengenang bekas luka/paket dari masa kecil; gigitan anjing Om Rafael di regot. Bahwa kenangan itu baik, bisa saja iya. Tetapi membawanya sepanjang hayat dikandung badan mungkin bahaya. Apalagi jika dipakai sebagai penarik simpati. 

Sendal topsy dan daimatu adalah puncak ekosistem di masa lalu, tetapi hari ini merk-merk baru bermunculan, mungkin sebenarnya dari perusahaan yang sama dengan topsy tetapi mereka mengganti brand. Ps: Kisah toko sepatu sudah dipost sebelum tulisan ini.

Nah, untuk yang selalu memakai kenangan kehebatan masa lalu sebagai jalan meraih kesuksesan masa kini? Move on, Bro. Bahwa kau atau bahwa keluargamu pernah hebat di masa lalu, yuks, jadikan itu kenangan. Jangan dibawa-bawa. Ada koper di kamar, kan? Simpanlah di sana kisah-kisah itu, seperti saya menyimpan kisah anjing Om Rafael bertahun-tahun lamanya dan ketika dituturkan kembali, hanya untuk lucu-lucuan. 
Tak elok rasanya menjaring simpati dengan jalan menjual kenangan. Basi! Jangan sampai malah jadi seperti meme: "Seorang laki yang sedang bermain ombak di pantai, ditemukan tewas tergulung kenangan masa lalu". Iya, toh? Do something good today, maka kau akan hebat dan dicintai esok hari. See? 
Tentang kenangan, saya ingat Dar, teman SD saya. Ada aturan di sekolah bahwa setiap bertemu guru, para murid harus bicara dalam bahasa Indonesia. Suatu hari, tanpa sengaja, Dar menabrak guru. Bukan sembarang guru. Guru Bahasa Indonesia.

Dar gugup. Mau minta maaf, bagaimana mengungkapkannya dalam bahasa Indonesia. Neka rabo? Itu bahasa Manggarai. Dar panik. Tegang. Kami semua menunggu apa yang akan terjadi. 

Untunglah Dar segera tahu, cara meminta maaf dalam bahasa Indonesia. Dengan yakin dia sampaikan: "Terima kasih, Pak!" Lalu pergi. Kami semua lega. Bersama Dar, saya pergi ke rumah Om Rafael... halaaah 

Tidak lucu? Ya, sudah. Namanya juga usaha. Yang menurut saya lucu adalah mereka yang menjual kenangan atau ingin menghidupkannya lagi. 

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

0 Komentar:

Post a Comment