Om Rafael Meminta Kita Diam

Pada suatu hari, saya meminta tips dari Om Rafael. Tips itu berhubungan dengan kejadian yang melibatkan saya, Om Rafael, dan anjing miliknya. Saya mendambakan tips: bagaimana menghadapi anjing yang mengamuk? 
om rafael meminta kita diam
Diam | Foto: Armin Bell

Om Rafael Meminta Kita Diam


Reaksi paling spontan ketika seekor anjing terlihat hendak menyerang adalah teriak, melompat, lari, sambil memanggil secara bergantian pihak-pihak berikut ini: Tuhan, Mama, Bunda Maria, Yesus, atau Hansip. Begitu biasanya. Tetapi apakah itu adalah cara yang tepat? Om Rafael bilang: Kau sudah seperti lagunya Ruth Sahanaya saja. Kelereng. Eh, maksudnya KELIRU. Itu cara yang keliru! 

Sebagai bentuk perlawanan, diam adalah salah satu pilihan. Tentu saja kita semua mengingat Mahatma Gandi jika mengingat ini. Saya juga baru saja membaca buku anak--rangkaian buku sepekan; ada tujuh buku--Seven Habits. Habit pertama adalah You are in charge. Memegang kendali atas diri sendiri. Salah satu kendali itu bernama diam. Kok bisa? Bisa kok. Bacalah *smile

Bahwa saya pernah digigit anjing dan pelaku utama penggigitan adalah anjing milik Om Rafael, kisahnya telah beberapa kali muncul entah sebagai berita utama atau sisipan saja pada bagian-bagian sebelum kisah ini. Bagian tubuh saya yang digigit adalah regot, semua juga telah mafhum. Cerita anjing menggigit regot ini tentu saja akan muncul juga pada postingan-postingan lainnya. Seperti hari ini. 

Berdasarkan fakta bahwa gigitan itu meninggalkan paket pada regot saya, Om Rafael memberi nasihat beberapa hari kemudian. Nasihat itu muncul karena saya meminta tips menghadapi anjing. Maka, sasaran nasihat kali ini adalah saya; selaku korban.

Baca juga: Negeri Tak Punya Salah

Saya sempat tergoda untuk bertanya ketika itu tentang apakah anjingnya juga sudah dinasihati, tapi batal. Tidak tega rasanya mengusik urusan beliau berdua ‪#‎eh‬

Karena nasihat berarti pelajaran yang baik, saya mendengarnya dengan sungguh-sungguh. Pakai acara mengangguk-angguk pula--biar dapat kesan bahwa saya anak yang perhatian. Entah karena ketika itu saya mendengarnya dengan sungguh atau karena di waktu-waktu berikutnya saya semakin sering mendengar nasihat serupa, saya lalu hafal isi nasihat itu dan mengingatnya sampai sekarang. 
"Kalau ada anjing sedang dalam posisi akan menyerang, jangan bergerak. Diam. Mematung bila perlu." Maksudnya menjadi seperti patung, bukan membuat patung. Kan yang terakhir itu butuh keahlian ‪halaaah‬. 
Mematung, atau sikap diam kita akan membuat anjing mengalami dilema. Dia ragu. "Apakah ini manusia atau patung?" pikir anjing itu. Semakin lama kita mematung, semakin yakin anjing itu bahwa kita adalah patung. Lalu anjing itu pergi karena anjing manakah yang rela menggigit patung? 

"Begitu saja?" tanya saya. 
"Begitu saja!" jawab Om Rafael lalu pergi. Tinggal aku sendiri, terpaku menatap langiiit. Barangkali di sana ada jaw.... hush, koq malah nyanyi? Haissss

Bertahun-tahun kemudian saya memakai resep itu tidak lagi dalam bonteks, eh, konteks regot, anjing dan gigit. Ada peristiwa lain yang membuat saya memakai mode diam. Saya diterpa isu.

Tidak tanggung-tanggung. Isu besar. Beredar berita, saya kaya raya. Punya harta berlimpah. Orang memanggilku, bos eksekutif, tokoh papan at... huh, nyanyi lagi. Pokoknya isu itu dipakai bukan untuk memuji tetapi sebaliknya. Entah skenario apa yang sedang mereka mainkan, yang pasti niat mereka buruk. 

Saya buat apa? Saya ingat nasihat Om Rafael tentang diam. Maka saya diam. Mendengar untuk kemudian membiarkan isu itu berlalu seperti kekasih yang tak dianggap. Karena saya tahu, selain sakit perut tengah malam di tempat yang airnya macet, tidak ada yang mampu menyaingi sakitnya diabaikan. Diabaikan itu sakit, Kawan. Iya, to

Hasil tindakan mengabaikan itu adalah: isu berhenti, saya baik-baik saja dan terus melangkah, pembuat isu sibuk memikirkan isu baru untuk menjatuhkan saya. Do you see what i'm trying to say? Nah, lihat, saya pakai bahasa Inggris sudah. Penting berarti ini. Karena penting, teruskanlah membacanya. Karena membaca itu penting ting ting ting. Ayu mana Ayu? Haisss. 

Begini. Saya hanya mau bilang, hari-hari pembuat isu akan dia pakai untuk memikirkan kita. Dia lupa berpikir tentang dirinya sendiri. Sedang kita? Mengabaikannya dan terus melangkah. Lalu menang. Lalu lari ke arah penonton yang bersorak. Mengajak mereka menyanyi: "Oleee ole ole oleee, olee, oleee." 

Kekasih yang tak dianggap adalah yang paling lara. Kalau tidak percaya, tanyakanlah pada Pinkan Mambo. Apa itu lara? Lara adalah sinonim dari jalan, aturan/sistem. Kita harus menggunakan lara-lara yang sportif kalau ingin menang. Laranya? Fikirken sendiri. 

Suatu ketika, seseorang benar-benar mengatakan kepada saya bahwa hampir setiap saat dia berusaha melihat apa saja yang saya lakukan. Setelahnya dia merancang sesuatu agar dapat membuat hal yang telah saya buat itu terlihat tidak baik atau bukan unggulan.

Saya tanya, "Serius? Kau memikirkan saya setiap hari?" Dia mengangguk yakin dan saya katakan kepadanya bahwa tidak sekalipun saya berpikir tentang apa yang dia buat. Saya lalu melihatnya menggigit ujung kursi, eh, maksudnya kuku. 

Salam 
Armin Bell
Ruteng, Flores

0 Komentar:

Post a Comment