Om Rafael Bilang Motiwasi, Saya Protes

Di pentas politik, Om Rafael muncul sebagai orang yang bangga karena merasa dirinya non partisan. Dia senang berkomentar, berkomentar sembarang *lol
om rafael bilang motiwasi saya protes
Ekspresi ketika mendengar Om Rafael ngotot *lol

Om Rafael Bilang Motiwasi, Saya Protes


Apa saja yang keluar dari mulut Om Rafael adalah sesuatu yang penting. Paling tidak menurut dirinya sendiri. Masih menurut pandangannya sendiri, semua istilah yang keluar dari mulutnya adalah kebenaran. Om Rafael antikritik, tetapi di saat yang sama adalah orang yang baik.

Dia hanya agak tidak senang dengan saya yang kerap membuat perbaikan atas beberapa kata yang maksudnya saya tangkap tetapi bunyinya lari jauh. Tentang ini, Om Rafael biasanya bilang: "Yang penting Nana bisa tangkis maksud saya to?" Nah, itu. Maksud dia tentu saja tangkap dan bukan tangkis. Adohaiiii.... Mati sudah! 

Kali ini Om Rafael ngotot bahwa kata yang benar adalah motiwasi. Saya tentu saja protes karena itu lebih mirip sebagai gabungan dari dua kata: moti --> bunyinya mirip Poti (kata bahasa Manggarai yang artinya setan) dan wasi --wasit: pemimpin pertandingan. Padahal maksud Om Rafael jelas bukan setan yang menjadi wasit #eh #ApaSih? 

Saya lalu frotes eh... protes keras.

Motivasi, Om. Bukan motiwasi, apalagi motilasi. Iya, motivasi. Kalau motiwasi itu saya tidak tahu artinya. Kalau wasit sih saya tahu. Saya punya Bapakoe kan wasit sepakbola hebat di zamannya, jadi saya tahu. Nah, kalau motilasi itu terdengar mirip sesuatu yang berarti potong-potong sesuatu menjadi bagian-bagian terpisah lalu dibungkus karung, dibuang ke hutan.

Sampai di sini tiba-tiba ingat Dian Sastro: "Kulari ke hutan, kemudian teriakku..." Oh, Dian Sastro, jangan lari (lho?). 

Baiklah. Ini tentang motivasi seseorang terjun dalam pentas politik. Untuk apa kira-kira? Untuk diri sendirikah? Untuk orang banyakkah? Atau bukan untuk apa-apa? Motivasi seseorang menjadi sangat penting. Jadi yang akan dibahas di sini adalah tentang motivasi yang benar. 
Tentang motivasi yang benar, mungkin baik kalau yang kita pikirkan adalah bagaimana agar kita dipersepsikan baik dan bukan agar orang lain terlihat buruk atau tidak baek. Itu motiwasi, eh, maksudnya motivasi yang tidak baek. Mengapa tidak baek? Mungkin karena mirik taek? Hihihi. Bukan. Inilah yang mau saya bahas. 
Jadi, Om, motivasi yang tidak baek itu hanya membuat kita selangkah di belakang orang lain? Kenapa selangkah? Ya, kalau 1000 langkah, saya jadi ingat Jikustik dengan lagunya "1000 Langkah Lamanya"... Ooops, maaf pemirsa ternyata lagu itu berjudul "1000 Tahun", ya? Atau? Pokoknya selangkah di belakang; alasannya, kita baru bisa menjatuhkan dia kalau kita tahu dia akan buat apa.

Baca juga: Saya Mama pada Film Cerita dari Lapak

Anjing milik Om Rafael dahulu pernah menggigit regot saya. Regot adalah bagian belakang lutut. Lutut adalah bagian di depan regot. Halaaah. Lutut adalah lutut. Masa situ ndak tau? Pokoknya itu. Anjing itu mengigit regot saja.

Terkait itu, dapatlah saya dengan bangga menceritakan bahwa anjing yang dulu merampas daging di regot saya itu, memutuskan melakukan perbuatan tercela itu (hehehe), setelah dia tahu bahwa saya akan melangkah. Bahwa dia berhasil menggigit saya, itu satu soal. Tetapi soal utama adalah, dia tetap ada di belakang saya pada peristiwa itu, iya toh? 

Dengan mengambil posisi di belakang saya, saya ada di depan dia, iya tidak? Heyloooo, ya, iyalah. Kalau dia di depan berarti saya yang gigit dia punya regot dan Om Rafael akan marah-marah: "Orang kok gigit anjing. Guendeng!" Lalu juga akan ada di berita: "Seorang Anak Menggigit Regot Seekor Anjing". Aduh, ini postingan sudah mulai tidak jelas. Haissss, ngomong opo iki... 

Marilah kita kembali ke paragraf awal. Yang saya maksudkan mungkin begini: Kalau mau main bola--wasitnya pasti bukan saya punya Bapakoe, karena beliau sudah pengawas pertandingan nasional--motivasinya harus supaya kita menang dan bukan supaya lawan kita babak belur.

Begitu, Om. Iya, keduanya berbeda. Seperti langit dan jamban, terutama dalam penerapan strategi dan pengelolaan emosi. 

Orang yang mau menang itu akan merancang strategi dengan manis dan cenderung percaya diri. Sebaliknya, orang yang mau 'kasi kala orang lain' (baca: apa saja asal lawan menderita) itu auranya lebih banyak negatifnya, sehingga caranya mungkin akan brutal. Itu tidak baek. Bisa dibenci, lho, Om (cieee, pake 'lho' skali saya eeee). 

Mau bukti? Anjing milik Om Rafael langsung dikorbankan sebagai hidangan sambut baru setelah peristiwa dia menggigit regot saya. Kalau saja dia tidak menggigit dengan brutal, mungkin dia masih diperbolehkan menikmati perayaan Natal dan baru pergi pada tahun baru ketika itu. Halaaah... anjiiing lagi disalahkan. 

Baca juga: Poster Cinta Lingkungan Masih Perlu atau Sudah Basi?

Lalu Om Rafael manggut-manggut. Mengambil batu dan hendak mengusir anjing yang berniat mengigit regot saya. Dilemparnya batu itu sekuat tenaga, terlampau kuat, melampaui anjing sasaran dan batu menyasar kaca jendela tetangga. Praaaang... Saya terbangun. Rupanya dialog tadi adalah mimpi. Saya terlampau ingat Om Rafael sepertinya. Mengingatnya di musim politik. 

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

3 comments:

  1. Saya selalu tersenyum saat membaca artikel ka Armin, lucu saja membacannya. Seperti motiwasi diatas mengingatkan pengalaman sy. percakapannya persis diatas. Sy juga satu blooger dari Ruteng, mungkin kita (blogger) bisa dibuat grup berawal dari grup facebook saja dulu. Karena setahu saya banyak juga blogger Ruteng yang tulisannya saya temui saat browsing. Terima kasih

    ReplyDelete
  2. Hehehehe... terimakasih sudah mampir. Tabe

    ReplyDelete
  3. Tentang ide membuat grup komunitas blogger asal Ruteng, baik kalau itu bisa diwujudkan e. Saya juga mengenal banyak blogger di Ruteng. Nanti coba dibahas lebih lanjut. Tabe

    ReplyDelete