Romana dan Nene Tina - Cerpen di GSS

Romana dan Nene Tina adalah cerpen yang pernah disiarkan di Majalah Gita Sang Surya.
romana dan nene tina cerpen di gss
Ilustrasi cerpen "Romana dan Nene Tina" | Foto: Armin Bell

Romana dan Nene Tina 


Oleh: Armin Bell

Kelak setelah dewasa, dia belajar mengenal arti namanya dari Buku Orang-orang Kudus. Tetapi dia masih gadis kecil hari ini, ketika ayah dan ibunya terlambat pulang. 

Hari sudah mulai malam. Gelap datang dari bukit-bukit di pinggir kampung. Romana sendiri di tangga depan rumah menatap ke barat. Dari tempat matahari tenggelam itu, Ayah dan Ibunya akan datang. Hari-hari sebelum hari ini mereka selalu pulang sebelum gelap; sudah ada di rumah saat Romana masih di dapur mengatur bara di tungku pada bagian akhir tugasnya menanak nasi. 

Nasi telah tanak sejam lalu. Artinya Ayah dan Ibu lebih dari satu jam lamanya terlambat. Padahal waktu-waktu setelah waktu menanak nasi adalah waktu membuat sayur. Ibu dan Romana akan melakukannya bersama dan selalu seperti itu. Bukan Romana tak bisa sendiri. 
Bersama Ibu akan selalu lebih mudah dan menyenangkan, sayuran yang akan dimasak setiap hari menjelang makan malam adalah sayur segar yang dibawa dari kebun mereka sendiri: sebuah bonus. 
“Halo anak gadis, kenapa duduk di tangga? Sudah malam. Tak baik anak perempuan duduk di depan rumah jam-jam begini,” kata perempuan tua di kampung mereka yang lewat di depan rumah. Nene Tina demikian perempuan yang tinggal sendiri ini biasa dipanggil. Ada teong di gendongannya, tabung bambu sebagai tempat mengisi air.

Ada juga keranjang dari jalinan buluh di tangannya berisi pakaian-pakaian yang selesai dicuci. Nene Tina baru pulang dari kali, akan kembali ke rumahnya. Kain songke dikemben begitu saja di atas dada sebagai pakaian, tanpa atasan. Selalu begitu dan pada jam yang sama.

"Masih tunggu Ame dan Ine, Nene Tina,” sahut Romana. 
“Oh, mereka belum pulang,” sahut perempuan itu lalu berlalu. 

Baca juga: Dua Senja

Tidak lama dia kembali lagi dan mengajak Romana ke rumahnya. Tak baik menunggu sendiri di depan rumah karena hari sudah mulai gelap, katanya. “Nanti kalau mereka pulang, pasti menyusul ke rumah. Mungkin tadi ada yang harus mereka kerjakan lagi di kebun sehingga pulang agak terlambat." 

Romana menurut. Ditulisnya pesan pada sobekan kertas dari buku catatan pelajarannya, diletakkannya rapi di atas meja di ruang tamu tempat. Pasti nanti Ayah lihat, pikirnya. 

Mereka berjalan bersisian ke rumah Nene Tina, beberapa menit jaraknya. Perempuan tua itu tetap menggendong teong berisi air yang jernih dari mata air di ujung kampung, sedang Romana membantu menjinjing keranjang pakaian basah. 

“Sudah kelas berapa, Romana?” 
“Kelas empat, Nene.” 
“Berarti sebentar lagi sambut baru . Kapan itu? Bulan depan?” 
“Iya, Nene,” sahut Romana, lalu bercerita tentang kegiatannya di sekolah beberapa hari terakhir.

Pada setiap jam pelajaran terakhir, semua anak kelas empat akan didampingi guru agama dalam sesi latihan berdoa. “Saya sudah lancar doa dalam bahasa Manggarai, Nene. Yo Ema Dami, Tabe-o Maria, Aku Imbi, Naring-koe Lata*) dan lain-lain,” ceritanya. 

Nene Tina memujinya dan berharap Romana tetap rajin berdoa. 
“Apa pun yang terjadi dalam hidupmu, berdoa adalah hal yang utama. Entah sedang sedih atau senang, kau harus berdoa. Untukmu, untuk orangtuamu, juga untuk orang-orang yang sudah meninggal dunia.” 


Mereka sudah tiba di rumah Nene Tina. Di ruang tamu sedang menunggu perempuan tua itu selesai menjemur pakaian basah dan menyalin dirinya, Romana menyalakan pelita sambil mengingat Ayah Ibunya. Mereka adalah keluarga petani yang bahagia. Romana anak satu-satunya, perempuan kecil yang selalu tersenyum dan tak pernah mendengar Ayah Ibunya berteriak-teriak satu kepada yang lain. 

Bahkan ketika mereka sedang berdebat keras tentang sesuatu, tak akan terdengar suara-suara percakapan itu dari luar rumah mereka. Padahal rumah itu hanya berdinding lencar, bambu-bambu tua yang disasak rapi dan menjadi seperti papan. Seluruh hidup di rumah mereka selalu berjalan teratur.

Maka hari ini Romana serentak merasa gelisah karena ada kejadian yang tak lagi seperti biasa, Ayah dan Ibu belum pulang ketika waktunya telah tiba. 

“Sudahlah. Tidak usah sedih. Nanti makan malam di sini saja. Kalau mereka pulang, pasti akan datang ke sini menjemputmu,” kata Nene Tina. Seluruh ritual setelah mandinya selesai dan kini beranjak ke dapur menyiapkan makan malam untuk mereka berdua. Nene Tina tinggal sendiri. Suaminya telah lama mati. Dua orang anaknya merantau. Seorang ke kota, yang lain ke Malaysia. 

“Bagaimana rasanya tinggal sendiri, Nene?” 
“Biasa saja. Awalnya memang terasa menyedihkan. Kesepian. Tetapi akhirnya terbiasa. Biar mereka tidak ada di sini, saya tahu mereka ada di suatu tempat dan tetap mengingat saya dalam doa-doa. Itu saja sudah cukup,” jawab perempuan tua itu, lalu bertanya kenapa Romana menanyakan pertanyaan demikian. Romana tak menjawab dan mulai menangis. 

Nene Tina tahu, perempuan kecil itu sedang membayangkan hidup sendiri tanpa kedua orangtuanya. 
“Hussh… jangan berpikir yang bukan-bukan. Ayah Ibumu hanya terlambat. Itu biasa. Orang-orang kadang sesekali terlambat. Bukan apa-apa,” hiburnya dan entah mengapa mampu menghentikan tangis. 

Perempuan tua itu lalu bercerita tentang anak-anaknya yang sesekali mengiriminya uang. Tentang anaknya yang di kota akan segera menikah dengan perempuan pilihannya. Tentang anak perempuannya di Malaysia yang setia mengirim surat sekedar berbagi cerita tentang hidupnya sebagai pembantu rumah tangga. Tentang kabar dari mereka yang kadang-kadang datang terlambat.
“Kau lihat, Romana? Tidak semua hal datang pada saat yang kita inginkan. Kadang kau harus menunggu sampai tiba waktu yang tepat. Bukan untuk kau, tetapi untuk semua.” 
Romana bertanya apa itu waktu yang tepat, Nene Tina menjawab bahwa waktu yang tepat adalah waktu yang benar-benar tepat untuk semua orang. 

“Misalnya tadi orangtuamu belum tiba di rumah pada waktu biasanya, maka pasti waktunya belum tepat. Mungkin mereka masih harus menyelesaikan sesuatu dan tepat saat itu saya lewat di depan rumahmu dan sekarang kau ada di sini dan kita bercerita tentang banyak hal. Semua terasa tepat, bukan hanya untuk orangtuamu, tetapi juga untuk kau dan untuk saya. Kita tidak pernah bicara seperti ini sebelumnya bukan?” katanya lalu meminta Romana menyalakan api di tungku sedang dia sendiri sibuk menyiapkan hal lain. 

Romana tak mengerti tetapi berjanji dalam hati akan mengingat percakapan itu. Berdua mereka juga bicara tentang banyak hal. Tentang hidup orangtua Romana yang selalu jadi panutan. Tentang Romana yang akan terus tumbuh menjadi gadis remaja, dewasa lalu menikah; lalu kembali lagi bicara tentang doa. 

“Tadi saya berdoa semoga Ame dan Ine baik-baik saja. Saya berdoa dalam hati saja,” cerita Romana. 
“Maka mereka akan baik-baik saja,” sahut Nene Tina yang meminta agar Romana tidak hanya berdoa untuk orang-orang dekat tetapi juga untuk orang lain, “Untuk saya juga.” 

Tiba-tiba terdengar suara ramai dari luar rumah. Romana bergegas ke ruang tamu sedang Nene Tina masih di dapur. Dibukanya pintu depan, di hadapannya serombongan orang datang. Sebagian membawa obor dan empat orang lelaki dewasa tampak menggotong tubuh seseorang yang terbujur kaku. Hari sudah malam. Di antara kerumunan orang-orang itu, Romana melihat Ayah dan Ibunya datang bergegas menghampiri. 

“Romana. Kenapa kamu ada di sini?” tanya Ayahnya. 
“Yang digotong itu siapa, Ame?” 
“Itu Nene Tina.” 

Romana berlari ke dapur. Kosong. Dia menangis menatap tungku api yang tadi dia nyalakan. Dia menangis ketika merasa tangan Ine mendekapnya lembut. Dia tahu apa yang terjadi. Jenazah Kristina dibaringkan di lutur, ruang tamu berlantai papan berukuran empat kali lima meter. Romana tak beranjak. 

Dari ibunya dia mendengar cerita ini: Ketika mereka akan pulang senja tadi, beberapa warga sedang ramai di dekat jembatan bambu di ujung kampung. Nene Tina hilang, demikian informasi yang mereka dengar.

Mereka ikut mencari. Beberapa jam kemudian, Nene Tina ditemukan. Telah meninggal dunia. Dibawa arus sungai agak jauh dari tempatnya mencuci dan mandi. Teong dan keranjang tempat cuciannya masih ada di tempat semula. 

“Mungkin sudah waktunya. Nene Tina sudah tua,” kata orang-orang ketika membicarakan peristiwa itu setelah upacara pemakaman dua hari setelahnya, ketika anaknya yang dari kota bersama tunangannya tiba dan kini sedang menangis panjang. 

Sebulan kemudian pada Misa Sambut Baru, Romana berdoa untuk kebahagiaan Nene Tina, dalam hati. Kelak setelah dewasa, dia tahu arti namanya: Romana; tanpa meninggalkan tugasnya, ia juga dapat berbuat yang baik bagi sesama. (Selesai)


  1. *) Doa-doa Katolik dalam Bahasa Manggarai (Bapa Kami, Salam Maria, Aku Percaya, Kemuliaan). Gereja Katolik memberi keluasan yang kini dikenal dengan nama inkulturasi, salah satunya adalah doa-doa Katolik diterjemahkan ke berbagai bahasa. 
  2. Tentang arti nama Romana, dapat dilihat di buku "Orang Kudus Sepanjang Tahun" tulisan Mgr. Nicolaas Martinus Schneiders, terbitan Penerbit Obor
  3. Cerpen "Romana dan Nene Tina" disiarkan Majalah Gita Sang Surya terbitan JPIC OFM pada edisi September 2015.

0 Komentar:

Post a Comment