Tokoh Utama Senang Bernyanyi

Tokoh Utama Senang Bernyanyi adalah cerpen yang saya tulis dengan sesuka hati. Tidak pernah disiarkan di media mana pun dan dibuat hanya untuk blog ini. Kesamaan, karakter dengan cerita yang lain adalah kebetulan belaka. 
tokoh utama senang bernyanyi
Tokoh utama di televisi | Dok. RanaLino.ID

Tokoh Utama Senang Bernyanyi


Oleh: Armin Bell

Lelaki itu senang bernyanyi. Menulis lagu di waktu senggangnya yang tak banyak, merekamnya dan mengedarkannya sendiri. “Kupetik inspirasi dari rinai hujan yang mampir di jendela, dari desau angin yang menyapa di kala senja, dari kerlip bintang pada malam yang sunyi, dari sunyi kosong yang panjang pada malam di bulan Juli,” katanya suatu ketika menjawab pertanyaan tentang bagaimana dia bisa mendapat ide untuk lagu-lagunya. 

Tetapi kini dia mulai tak nyaman ketika beberapa orang yang pernah dia kenal kini mulai ikut bernyanyi. Lagu yang lain memang, tetapi beberapa terdengar seperti tentang kisah hidup lelaki itu.

Sesungguhnya ingin dia merahasiakannya tetapi kini nyanyian tentangnya mulai semarak dinyanyikan orang-orang di tempatnya. Sebagian yang lain menyanyikan lagu nostalgia--ada cerita tentang itu, tetapi nanti. Kini lelaki itu bersedih tetapi tetap bernyanyi. 

Dia disegani. Badannya yang tegap, cara bicara yang santun adalah alasannya. Sampai suatu saat beberapa orang di sekitarnya merasa ada yang salah dengan lelaki yang senang bernyanyi itu.Dia tak seperti ayahnya. Paman-pamannya berbeda. Kakeknya dahulu berjasa besar. Apa kata saudarinya tentang dia? Itu adalah di antara kalimat yang orang-orang bicarakan tentang dia. 

Tanah mereka gemah ripah loh jinawi. Lelaki yang senang bernyanyi itu, seperti kakek, ayah, dan paman-pamannya adalah tokoh masyarakat. Tak ada yang tahu pasti mengapa mereka sekeluarga besar mendapatkan posisi itu. Tetapi mereka ditahbiskan secara turun-temurun sebagai tokoh masyarakat. Tokoh utama.

Seperti tokoh utama dalam sinetron yang menjalankan seluruh isi cerita, yang jika tokoh utamanya bersedih maka seluruh sinetron berisi tentang kesedihan. Lelaki yang senang bernyanyi itu adalah tokoh utama hari ini. 

Juga pada hari ini orang-orang di sekitarnya menjadi tak suka lagi karena tokoh utama mereka lebih senang bernyanyi. Mereka merasa tokoh utama sudah seharusnyalah lebih banyak bekerja atau menentukan sesuatu yang baik untuk mereka dan bukan bernyanyi. Karena itulah mereka juga mulailah bernyanyi; tentang tokoh utama senang bernyanyi saja. 


Alkisah, kakeknya adalah orang hebat.Tokoh yang berjuang merebut tanah yang kini jadi tempat mereka tinggal. Konon, tanah ini dikuasai jin dan demit. Siapa pun sebelum yang mencoba mengusir jin dan demit, hanya berakhir di dua tempat: mati berkalang tanah atau menjadi jin dan demit baru.

Kakek dari lelaki yang senang bernyanyi berhasil mengalahkan seluruh mitos itu. Mereka merdeka. Itu dulu ketika mereka adalah orang-orang rantau. Mereka tidak lagi jadi orang-orang rantau ketika setelahnya.  Saat itu ayah dari lelaki yang senang bernyanyi itu yang menjadi tokoh utama yang kedua. 

Tentang tokoh utama kedua dikisahkan, pembasmi jin dan demit yang meletakkan kemerdekaan diusir begitu saja oleh anaknya sendiri. Beredar cerita bahwa sikap kasar itu diambil lantaran si anak merasa ayahnya mulai berkhianat: menikah lagi dengan perempuan lain selain ibunya. Sang anak merasa dikhianati. 
Di masa itulah, di waktu tokoh utama berganti kali pertama, orang-orang hidup dalam satu warna. Pembangunan di mana-mana, tetapi tak semua orang boleh bicara. Kalau toh bicara, segalanya harus diawali dengan: menurut petunjuk tokoh utama! Masa itu berlangsung lama.
Orang-orang bekerja saja. Kadang tak tahu untuk siapa. Perlahan namun pasti tokoh utama tidak saja disegani karena aksi, tetapi juga karena batas kekayaan umum telah dia lewati. Orang-orang terima saja. 

Hingga orang-orang itu marah pada suatu ketika. Seorang ibu menangis karena anaknya dipukul habis-habisan oleh tokoh utama kedua itu, untuk alasan yang sepele. Tokoh utama sedang berjalan-jalan suatu sore dan si anak tertawa karena langkahnya tampak mulai tak imbang, hampir jatuh. Tidak bugar lagi. Sudah tua, sudah tampak lelah.

Si anak tertawa dan di sela tawanya yang lugu dia bilang, “Bapak itu sudah tua. Kenapa dia tidak istirahat saja di rumah dan tidak usah jalan-jalan?” Anak kecil itu dihampiri, dimarahi, dipukuli di hadapan ibunya sendiri. Orang-orang marah. Tokoh utama beramai-ramai didatangi, dinasihati lalu dipaksa berhenti. Tokoh utama kedua tamat masa jabatannya. 

Tokoh utama berganti lagi. Sepupu pertamanya yang dipilih. Hanya sebentar lalu berganti lagi. Lalu sepupunya yang lain. Lalu berganti lagi. Seorang perempuan akhirnya mereka pilih. 

Ketika tokoh utamanya adalah seorang perempuan, orang-orang terdiam. Bukan karena segan tetapi karena tidak tahu apa-apa tentang akan seperti apa nasib mereka kemudian. Perempuan yang menjadi tokoh utama ini tidak melakukan apa-apa.

Baca juga: Aku Ingin Mencintaimu dengan Benar

Saat itulah lelaki yang senang bernyanyi itu angkat bicara. Disebarkannya cerita tentang saudarinya sendiri, tentang dia dilukai, tentang ini dunia lelaki, tentang macam-macam lagi. Dia mulai bernyanyi. Sejak itulah dia disebut sebagai tokoh utama yang senang bernyanyi.

Pada masa-masa awal dia menjadi tokoh utama, orang-orang gembira bukan kepalang merasa mimpinya dikawal. Jujur, lugu dan bijaksana, mengerti apa yang terlintas dalam jiwa*) orang-orang itu. Hidup mereka berjalan normal kembali. Orang-orang bekerja saja. Sesekali bertepuk tangan untuk lagu-lagu yang dinyanyikan tokoh utama.

Mereka puas.Tokoh utama ini tidak gegabah. Senang berbagi cerita, terutama jika dia mulai merasa menderita. Cerita sedih selalu menarik untuk didengar, mungkin karena mereka selalu senang melihat ada yang jauh lebih susah dari hidup kita sendiri. Mereka prihatin. 

Tokoh utama itu lalu lebih dikenal sebagai lelaki yang senang bernyanyi. Semua hal diungkapkanya dalam lagu. Demikian seterusnya sampai tak ada lagi waktu yang dia gunakan selain untuk bernyanyi. “Kupetik inspirasi dari rinai hujan yang mampir di jendela, dari desau angin yang menyapa di kala senja, dari kerlip bintang pada malam yang sunyi, dari sunyi kosong yang panjang pada malam di bulan Juli,” katanya suatu ketika tentang dari mana lirik lagu-lagu itu dia dapatkan. Puitis. 

Waktu-waktu hidupnya dipakai untuk memandang hujan kecil-kecil yang jatuh ke tanah dari balik kaca jendela. Dia duduk sendiri di ujung hari mencoba mendengar angin yang datang dengan cerita. Setiap malam dihabiskannya waktun dengan duduk di balkon rumah dan memandang ke arah langit yang jauh, berharap mendapat kisah tentang mengapa bintang mampu berkedip. Setiap sunyi kosong pada malam-malam itu memberinya lirik dan nada. 

Tak ada lain lagi yang dipikirkannya selain bernyanyi. Dan hujan-hujan kecil telah lama menjadi besar. Tokoh utama larut di dalamnya. Termangu di balik jendela. Syair-syair mengalir deras membantunya mencipta lagu-lagu baru. Seperti inilah seniman, pikirnya. Ketika hujan sedang berhenti dan matahari terbenam, hari mulai malam, didengarnya burung hantu bersuara merdu. Ku…ku… ku… ku… ku… ku… ku… ku… ku… ku…. Lagu baru tercipta lagi. Direkamnya dan diedarkannya sendiri. 

Orang-orang mendengar nyanyiannya, lalu merasa kehilangan tokoh utama. Tokoh utama tak seharusnya hanya bernyanyi saja, pikir mereka. Hujan-hujan yang telah lama hanya dilihat tokoh utama dari balik jendela, terlalu banyak curahnya untuk ditampung parit-parit kecil di sekitar tempat mereka. Banjir melanda. Tetapi tokoh utama bergeming. Orang-orang kebingungan. Di saat ini tempat itu tampak seperti yang telah lama dilukiskan peribahasa sebagai: anak ayam kehilangan induk.

Di sela kesibukan menyelamatkan diri dari banjir, mengalirlah cerita tentang tokoh-tokoh utama sebelum masa lelaki yang senang bernyanyi itu mengambil alih pentas.

Ada nostalgia yang deras tentang dahulu tempat ini sebenarnya baik-baik saja, ketika pada setiap bencana, tokoh utama akan angkat bicara dan menunjuk jalan sebagai pelita dalam gulita. Ada rindu yang kuat hampir serempak untuk kembali ke masa dahulu. Lagu nostalgia mereka nyanyikan lirih. 

Lalu muncul cerita. Beberapa pemuda berusaha tampil di tengah orang-orang yang menderita. Mereka ingin jadi tokoh utama segera. Berebutan mereka menahan laju kisah-kisah nostalgia. “Jika tak suka tokoh utama yang sekarang, tidak berarti bahwa kita harus memanggil kembali tokoh utama yang sebelumnya, sebelumnya atau sebelumnya lagi,” kata mereka.
“Hidup harus berjalan maju, No Volvere kata Gipsy King, tak ada jalan kembali,” kata mereka lagi mengutip penyanyi jaman dahulu. Sambil membantu orang-orang yang menjadi korban banjir, mereka berbagi cerita tentang diri mereka sendiri. 
Cerita itu sampai ke telinga tokoh utama. Sebagai jawabannya dia menulis lagu lagi. Kali ini tentang keinginannya berada bersama para pemuda yang didengarnya ingin menjadi tokoh utama terbarukan. Dia ingin, mereka, pemuda-pemuda itu bekerja saja bersamanya.

Begini dia menulis lirik lagu tentang kerinduannya itu: Hari yang indah berputar dalam hidupku, ku ingin juga berputar dan berjalan bersama teman-temanku. Lagu itu direkamnya dan diedarkannya sendiri. 

Bukan itu sebenarnya yang membuat dirinya tak nyaman. Bukan pemuda-pemuda itu. Dia sadar waktunya akan segera habis sebagai tokoh utama. Tempat ini memang menurutnya sudah waktunya memiliki tokoh utama baru. Yang dia cemaskan adalah dia tak sendiri lagi menjadi lelaki yang senang bernyanyi. Beberapa kawannya juga ikut bernyanyi.

Sebenarnya baik kalau saja lagunya bukan tentang dia. Didengarnya lagu itu mulai dinyanyikan orang-orang; tentang kisah hidupnya, yang sesungguhnya ingin dia rahasiakan sendiri. Dia prihatin. Dia ingin, ketika tak lagi menjadi tokoh utama dia hanya dikenang sebagai lelaki yang senang bernyanyi, bukan yang lain. (Selesai)

*) Dari lirik lagu Iwan Fals tentang M. Hatta

0 Komentar:

Post a Comment