Ruang Kosong - Cerpen di Antologi Telinga

Tahun 2011 silam, saya menerbitkan antologi cerpen saya yang pertama. Cerpen Ruang Kosong yang akan anda nikmat ini adalah salah satu cerpen di kumcer "Telinga" itu.
ruang kosong cerpen di antologi telinga
Ruang Kosong, cerpen di Antologi Telinga

Ruang Kosong 


Oleh: Armin Bell 

Cerpen di Antologi Telinga

"Jalan hidup itu seperti kanvas putih. Kau ingat buku gambarmu saat kau masih SD? Bayangkan tugas-tugas menggambar yang diberi oleh guru seni lukismu. Kau harus selesaikan satu demi satu, halaman demi halaman, lembar demi lembar. Setiap halamannya harus berisi lukisan jadi. Ingat, lukisan jadi atau utuh. Baru kau mendapat nilai dan boleh melanjutkan menggambar pada halaman lainnya."

"Jika tidak, nilaimu pasti nol besar, atau kalau gurunya berbaik hati kau bisa dapat nilai lima. Hanya penghargaan untuk tinta yang sudah kau buang untuk gambarmu yang tidak jadi. Lalu di akhir tahun pelajaran, nilai pelajaran seni lukismu adalah rata-rata dari seluruh nilai tugasmu. 

Sang kakek terus berkata-kata di depan pemuda duapuluh lima tahun yang masih asyik dengan pekerjaannya, menulis. Entah apa yang ditulisnya, yang pasti dia cukup mampu membagi konsentrasi antara mendengar cerita sang kakek dan menulis sesuatu yang entah apa. 

Sang kakek, selain bercerita juga sibuk dengan lukisannya. Kanvas yang tadinya putih bersih kini separuh telah terisi warna kelam. “Aku sedang melukis malam,” demikian dia bercerita tentang karya terbarunya. 

Kini dia kembali berkata-kata, “Dan kau anak muda, sudah cukup banyak membuat lukisan jadi untuk jalan hidupmu. Kau lulus SD, SMP, SMA, Perguruan Tinggi dan kini ada di sini. Tapi ingat, buku gambar hidupmu masih banyak menyisakan halaman kosong.”

Hening sejenak, lalu sang kakek kembali angkat bicara kali ini dengan suara yang lebih berat dan dalam.

“Selama kau masih diberi napas, tugas menggambarmu tak kan pernah selesai.” 

Pemuda itu berhenti menulis, mengangkat mukanya pada sang kakek dan bergumam, “Tapi aku bukan pelukis, aku penyair.” Lalu kembali menulis. 

"Baiklah, kita bisa ganti dengan analogi. Hidup itu seperti menyelesaikan sebuah antologi atau buku kumpulan puisi. Kau harus menulis puluhan bahkan ratusan puisi-puisi jadi. Kemudian setelah dibukukan baru layak disebut antologi puisi."

Lanjutnya lagi, "Kalau antologimu mendapat apresiasi dari penikmat sastra yang jumlahnya tak banyak di negeri ini, maka antologi puisi jalan hidup akan diberi nilai oleh Sang Khalik, sebab segala ada, causa prima, alfa dan omega. Hal itu terjadi saat jantungmu tak lagi berdetak dan matamu tak lagi berkedip lalu abadilah semuanya."

Pemuda itu kembali berhenti menulis. Mengangkat muka. Bicara.

“Lalu?”
“Lalu apa maksudmu, anak muda!”
“Lalu setelah antologi atau kumpulan puisi jalan hidupku selesai, aku dapat apa?”
"Tergantung apakah puisi-puisi hidupmu diapresiasi positif oleh Khalikmu atau tidak.”
“Kalau positif?”
“Kau masuk surga.”
“Ah….”
“Ah?” 
“Hanya untuk masuk surga maka puisi hidupku harus indah, begitu?”
“Dan puisi hidup yang indah itu mencapai titik tertinggi ketika kau menerima hidupmu apa adanya.”
“APA?”

Baca juga: Rosario - Cerpen di Pos Kupang

Pemuda itu menghentikan seluruh aktivitasnya. Pena dan tumpukan kertas di tangannya dilepas begitu saja. Dia lalu bicara dengan nada suara yang meninggi.
“Apa itu berarti puisi hidupku tak lagi indah hanya karena aku tidak bisa menerima keadaanku sekarang?"
“Bukan aku yang mengatakannya.”

Mereka berdua saja dalam sebuah kamar berukuran 3 x 4 meter yang selama beberapa waktu terakhir. Setiap orang mendapat jatah seluas 3 x 2 meter untuk berkarya. Sang kakek dengan lukisannya dan si pemuda dengan puisi-pusinya. Mereka punya nama aneh untuk tempat itu yakni Ruang Kosong

Tidak pernah ada penjelasan soal nama tempat di halaman belakang rumah utama itu. Di rumah utama, tiga orang pembantu siap melayani kebutuhan dua orang yang selalu menghabiskan waktunya di Ruang Kosong. Hari-hari mereka habiskan di Ruang Kosong. Hari ini, sang pemuda telah terlempar kepada kenangan. 

Seorang pemuda baru saja keluar dari ruang kedap suara yang berisi mixer, komputer, mike, tape, cd player, tumpukan compact disc lagu-lagu top 40 dan setumpuk kertas yang berisi pengumuman produk beberapa perusahaan lokal. Dia penyiar di kota kecil itu, namanya Krisna.

Dia punya banyak penggemar. Beberapa kali jumpa fans diselenggarakan oleh manajeman  radio untuk melayani permintan penggemar yang ingin ngobrol langsung dengan pengasuh program unggulan itu. 

Seringnya jumpa fans membuat pemuda itu seperti hafal tiap detail suasana. Dari suara riuh ABG yang sebagian besar remaja putri itu bersorak saat Krisna menyapa dengan gayanya yang luwes dan menawan, sampai bisik-bisik kagum saat pemuda itu diam. Krisna beruntung, selain mampu bersiaran dengan baik, karunia lain yang dia terima adalah wajah yang tampan. 

Halaman depan radio disulap jadi arena jumpa fans. Selain off air biasanya acara ini juga disiarkan live. Sekali waktu pada acara jumpa fans entah yang ke berapa, seorang gadis cantik kelas dua SMA tiba-tiba angkat bicara. Dia beri usulan yang disambut koor gempita ABG lainnya. Semua setuju.

Baca juga: Ora The Living Legend di Sail Komodo 2013

Lalu terbentuklah komunitas Krisnamania: kumpulan pendengar Krisna. Manajemen radio senang, lalu memutuskan menggelar jumpa fans secara berkala. Tiga bulan sekali. Jumpa fans berarti berarti keuntungan buat radio. Tiket ludes terjual. Krisna jadi anak emas.

Suatu malam, setelah kemeriahan jumpa fans usai, dengan sepeda motor kesayangannya Krisna keluar dari pelataran parkir. Di boncengannya seorang gadis cantik duduk sedikit merapat ke punggung Krisna. Gadis itulah yang dulu mengusulkan terbentuknya komunitas Krisnamania. Berteman semilir angin kota kecil nan damai, lampu sepeda motor Krisna dengan tenang menerobos gelap. 

Maya nama gadis itu, kini tangannya melingkar di pinggul Krisna. Belum lama mereka jadi sepasang kekasih dan sekarang sedang dalam masa paling romantis. Tugas Krisna malam itu adalah mengantar pulang kekasih barunya itu ke rumah megah mereka agak ke luar kota. 

Tiga ratus meter lagi tiba di rumah Maya, Krisna menurunkan laju sepeda motornya. Dia tak ingin malam itu segera berakhir. Tapi naas, dari arah belakang sebuah mobil Kijang melaju dengan kecepatan tinggi. BRAAAAAK….. Krisna terlempar, sepeda motornya remuk. Sehari kemudian baru dia tahu, Maya meninggal di lokasi kejadian, 300 meter menjelang rumahnya. Mobil yang menabraknya kabur entah ke mana dan masih dalam pengejaran polisi. Krisna dirawat di ruang ICU Rumah Sakit kecil di kotanya saat itu.

Seminggu setelah dirawat intensif, Krisna dilempar pada dunia lain. Kedua kakinya harus diamputasi. Sisa hidupnya akan dia habiskan di atas kursi roda. Dunia seperti gelap, dan semakin kelam ketika semua orang menyalahkannya atas kematian Maya. 

Profesi penyiar plus gelar penyiar favorit kini jadi masa lalu. Tidak ada sorak sorai atau decak kagum. Jumpa fans adalah kisah tiga tahun silam. Kini hari-hari Krisna diisi dengan menulis puisi. Beberapa media rajin menerbitkan karya-karyanya. Penyiar itu kini jadi penyair. 

Namun akal sehatnya belum sepenuhnya menerima kenyataan itu. Selalu ada penyesalan meski kecil. Karena itulah dia merasa membutuhkan kehadiran penasihat spiritual yang membantunya paling tidak menenangkan pikirannya agar bisa terus berkarya. Orang itu adalah Sang Kakek. Tak ada yang tahu bagaimana dia bertemu dengan orang itu.

Krisna lalu bertanya lirih, “Aku ingin puisi hidupku indah. Lalu aku harus bagaimana agar aku bisa menerima keadaanku sekarang?”

Sang kakek menghentikan gerak kuas pada kanvasnya lalu berkata, “Bersyukurlah bahwa bukan tanganmu yang diamputasi sehingga kau masih bisa menulis puisi. 
“Tapi, semua orang menuduhku pembunuh. Mereka semua membenciku, tak ada lagi yang mencintaiku.”
“Hei anak muda. Kau tidak sendiri. Selalu ada cinta untuk yang hidup. Paling tidak kau masih punya aku yang terus mencintaimu.” 

Krisna tersenyum sinis untuk dirinya sendiri. Pria muda potensial dikagumi banyak gadis muda dan cantik di kotanya, kini harus rela hanya dicintai oleh seorang kakek tua renta, yang menghabiskan waktunya di sebuah ruang kosong, dan kini sedang sibuk melukis malam. Hidup memang aneh. 
Kau bahkan tak pernah tahu apakah esok masih boleh melihat mentari, atau malam yang ada di kanvas sang kakek merenggutmu kala kau tengah bermimpi bermain sepak bola. Aneh.
“Tapi bagaimana dengan puisi hidupku, akankah diapresiasi positif oleh sang khalik?”
“Kau belum mati. Tugasmu menulis puisi belum selesai. Teruskan saja.”
“Engkau sudah tua. Tugasmu melukis sudah hampir selesai. Lalu siapa yang akan menemaniku menulis puisi?"

Pintu berderit terbuka. Seorang perempuan muda berkulit putih dengan senyum ramah masuk. Di udara seperti terdengar bunyi piano lembut mengiringi langkahnya. Seorang dokter cantik, dokter yang merawat Krisna dan sang Kakek dengan kunjungan reguler sekali dalam dua minggu. Hari ini adalah jadwal kunjungannya.

Dia datang. Berbaju putih. Dalam hati Krisna berpikir tentang padanan. Perempuan berkulit putih, memakai baju putih, berhati putih nan tulus. Ah, adakah yang lebih indah dari detik-detik seperti sekarang ini? (Selesai)

PS: Cerpen Ruang Kosong pertama kali disiarkan di Harian Media Rakyat di Ruteng Flores. Koran itu sekarang tidak terbit.

2 comments: