Mengapa Kita Harus Bicara?

Banyak orang mengetahui sesuatu dengan baik tetapi tidak mengatakannya. Akibatnya, pendapat yang kurang bahkan tidak benar lalu dianggap sebagai kebenaran hanya karena pemilik pendapat menyampaikannya dengan lantang. Ckckck...
mengapa kita harus bicara
Kita Harus Bicara | Foto: Donnie Dnezco

Alasan Mengapa Kita Harus Bicara


Di dunia ini, tak ada lagi yang menghargai orang-orang yang diam. Para penggerutu bodoh yang bersuara kencang menjadi figur publik hanya karena dia rajin bicara, bahkan berteriak-teriak. Demikianlah kita kemudian merutuki diri kita sendiri--orang-orang yang tahu sesuatu dengan baik tetapi terlalu sopan (atau rendah diri?) sehingga tak mau (atau berani?) mengatakannya.

Hari ini saya mulai lagi mengajar Public Speaking di SMAK St. Fransiskus Saverius Ruteng. Karena jadwal pelajaran masih belum pasti (akan diubahsesuaikan karena pertimbangan kurikulum) dan ini adalah pertemuan pertama, maka sebagian besar waktu dipakai untuk berkenalan. Saya dan mereka berkenalan, seluruh kelas dan materi besar public speaking juga berkenalan. 

Saya memulai babak perkenalan materi dengan bercerita tentang pentingnya bicara. Mengapa seseorang sebaiknya berbicara? Saya menuturkan kisah berikut ini kepada mereka. 

Baca juga: Hitung Harga Otak Anda Sekarang

Di kelas, ketika guru mengajukan pertanyaan, hampir semua murid memiliki jawaban dalam kepala masing-masing. Persoalannya adalah tidak semua murid yang memiliki jawaban tersebut mau menyampaikan jawabannya. Hanya ada beberapa orang yang bersedia dan mulai menjawab.

Guru lalu memberi beberapa murid itu kesempatan untuk menjawab. Jawaban mereka benar dan guru lalu memberi apresiasi. "Jawaban yang hebat!" 
Dari sudut ruangan, terdengar bisik-bisik yang kira-kira berisi demikian: "Tadi juga saya mau jawab begitu." Bisik-bisik itu terdengar dari mereka yang tidak mengacungkan jari atau menunjukkan kesediaan menjawab. Suara mereka tidak terdengar. 
Akibat selanjutnya? Guru tidak tahu bahwa mereka tahu. Demikian seterusnya berulang. Hanya murid-murid tertentu yang berani bicara dan mereka-mereka itulah yang lalu diajak untuk mencoba kesempatan yang lebih besar: mewakili kelas, mewakili sekolah, belajar lebih banyak hal baru. Yang lain? Suara bisik-bisik itu lalu tak pernah terdengar lagi.

Pada beberapa kasus ekstrim, mereka bahkan 'tidak diketahui' ada meski mereka sebenarnya memiliki pengetahuan yang sama banyaknya bahkan lebih. Sayang sekali, bukan? 

Setelah menceritakan kisah di atas, kepada para murid saya bertanya, "Siapakah di antara kalian yang pernah mengalami hal demikian?" Sebagian besar menjawab: Saya, Pak. Saya lalu mengutip ini Matius, 25:21 sebagai penegasan bahwa menjawab pertanyaan guru adalah hak semua murid jika ingin diberi kesempatan untuk berbicara pada forum yang lebih besar. Saya kutip kalimat dari Perjanjian Baru itu: ...engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan tanggung jawab dalam perkara besar. Mereka tampaknya mulai sadar. 

Karena jam pelajaran masih panjang dan saya masih ingin meyakinkan mereka bahwa berbicara itu penting, saya bagi bercerita lagi seperti berikut ini: 

Ada seorang remaja yang sedang pe-de-ka-te dengan teman sekolahnya. Mereka semakin dekat, namun tak kunjung ada pernyataan cinta secara verbal padahal waktu pe de ka te sudah cukup lama. Di masa itu, seorang yang lain juga melakukan pe-de-ka-te terhadap orang yang sama.
Setelah cukup yakin, tokoh kita yang kedua ini langsung menyampaikan perasaannya secara verbal. "Aku cinta kau, maukah kau jadi kekasihku?" diungkapkan dalam bentuk kata-kata. Komunikasi verbal. DITERIMA. 
Apa kabar tokoh kita yang pertama, yang pe-de-ka-te lebih lama? "Sakitnya itu di sini!" kata saya sambil menunjuk dada. Semua tertawa. Meme itu memang tampak sedang populer; seseorang pada foto menunjuk dada dan ada tulisan: sakitnya itu di sini. Yang sesungguhnya perlu dilakukan hanyalah menyelesaikan hambatan public speaking

Setelah mereka tertawa, saya tanya siapa gerangan yang pernah mengalami situasi seperti itu? Beberapa orang dengan malu-malu menyatakan diri. Sepertinya ada lembayung ungu di wajah mereka, menyesali sikapnya sendiri yang terlambat bicara.

Saya tiba-tiba ingat larik puisi ini: ... dalam langkah malu-malu, pita hitam pada karangan bunga... Ah, sudahlah. Puisi ini tidak berhubungan. Sayanya saja yang terdistraksi sejenak. 
Sampailah kami pada simpulan: 
Berbicara, menyampaikan maksud dengan kata-kata, itu penting. Kita harus bicara. Hanya yang berbicara yang didengar. Tak banyak manusia yang lahir dengan kemampuan telepati. Bicaralah, atau 'sakitnya itu di sini'. 
Gerangan apakah dua cerita di atas berhubungan dengan public speaking? Ini: Hanya mereka yang terbiasa berbicara yang bisa melakukan public speaking dengan baik.

Ketika tidak terbiasa menyampaikan pendapat pada proses belajar mengajar, hampir pasti seseorang akan terbata-bata ketika diminta berpidato atau melakukan presentasi. Padahal, kemampuan melakukan presentasi dengan baik berhubungan erat dengan rezeki di kemudian hari. 

Baca juga: Gratitude Box: Mari Bergabung Dalam 15 Langkah Mudah

Dalam pekerjaan apa pun, seseorang dengan kemampuan public speaking yang baik akan mendapatkan kepercayaan lebih banyak daripada seseorang yang tidak, meskipun kemampuan mereka mengerjakan sesuatu itu sama-sama hebatnya. 

Hampir jam satu. Pelajaran hari ini berakhir. 

Masih mau tahu alasan mengapa kita harus bicara? Lihatlah negeri ini. Karena seseorang sering bicara, menjadi pembela agama, pendapatnya lalu dianggap sebagai kebenaran. Sebagian besar orang yang mengetahui bahwa pendapat pembela agama itu salah, tidak mengatakan apa-apa. Dan terjadilah demikian: orang-orang menjadi salah paham tentang agama tertentu. Sedih.

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

2 comments:

  1. Kerennnnn...
    boleh lamar jadi muridmu kaks?
    BTW di foto ka etin macam Ibu Guru :D

    ReplyDelete
  2. Hahahaha...., kita mainkan di Petra Book Club saja hahahaha
    Itu Kaka Ited candid kami waktu Paskah kemarin e :-)

    ReplyDelete