Aku Ingin Mencintaimu dengan Benar

Puisi-puisi berikut ini ditulis dalam rentang waktu yang berbeda. Semula diunggah sendiri-sendiri. Kali ini dikumpulkan di tempat yang sama untuk pembacaan yang sama. Barangkali karena tema yang sama? 
aku ingin mencintaimu dengan benar
Aku Ingin Mencintaimu dengan Benar

Puisi-Puisi Armin Bell


Aku Hanya Ingin Mencintaimu dengan Benar


Akan datang waktu
Gambar kita di bawah beringin di tengah kota, dan
Di pantai suatu ketika di senja yang cerah--kau ingat?
Jadi berlembar foto-foto tua
Kisah apa yang mereka ceritakan kelak
Hari ini aku hanya ingin mencintaimu dengan benar

Cinta Begitu Saja

Kepada Last Hindie

Aku mencintaimu begitu saja
Tanpa mistar kayu yang dipukulkan pada kepala agar bisa membaca
Atau tangan tateh mama untuk langkah pertama
Begitu saja aku jatuh cinta padamu
Saat pertama bertemu
Dan kau tersenyum malu-malu

Aku mencintaimu begitu saja
Tidak dari suara yang lahir pada tanya pertamamu padaku: apa kabar?
Juga bukan atas segelas kopi yang kau seduhkan; agak pahit hari itu tapi kuminum jua demi sopan santun sekadar
Begitu saja aku jatuh cinta padamu
Pada seluruhmu
Tak perlu belajar tekun untuk itu; jatuh cinta itu begitu saja

Belalang Daun dan Senja Merah


Seperti apa mencinta
Tanyamu pada senja basah
Aku tertegun sejenak memandang langit barat merona merah
Seperti apa mencinta

Mungkin seperti belalang sembah memberi hormat pada segala: pada ilalang tumbuh liar di padang, pada petromaks di rumah dusun, pada dinding kota yang sibuk tak berhenti, atau pada dosa
Mungkin seperti dedaunan tunduk pasrah pada angin: bergerak semau tiupnya, kadang kuat kadang lembut, lalu jatuh termakan usia atau kerja yang paksa
Mungkin juga seperti senja merah yang mengalah pada malam

Tapi kutahu aku jatuh cinta

Hujan Kecil-Kecil


Kita pernah bersama memberi hormat pada gerimis
Saat kau berkisah tentang metamorfosa laut menjadi awan
Aku di sampingmu mengangguk setuju memandang tak sempurna bulan tertutup awan
Pantai tempat kita berdiri digoda hujan kecil-kecil pada malam muda yang manis
Betapa nikmat mendengar cerita seperti sejuk kaki disapu pecahan ombak genit

Gerimis tetap gerimis meski tak lagi sama
Betapa nikmat mengenang cerita seperti jemari tangan yang pasrah pada butir air dari atap rumah ini
Aku sendiri, tak lagi di pantai
Kotaku gerimis

Terima kasih untuk kisah air dan matahari yang bersenyawa

Dan hujan kecil-kecil

Puisi-puisi Armin Bell

#Puisi #BloggerRuteng #PuisiCinta 


4 comments:

  1. Aihhh... brother,,,, puisi ini sangat saya sukai...terima kasih sudah menginspirasi,,

    ReplyDelete
  2. Terima kasih... mari (meminjam Joko Pinurbo) menunaikan ibadah puisi :-)

    ReplyDelete
  3. Rikard MontiniApril 18, 2015

    Mantap puisinya kae.

    ReplyDelete
  4. Terima kasih Rikard hehehehe

    ReplyDelete