Rosario - Cerpen di Pos Kupang

"Rosario" adalah salah satu cerpen saya yang disiarkan Harian Umum Pos Kupang pada rubrik Imajinasi edisi Minggu, 18 Januari 2014. Yang ada di blog ini telah mengalami beberapa penyuntingan. Selamat menikmati! 
rosario cerpen di pos kupang
Ilustrasi cerpen Rosario | Foto: Armin Bell

Rosario


Oleh: Armin Bell

Cerpen di Pos Kupang



Peristiwa Kedua - Maria mengunjungi Elisabeth, saudarinya


“Saya berani bayar mahal. Satu minggu ini, makan siang jadi tanggungan saya,” katanya. 
“Tidak!” jawab saya tegas. “Ini pemberian dan tidak akan saya lepaskan untuk alasan apapun!” 
"Saya tahu itu pemberian. Tetapi kalau yang memberikan itu sudah tidak peduli lagi, kenapa masih terus dipakai?” serangnya lagi. 

Kami sedang di kantin kampus, matahari bersinar lembut, tak ingin mengusir mendung yang telah menggelayuti kota sejak pagi. Bulan September sekarang. Malang selalu manis di hari-hari begini. Deret pegunungan putri tidur tampak damai dari kejauhan dalam selaput kabut yang enggan pergi. Dua hari sebelumnya, temanku membawakanku kabar.

Bro, kemarin adik saya telepon dari Ruteng. Katanya Vania sudah jalan sama orang lain.”
“Maksudnya?” Saya bertanya sembari berpikir tentang beberapa SMS yang tak dibalas seminggu terakhir, juga tentang percakapan telepon yang selalu berakhir lebih cepat dari waktu-waktu sebelumnya.

Baca juga: Apresiasi Dinikmati atau Dilawan?

“DIA SUDAH PUNYA PACAR LAGI!”
“Tidak percaya! Dia harus bilang sendiri. Vania tidak begitu, Bro, saya tahu. Dia tipe cewek setia.” 
“Ruteng Malang itu jauh. Waktu empat bulan itu lama. Banyak hal yang bisa terjadi. Termasuk ya itu tadi. Dia jatuh cinta sama orang lain yang lebih dekat. Sekota. Nyata. Bukan hanya suara dan kata-kata rindu telepon atau SMS,” sergahnya kesal. 

Aku diam, menyeruput teh tanpa gula di kamar kos kecilku. Temanku melakukan hal yang sama sambil menunggu. Dia tahu aku akan bercerita beberapa saat kemudian. Cerita yang sempat kututurkan dengan ceria empat bulan silam, hari itu hadir dengan gelap. 

Peristiwa Pertama: Yesus dibaptis di Sungai Yordan 

Senja sedingin biasa. Angin tetap setia menggendong butir air kecil-kecil di tiap tiupannya. Tidak hujan, hanya basah. Ruteng kota kecil yang selalu dingin sehari lagi kunikmati. Besok akan jauh di belakang, saat travel membawaku ke Labuan Bajo pagi-pagi sekali, mengejar pesawat siang menuju Denpasar lalu menyambungnya dengan bis malam menuju Malang. 

Vania duduk merapat dengan isak tangis tertahan tak siap berpisah. Kami baru saja selesai berdoa di Gua Maria Golo Curu, mendoakan keselamatanku dalam perjalanan--dan dalam intensi pribadiku agar cinta kami tetap sama. Kami masih muda. Perpisahan terlalu berat untuk diterima begitu saja dengan senyum, maka diam adalah waktu terbanyak yang terpakai. 

“Kak, bawa Rosario saya ini ya,” katanya setelah jeda hening yang panjang. “Buat berdoa, biar kuliah kakak sukses. Doa Rosario itu penting. Jangan minta macam-macam. Bilang saja sama Bunda agar mendoakan kakak biar selalu sehat,” ucapnya lirih mengulurkan Rosario dari kayu cendana. Ada bulir bening air mata di pipinya. Saya menunduk, Rosario itu dia kalungkan. 
“Saya sayang kau, Vania.” Ritual pengalungan itu selesai, sebuah tanda mata yang saya balas dengan kecup yang teduh pada keningnya. Dia tersenyum, menunduk, menangis lagi. 

Peristiwa Ketiga – Yesus memanggul salibNya ke Kalvari 

“Ayolah! Lagian kamu kan punya dua Rosario Cendana. Saya tidak mungkin minta yang pemberian mamamu. Saya minta yang itu. Yang dari Vania. Rosario saya hilang waktu kemah rohani kampus kemarin,” serangnya. 

Ini dia pangkal soalnya. Rosarionya hilang dan dia pengagum wangi cendana dan sejak itu dia tak berhenti merayu agar saya mewariskan satu Rosario padanya. Di Malang, Rosario dari kayu cendana agak susah dicari. 

“Ini pemberian Vania, saya tidak akan melepasnya untuk kau. Saya merasa seperti berkhianat kalau begitu."
“Ya ampuuun. Vania itu sudah punya pacar lagi, Bro. Rosariomu dua. Kau bisa pakai Rosariomu yang dari mamamu itu untuk berdoa. Tidak bisa pakai dua dalam sekali doa, kan?” katanya lagi.

Di akhir kalimat itu, melalui kalimat yang tak kalah panjangnya dia bercerita tentang adiknya yang tak pernah bohong sehingga cerita bahwa Vania telah punya pacar lagi yang dia dengar dari adiknya yang tak pernah bohong itu adalah benar.

“Kok bisa ya?”
“Ya, bisalah!” katanya lalu menyimpulkan cerita-ceritaku secara sepihak. Menurutnya, Vania tidak pernah memintaku berdoa untuk hubungan kami pada pertemuan terakhir dahulu melainkan hanya memintaku berdoa agar kuliah dengan baik dan sukses. “Itu artinya….” katanya menggantung membiarkan aku membuat kesimpulan sendiri. 
“Saya tahu. Tapi kenapa Vania tidak langsung bilang ke saya?” 

Temanku marah-marah. Menurutnya sayalah yang tidak mampu membaca gejala. SMS yang tidak dibalas, percakapan telepon yang cepat terhenti, seharusnya telah lama saya pahami sebagai pesan. Dia marah sekali tampaknya sampai dalam situasi sesulit hari ini dengan tega menyebutku tak peka. Ah, Golgota… 

“Ayo pulang.”
“Hei… Kelas?” temanku bergegas mengejar setelah selesai membayar minuman kami.
“Lagi malas!”
“Rosarionya?”
Saya mendelik tajam. Dia diam, berjalan bersisi, bersama membolos. Matahari masih lembut, tetapi kali ini terbaca sebagai sendu. Siang yang pilu.

Peristiwa Keempat – Maria menerima kabar dari Malaikat Gabriel

“Halo, Kak,” ujarnya dari seberang.
“Hai, Vania. Apa kabar?” sapaku. Telepon menempel di telinga kiri dijepit bahu, dua tanganku sibuk dengan botol bir dan gelas. Ini sudah malam setelah siang tadi melewatkan beberapa kelas begitu saja. Di hadapan, temanku membuka botol ke lima. Tersisa beberapa botol lagi. Lama tak ada suara dari seberang.

“Ruteng hujan?”
Tak ada suara.
“Saya sudah tahu, Vania.” 
Terdengar isak tangis dari seberang. Di sela tangisnya Vania meminta maaf. Pertanyaan saya tentang alasannya menyembunyikan cerita itu sekian lama dijawabnya dengan tangisan panjang. 

"Dia lebih baik dari saya?”
Tak ada jawaban. Ketika tangisan hanya hadir dalam rupa suara tanpa gambar, usaha mencari arti adalah sebesar-besarnya kesia-siaan.
“Ruteng hujan?"

Baca juga: FF100K Karina - Karma

Tangisnya perlahan berhenti. Dia mau bercerita kini. Tetapi bukan tentang kami. Tentang Ruteng yang hari ini hanya disapa gerimis tak lama. Saya ingat tentang halaman rumahnya yang mungil tempat kami biasa berdua duduk memandang butir-butir debu yang menari di dalam angin. Betapa baik melihat daun yang pasrah pada debu yang mengecup lalu terbang lagi. Daun bunga di taman mereka. 

"Saya sayang kau, Vania.”
Hening. Tidak cukup lama tetapi hadir. Kali ini saya tak ingin mendengar jawaban apa-apa.
“Maafkan Vania, Kak.”

Lalu suara tangis itu terdengar lagi. Lebih cepat berhenti dari yang sebelumnya. Saya tanyakan sudah berapa lama dia memiliki lelaki lain meski sebenarnya telah tak peduli karena untuk apa?

“Sudah mau jalan sebulan, Kak.”
“Saya masih sayang kau, Vania”
Dan ada tangis yang jauh.

Itu jadi percakapan terakhir. Setelahnya, sebuah SMS dari Vania: Kak, terima kasih yang untuk kisah kita selama ini, tapi dia ada di sini, di Ruteng, dekat sama Vania. Kakak pasti dapat yang lebih baik. Tidak saya balas. Menghabiskan bir tersisa dan mulai berdoa beberapa waktu setelahnya. Berdoa Rosario. Mengenang peristiwa mulia.

Peristiwa Kelima – Maria dimahkotai di Surga

Teman saya sakit. Hari ini hari terakhir di bulan September. Ulang tahunnya. Matahari bersinar lembut, tak ingin mengusir mendung yang telah menggelayuti kota sejak pagi, selama ini selalu begini. Malang selalu manis setiap September. 

Kado kecil itu saya berikan. Dibukanya terburu-buru. “Hah? Rosario Cendana? Kau yakin?” matanya terpana. 
“Besok bulan Rosario. Jangan lupa berdoa supaya diberi kekuatan dan kesembuhan,” kataku. “Saya baru dapat kiriman dari Ruteng. Terus tadi ke Paroki dulu. Rosarionya sudah diberkati.” (Selesai)

6 comments:

  1. Long distance relation ship memang selalu jadi alasan untuk mengakiri sebuah hubungan, disitulah kekuatan cinta di uji....mantap benar tulisan keraeng tu,a...ini sering terjadi dalam suatu hubungan asmara. termasuk saya....wkwkww

    ReplyDelete
  2. Hahahaha... ya, ini memang cerita kita bersama :-)

    ReplyDelete
  3. hmmm...mantap Bro.Sya pengen baca yg selanjutx.

    ReplyDelete
  4. Mantapppp.... Lagi kumpul materi bro, biar bisa bikin buku lagi :-)

    ReplyDelete
  5. LDR ini memang betul-betul menantang. Lelah dalam Rindu. Saya termasuk mengalami hal demikian sekarang. Kisahnya hampir sama, cewek di Ruteng dan saya di ujung barat Pulau Sumatera. Eh, baru 7 bulan disini, ternayata sejak Desember kemarin ia ke lain hati. Ah,,,,,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aduh... semoga bisa cepat move on, Erik :-)

      Delete