Piano Malam Ini

Piano Malam Ini. Pada beberapa bagian mungkin akan ditemukan anakronisme. 
piano malam ini
Piano Malam Ini | Foto: Donnie Dnezco

Piano Malam Ini 


Oleh: Armin Bell

Begini ternyata rasanya. Sejak dahulu kutahu hari ini akan terjadi. Perempuan manakah yang tak akan terengkuh dengan pesona sebesar itu? Pun perempuan yang tak pernah berhenti tersenyum di sampingmu. Maka begini ternyata rasanya, aneh dan aneh. Engkau pasti pernah mendengar tentang dialog hati; dua suara bertanyajawab dalam hatimu. Hari ini begini dialog hati yang kudengar.

Ah cakepnya. Sejak dahulu pesonanya tak memudar.”
“Dan tak akan pernah pudar.”
“Dan tak kekal jadi milikmu sendiri.”
“Jangan ganggu aku. Tahukah kau tentang cinta terbesar yang berarti merasakan kebahagiaan dua kali lebih banyak ketika yang dicintai bahagia? Itu aku saat ini.”

Baca juga: Nama Anak dan Harapan Orang Tua

“Hahahaha… Sekali ini jujurlah tentang malam ini. Ada rasa tak rela, bukan? Akuilah!”
“Berhenti mengusikku! Lihatlah dia tersenyum bahagia setulus embun menyapa pagimu.”
“Ya ya ya. Dan lihatlah perempuan itu menyuapnya dengan tart pengantin itu. Bukankah engkau yang seharusnya memberi suapan padanya seperti kemarin?”

Sampai di titik ini aku terdiam. Denting piano malam ini yang mengalun lembut di ruangan ini lebih terasa sebagai sayatan daripada sentuhan sapa nan anggun. Hawaiian Wedding Song seperti menjadi notasi requiem. Langkah yang kauseret bahagia ke lantai dansa bersama perempuan itu seperti berat langkah para pengusung peti mati ke kuburan tua di ujung kota hujan ini bagiku. 

Begini ternyata rasanya. Ada pedih melintas, tapi tak ada tangis. Bukan aku berusaha kuat, tapi sungguh tak ada tangis untuk lintasan pedih pada hati. Ssiapakah yang menangis ketika tak mampu memberi terjemahan yang pasti pada apa yang terjadi? Yang tersisa hanya bingung: siapakah aku kini? Dialog hati kembali hadir.

“Lihat perempuan itu bergelayut manja. Tidak sakit melihatnya?”
“Kenapa kau tidak diam saja dan sejenak meresapi tiap makna atas visualisasi ini?”
“Ha ha ha. Aku bisa diam tapi kulihat kau tak sanggup. Wajahmu tak bisa bohong. Ada luka yang bingung terpajang di sana! Kau cemburu!”

Baca juga: FF100K Karina - Keluh

“Hanya bingung, tak ada luka. Mengapa kau senang melebihkan setiap hal? Belum kuputuskan ini cemburu atau hanya rasa yang aneh”
“Bukan aku yang mele….”
“Ssssst… diam. Dia mendekat. Bantu aku tersenyum. Ini perintah!”
“Siap!”

Dan engkau mendekat. Semakin dekat, sedekat dulu, mendekap lama dan sejenak kau abaikan perempuanmu malam ini. Engkau yang dulu kudekap dan tak pernah berpikir akan terlepas, kini berbisik. Terima kasih mama, untuk seluruh hidup. Terima kasih untuk ada dan akan tetap ada, katamu. Kini perempuanmu yang mendekat, ikut mendekap. Katanya: Jangan pernah tinggalkan dia. Selalulah ada untuk kami, anak lelakimu dan aku. Kami mohon…

Denting piano malam ini kini membaik, seperti mendendangkan lagu Kabulkan Doa Kami Tuhan! Kilatan lampu dari kamera fotografer malam ini dan cahaya lampu warna-warni pada hall ini seperti bahana tepuk tangan sorak bahagia yang mengundang senyum tak berhenti. 

Dan kini aku tahu siapa aku, perempuan bahagia untuk anakku yang bahagia dan perempuannya yang kini. Begini ternyata menjadi ibu. Tak ada yang hilang hanya ditambahkan. Selamat berbahagia anakku. 

Denting piano malam ini kini menyapa dengan benar. Semua terasa benar. Siapakah yang mampu melihat ada yang salah pada malam yang bahagia?

Selesai

Ps: Model cerpen singkat seperti ini kadang disebut sebagai flash fiction.

Catatan tentang Flash Fiction dari indonovel.com:

Flash fiction sesuai namanya adalah fiksi kilat yang bisa dibaca sekejap hanya dalam hitungan detik. Beberapa penulis menyebutnya dengan istilah sudden fiction, microfiction, micro story, postcard fiction, atau short short story. 

Di China orang menyebutnya cerita seukuran telapak tangan.

Belakangan ini flash fiction meningkat popularitasnya seiring dengan berkembangnya sastra dunia maya. Karakteristik flash fiction yang pendek, padat, kuat & cepat dianggap sesuai dengan tipikal pengguna internet yang memiliki waktu terbatas.

Blogger Ruteng

8 comments:

  1. So sweet Bang Armin.....!!!

    http://octacintabuku,wordpress.com

    ReplyDelete
  2. Terima kasih Ocitamala :-)

    Salam hangat

    ReplyDelete
  3. menyentuh sekali :)
    salam menulis, Mas Armin ...

    ReplyDelete
  4. Salam menulis Latif :-)
    Sukses selalu ya...

    ReplyDelete
  5. AnonymousJune 11, 2013

    saya suka ini.... wow..!! :D

    ReplyDelete
  6. Watty Rachman MahalMarch 18, 2015

    Nice story..

    ReplyDelete