Indonesia Negeriku Amnesia

Sejak beberapa tahun silam, melawan lupa terdengar di berbagai tempat. Ada usaha agar kita tidak amnesia. Semua orang merasa berhak mengutip Ir. Sukarno: Jas Merah, Jangan sekali-kali melupakan sejarah!
indonesia negeriku amnesia
Semoga media membantu kita melawan lupa | Foto: Armin Bell

Indonesia Negeriku Amnesi


Harus diakui bahwa usaha melawan lupa di negeri sebesar Indonesia adalah perjuangan yang cukup berat. Gerus arus informasi yang berubah setiap detik membuat kita hanya mampu menumpuk catatan sejarah di lemari buku, menindihnya dengan buku yang lain, semakin tinggi, lama-lama menjadi bukit; yang terlupakan. 

Kalau saja sekarang ada yang bertanya hal apa yang paling Indonesia yang saya pikirkan, maka jawabannya adalah: amnesia. Barangkali penyakit lupa ini adalah sesuatu yang paling Indonesia sejak dulu kala. Indonesia negeriku amnesia.

Dengan tidak bermaksud menafikkan fakta lain bahwa Warung Padang adalah satu hal yang paling Indonesia, atau seni batik adalah paling Indonesia lainnya; sadar atau tidak sesuatu yang terwariskan sejak dahulu pada generasi kita dan paling Indonesia adalah amnesia berjemaah atau lupa ingatan kolektif. 

Sebut saja betapa mudah kita memaafkan Belanda karena telah menyetujui kemerdekaan kita, dan lupa bahwa pada saat yang sama seharusnya kita meminta negara itu memulangkan semua artefak atau blue print kota-kota penting di Indonesia, agar saat ini lebih dari 60 tahun kemudian, kita tak harus membayar ke Belanda jika ingin melihat hal-hal tersebut. 

Baca juga: Menulis Kisah tentang Mama

Bangsa ini dihuni oleh lebih dari 240 juta jiwa, adalah bangsa yang beberapa waktu lalu terkagum-kagum pada iklan politik partai Demokrat. Visualisasi iklan itu menampilkan Edy Baskoro Yudhoyono, Anas Urbaningrum, Angelina Sondakh dan beberapa tokoh demokrat lainnya dengan tegas mengatakan TIDAK pada korupsi. Bagian lain iklan itu menampilkan seorang tokoh yang tergesa menutup telinganya sebagai ungkapan TIDAK pada korupsi. 
Alhasil, promo politik dengan konsep murah meriah itu meningkatkan popularitas partai Demokrat pada PEMILU dan membawanya ke tempat tertinggi.Ya, ongkos politik kadang semurah itu!
Demokrat saat itu tahu benar apa yang sedang dibutuhkan bangsa ini. Kasus korupsi yang merasuk di hampir semua sendi kehidupan bangsa membuat masyarakat pemilih melupakan fakta penting lain selain slogan anti korupsi yakni integritas partai, sesuatu yang beberapa waktu kemudian terbukti tidak ada di partai Demokrat. 

Lolos menjadi pemenang lewat iklan politik katakan TIDAK PADA KORUPSI, SBY dan kawan-kawan berhasil melangkahi Partai Golkar yang mencoba menawarkan integritas calonnya dengan cara lain: 'Semua caleg partai Golkar adalah Sarjana' via iklan politik mereka saat itu. 

Well, secara iklan, pada Pemilu kali lalu tidak ada partai yang benar-benar menawarkan iklan politik yang menarik. Saya menduga, penggarapan asal jadi ini memang sengaja dibuat karena masyarakat Indonesia lebih suka tayangan-tayangan sederhana yang tidak membuat mereka harus mengerenyitkan kening dan terbukti iklan paling sederhana milik partai Demokrat menjadi pemenang. 

Setelahnya? Demokrat menang, menjadi penguasa dan membawa bangsa ini dengan cepat berpindah dari isu satu ke isu lainnya, ditingkahi sikap SBY yang pura-pura terpeleset pada beberapa kasus jika istana dalam bahaya, sehingga kita lupa soal yang harus diselesaikan dan menyibukkan diri dengan pernyataan tak penting SBY. 

Baca juga: Jurnalistik Dasar: Komunikasi

Bangsa ini memang terlalu mudah digiring ke mana suka oleh penguasa. Kita bahkan tak perlu repot berpikir bahwa ada yang aneh dengan Partai Demokrat sekarang ini jika dihubungkan dengan iklan politik mereka soal katakan TIDAK pada Korupsi. 
Kita lupa bahwa Demokrat populer lewat slogan anti korupsi, karena sekarang ini kita sibuk berpikir tentang siapa yang benar dan siapa yang salah pada ribuan kasus korupsi yang beredar di negeri ini. Kita lupa bahwa sebagai sebuah janji publik, seharusnya Demokrat bertanggung jawab pada ketidaksesuaian janji dengan realitas saat ini. 
Kita juga lupa bahwa dahulu Demokrat hanya menjanjikan TIDAK pada Korupsi tetapi tidak menjanjikan integritas kepartaian pada saat yang sama. Maka saat ini kita pun lupa, langkah apa yang bisa kita buat untuk menurunkan demokrat, padahal kita punya banyak titik untuk memulai melakukannya. 

Tetapi kita semua memang lupa, karena bangsa ini adalah bangsa dengan amnesia kolektif akut. Ya, kita mudah lupa seperti saya yang juga lupa alasan menulis postingan ini. Selain negeri 1000 kelapa, tanah ini barangkali tumbuh di atas negeri amnesia. Atau sebaliknya? 

Salam Amnesia 
Armin Bell
Ruteng Flores

6 comments:

  1. Salam amnesia Sahabatku! Tetapi, postingan ini membuat amnesia saya yang sebetulnya sudah akut jadi sembuh. Ingatan saya menjadi pulih, bahwa Partai yang katakan TIDAK pada korupsi, justru yang terdepan menggerogoti bangsa ini dengan perilaku kadernya yang koruptif. Pilihan saya yang lahir setelah membaca postingan ini langsung berubah, "TIDAK lagi percaya pada kader-kader partai ini!" Trima kasih Sahabat!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih telah bergabung dan memberi tanggapan menarik. Salam.

      Delete
  2. Ferdinandus JemaunOctober 18, 2012

    Salam amnesia Sahabatku! Tetapi, postingan ini membuat amnesia saya yang sebetulnya sudah akut jadi sembuh. Ingatan saya menjadi pulih, bahwa Partai yang katakan TIDAK pada korupsi, justru yang terdepan menggerogoti bangsa ini dengan perilaku kadernya yang koruptif. Pilihan saya yang lahir setelah membaca postingan ini langsung berubah, “TIDAK lagi percaya pada kader-kader partai ini!” Trima kasih Sahabat!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tabe e kae. Terima kasih sudah mampir. Semoga kita semua sembuh dari amnesia akut.

      Delete
  3. Tabe e kae. Terima kasih sudah mampir. Semoga kita semua sembuh dari amnesia akut hehehe.

    Salam

    ReplyDelete
  4. Terima kasih sudah mampir. Selamat memilih hehehehe

    ReplyDelete