Dua Senja

Selamat menikmati Dua Senja.
Dua Senja
Senja di Ruteng, Manggarai | Foto: Armin Bell

Dua Senja


Oleh: Armin Bell

"Kalau punya kesempatan untuk memilih dan dilahirkan kembali, kau mau jadi apa?” tanyamu senja itu. Kita sedang duduk berdua di tepi Motang Rua, lapangan di tengah kota ini. Memandang belasan anak bermain sepak bola, sebagian telah telanjang dada--tanda timnya ketinggalan gol, aku diam. Berlaku seolah tak mendengar tanyamu, terus memandang mereka ceria sambil berpikir jawaban yang tepat untuk pertanyaan itu.

“Mau jadi apa?” tanyamu lagi, menunggu jawaban lalu beringsut sejenak dari tempatmu duduk tepat di sampingku, memungut gelas-gelas plastik bekas air mineral yang telah kosong, memindahkan mereka ke tempat sampah di sudut lapangan.

Aku masih tak menemukan jawaban yang tepat atas pertanyaan sederhana itu. Bukannya aku tak bisa bercanda, menjawab sekenanya lalu kita berpindah topik. Aku bisa saja menjawab, “Aku mau jadi presiden biar bisa korupsi, punya uang banyak dan membelikan anak-anak itu sepatu bola agar kelak jadi pemain-pemain hebat dan Indonesia bisa masuk piala dunia.” Tetapi tidak padamu. Bercanda bukan duniamu.

Engkau marah ketika aku bilang tentang kiamat yang menjelang dan sebaiknya kita segera bercinta agar pulang dalam keadaan lengkap sebagai manusia dewasa. Itu peristiwa satu senja lebih dari setahun yang lalu. Aku bercanda ketika itu tetapi engkau marah. 

Katamu, “Kau pikir siklus hidup kita adalah lahir, tumbuh besar, dewasa, bercinta lalu mati? Bagaimana engkau bisa sesederhana itu? Tidakkah ada laku lebih baik seperti memperpanjang usia bumi dengan mencintai lingkunganmu?”

Baca juga: Einstein Jatuh Cinta pada Pramuria

Lalu kau mulai menjelaskan dengan penuh minat tentang bumi dan umurnya yang akan panjang sepanjang sabar kita melakukan hal-hal kecil; membuang sampah pada tempatnya, membersihkan selokan di pinggir rumah, membiarkan sungai menjadi daerah aliran air dan bukan sampah, menghemat pemakaian listrik di rumah, lebih sering berjalan kaki dan kegiatan remeh lainnya.

Aku tertawa lebar ketika itu, lalu bicara di selanya, “Bagaimana itu bisa menyelamatkan bumi jika hanya kulakukan sendiri, atau kita berdua atau orang-orang di kota ini? Bumi ini soal dunia. Ada banyak makhluk di dalamnya. Bukan hal yang sederhana.”

“Tidak akan sederhana kalau kau tetap egois, berpikir bahwa hal-hal baik hanya bisa kau lakukan sendiri, seperti yang kau buat pada facebookmu, twittermu, blogmu. Semua tentang kau. Dirimu dan galaumu dan jatuh cintamu dan sarapanmu dan makan siangmu dan patah hatimu dan lagu favoritmu dan pameran personalmu yang lain.”

“Apa hubungannya dunia dengan facebook?”

“Kemarin statusmu adalah tentang sarapan pagimu. Sarapan pake indomie telur dan enak. Begitu engkau menulis. Beberapa jam setelahnya kau tulis status baru. Lagi Galau. Sore harinya kau mengganti statusmu, lebih ceria. Minum kopi sambil dengar lagu-lagu U2, Bono memang hebat.”

“Tapi kan Bono memang hebat.”

“Bukan tentang Bono tapi soal kau dan statusmu.”

Lalu kau bercerita tentang Timur Tengah yang bergolak, pergolakan yang berawal dari jeritan bersama di jejaring sosial, menyata menjadi gerakan sosial yang besar dan menumbangkan rezim. Bayangkan jika kekuatan hebat jejaring sosial bisa kita maksimalkan untuk memperpanjang usia bumi, katamu menutup obrolan kita saat itu, lalu kita pulang.

Aku menawarkan diri mengantarmu, tapi kau memilih berjalan kaki dengan alasan itu lebih sehat. Aku menebak alasanmu sebenarnya adalah karena sepeda motorku berisik dan kau tak suka menodai malam. Setelahnya aku meng-update statusku: Hari ini bikin tempat sampah baru! Komentar pertama dari akunmu: Masih tentang kau!


“Sudah tahu mau jadi apa?” Kau kini selesai dengan puluhan gelas plastik itu dan kembali duduk di sampingku berharap segera mendapat jawaban. Pertandingan persahabatan tak resmi di Motang Rua memasuki tengah babak. Mereka minum dan puluhan gelas plastik lainnya siap mengotori lapangan itu lagi.

“Sebelum pulang, kita kumpul gelas-gelas plastik itu dan buang ke tempat sampah, ya?” Kataku kini sekedar menghindar dari pertanyaanmu itu. Aku benar-benar tidak tahu harus menjadi apa karena justru sedang berpikir tentang ingin menjadi seperti siapa. Maka menjawab profesi jelas bukan pilihan yang tepat. Kubatalkan niat menjadi Presiden. 
Andai saja pertanyaanmu bukan ‘apa’ tetapi ‘seperti siapa’ maka aku tahu akan menjawab, ingin menjadi seperti engkau yang menghargai bukan hanya diri sendiri tetapi juga aku dan bumi.
“Jawab dong,” suaramu mulai menjelma manja. Artinya aku harus mengatakan sesuatu karena setelah manja kau akan merajuk dan aku akan menjadi hilang gaya. 
“Apa iya kita akan lahir kembali?” tanyaku ragu. Engkau tersenyum dan aku tahu tak ada guna menghindar.
"Aku tau aku mau jadi apa. Aku mau jadi suamimu,” kataku kini tanpa ragu.
“Sudah setahun terakhir kan?” katamu dan tersenyum lebih lebar.

Selesai
Ruteng, 11 Januari 2012

Model cerita singkat seperti ini kadang disebut sebagai flash fiction.

Catatan tentang Flash Fiction dari indonovel.com:

Flash fiction sesuai namanya adalah fiksi kilat yang bisa dibaca sekejap hanya dalam hitungan detik. Beberapa penulis menyebutnya dengan istilah sudden fiction, microfiction, micro story, postcard fiction, atau short short story. 

Di China orang menyebutnya cerita seukuran telapak tangan.

Belakangan ini flash fiction meningkat popularitasnya seiring dengan berkembangnya sastra dunia maya. Karakteristik flash fiction yang pendek, padat, kuat & cepat dianggap sesuai dengan tipikal pengguna internet yang memiliki waktu terbatas.

0 Komentar:

Post a Comment