Radiogram - Cerpen di Pos Kupang

Radiogram pernah disiarkan di Harian Umum Pos Kupang. Cerpen di Pos Kupang ini sekaligus menjadi salah satu cerpen yang menandai beberapa perubahan penting dalam cara saya menulis. Selamat menikmati! 
radiogram cerpen di pos kupang
Radiogram

Radiogram


Oleh: Armin Bell

Cerpen di Pos Kupang


Travel ini terlalu cepat untuk jalan berkelok. Riel sibuk menahan mual, sudah hampir tiga jam terhimpit di antara seorang bapak yang terlihat santai menikmati perjalanan dan seorang ibu yang sudah tertidur sejak perjalanan ini dimulai.“Masih jauh, Pak?” tanya Riel.

“Setengah jam lagi,” jawab bapak itu sambil menikmati mengembuskan asap rokoknya asal-asalan. Pemuda itu terdiam, bukan karena tak punya bahan lagi buat bicara, tapi karena asap rokok itu seperti mengundang isi perutnya keluar. Satu kata saja berani dia ucapkan lagi detik itu, akan ada yang sibuk menyelamatkan diri dari muntahannya. Di kursi depan samping sopir, seorang gadis sibuk dengan handphonenya, headset terpasang di telinga sejak perjalanan baru dimulai.

Beberapa jam sebelumnya, Riel terheran-heran setelah keluar dari dermaga di Labuan Bajo. Belasan mobil berbaris di pinggir jalan. Riel berpikir, siapa gerangan orang kaya yang tadi naik Kapal Tilongkabila sehingga mobil-mobil pribadi itu berparade menjemput. Bukankah seharusnya mereka datang dengan pesawat? Hanya semenit setelahnya, dia tahu mobil-mobil pribadi yang sebagian besar APV dan Avanza itu bukan untuk menjemput seseroang yang kaya, tetapi dirinya.

Di sini, mobil-mobil sejenis itu lebih banyak dijadikan sebagai angkutan travel dadakan daripada untuk kepentingan pemiliknya. Informasi itu diperolehnya dari Pak Domi, seorang bapak yang kemudian menumpang di travel yang sama. Dia menyukai tempat ini pada kesempatan pertama. Dia ingat ibunya dan percaya bahwa perempuan bijak itu benar.

“Kau harus ke Manggarai, tempat itu menyenangkan dan ramah,” kata ibunya ketika mereka berdua membereskan warung sederhana di ruang tamu rumah kontrakan mereka yang disulap jadi ruang makan pelanggan. Dan ibunya benar, tempat ini menyenangkan dan ramah. Sikap yang muncul satu paket pada Pak Domi di sampingnya ini. Ramah, banyak bicara, dan menjelaskan apa pun bahkan tanpa harus ditanyai. Mereka menumpang Avanza warna silver dengan sopir berwajah keras dan tak banyak bicara.

“Dulu, Labuan Bajo sepi. Tapi sejak Komodo dikenal lebih luas, semakin ramai. Baguslah. Ekonomi lokal berjalan dengan lebih baik,” katanya ketika mereka baru dua kilo meninggalkan pelabuhan.
“Banyak bule ya, Pak?,” tanya Riel tanpa maksud yang jelas.
“Dari Jawa ya? Pasti dari Malang,” Pak Domi tidak menjawab pertanyaan Riel.
“Kok tahu?”
“Baju kamu Aremania. Kan tidak mungkin dari Surabaya,” Pak Domi menjawab, mencoba melucu lalu terkekeh panjang. 

Baca juga: Agama Apa Saja adalah Agama yang Baik

Riel ikut tertawa lalu terbatuk, Pak Domi dengan santainya mengambil rokok sebatang, menyalakannya, mengembuskan asapnya bahkan tanpa harus permisi. Pak Domi yang ramah, banyak bicara dan menjelaskan apa pun bahkan tanpa harus ditanyai, kini mendapat gelar baru: merokok tanpa permisi di dalam travel yang seharusnya tidak boleh karena saya ada di sini dan ibu di samping kanan saya tertidur mungkin pusing. Gelar yang panjang namun Pak Domi pantas mendapatkannya. 

Dan di sinilah mereka kini, di sebuah tempat 30 kilometer dari Ruteng. Pak Domi sudah tak lagi bicara. Ibu entah siapa di samping kanan Riel masih belum bangun sejak tadi. Hanya sesekali bergerak memperbaiki posisi tidurnya, ketika travel mungil itu terlampau bermanuver pada tikungan-tikungan tajam. Mereka berlima dalam perjalanan itu; sopir, gadis headset, Pak Domi, si ibu tidur dan Riel yang tiba-tiba dilanda kebingungan hebat karena tak tahu harus dari mana mulai mencari.

Perjalanan ini adalah sebuah misi. Riel mendapat tugas dari ibunya untuk mencari ayah. Riel tak pernah bertemu sejak detik pertama dia lahir di bumi manusia ini. Di masa Riel kecil, ibunya kerap bercerita tentang sosok ayahnya yang berambut keriting, berkulit hitam manis, pemain sepakbola hebat dan punya suara yang bagus.

“Dulu, bapak kalau main ke kos-an ibu, pasti bawa gitar dan selalu nyanyi lagu-lagu Broery,” cerita ibunya suatu ketika. Riel masih kecil dan bukan anak generasi Broery. Dia hanya mengangguk seolah tahu, lalu bertanya, “Broery sama Sheila On 7 bagusan mana, Bu?” Ibu hanya tersenyum lalu meneruskan cerita lain tentang ayahnya, namun selalu nampak canggung kalau ditanya tentang di mana ayahnya kini. Riel kecil hanya bisa menyimpulkan ayahnya sudah lama meninggal dunia. 

Kisah itu bertahan, sampai suatu saat ketika Riel sudah tamat SMA, ibu bercerita tentang ayahnya yang pulang ke kampungnya di Manggarai Flores, saat Riel masih dalam kandungan.

“Ayahmu pergi, bukan mati. Dulu kisah cinta kami tak direstui. Beda agama. Orang tua ayahmu, tidak setuju kalau anak lelaki mereka satu-satunya menikah dengan ibu. Mereka memaksa ayahmu pulang, bahkan sebelum kuliahnya selesai,” Ibu mulai bercerita. “Eyangmu di Blitar juga tak setuju. Ketika tahu ibu hamil, mereka menolak mengakui ibu sebagai anak mereka. Sejak itu, ibu tak pernah pulang ke Blitar. Dan yang kau panggil Eyang selama ini, sebenarnya adalah pemilik rumah kontrakan kita ini.”

Ibu lalu berkisah lengkap tentang hidup mereka yang sederhana saat ini. Dari ibunya, Riel tahu nama ayahnya Mikael. Nama ibunya Sundari. Maka dia diberi nama Ahmad Al Riel; Al Riel: Anak Lelaki Sundari dan Mikael. Kisah berlanjut. Mikael pulang ke Manggarai Flores, Sundari berhenti kuliah karena ayah-ibunya di Blitar tak lagi membiayai kuliahnya. 

Setelah sempat terkatung tak jelas, Sundari diijinkan membuka warung di sebuah rumah kecil di kawasan Pisang Candi Malang. Sejak saat itulah Sundari resmi menjadi warga Malang, mengurus hidupnya sendiri dan anaknya, dan mengenalkan pemilik rumah kontrakannya sebagai Eyang. “Kau pergilah ke Manggarai, cari ayahmu dan pulang ceritakan ke ibu bagaimana dia sekarang,” kata ibunya setelah semua kisah itu terungkap.

Maka di sinilah Riel sekarang, di dalam travel yang membawanya ke Ruteng, ibu kota Kabupaten Manggarai, tempat ia akan mulai mencari ayahnya.
“Nah, kita sudah sampai di Ruteng,” kata Pak Domi memecah hening.
“Sudah sampai ya, Pak?”
“Iya. Nanti nginap di mana?
“Nggak tau, Pak. Mau cari penginapan yang murah saja.”
“Di dekat rumah saya ada.”

Di penginapan, di sebuah losmen kecil di tengah kota dengan jumlah tamu yang tak banyak, tak satu pun terkumpul informasi kecil tentang Mikael Sendo, ayah Riel. Ketika diberitahu tentang cirinya pun mereka hanya tersenyum. Sebagian besar laki-laki Manggarai itu kulitnya hitam manis, bisa main bola, suka lagu-lagu Broery Marantika dan punya suara bagus. Itu kata mereka, tamu losmen itu. Riel tidur dengan pasrah.

Suhu yang dingin menyapa menusuk. Sudah pagi. Ini hari pertama mulai mencari. Dia ingin memulainya dari rumah Pak Domi, tak jauh dari losmen. Sekadar mempersempit kategori pencarian dengan bertanya banyak kepada bapak yang ramah dan semoga mengenal Manggarai dengan sangat baik. Riel juga berharap bisa bertemu lebih banyak orang, dan jika beruntung dapat sarapan pagi dan kopi Manggarai yang mereka bilang nikmat. 
Suatu ketika ibunya pernah bilang, “Orang Manggarai itu senang berkumpul.” Kata-kata ibunya terbukti. Rumah Pak Domi terlihat ramai. Riel perlahan memasuki halamannya lalu mematung sejenak di depan rumah sebelum si pemilik rumah muncul dengan tergesa-gesa dan wajah yang kusut masai.
“Pagi, Pak Domi,” sapa Riel ramah.
“Eh, kamu Riel. Pagi juga. Saya mau ke RSPD, ikut saya ya,” jawab Pak Domi cepat lalu menuju sepeda motornya. Riel seperti terhipnotis, tak sadar sudah duduk di boncengan.

“Adik saya di kampung Golo, 10 kilometer ke arah selatan, meninggal. Ada sengketa tanah dengan warga kampung Bea, kampung tetangga. Mereka terlibat bentrok berdarah di lokasi sengketa jam 6 pagi tadi, dua warga kampung Bea tewas dan dari kampung Golo ada tiga orang. Adik saya salah satunya. Kami menyebutnya perang tanding,” cerita itu dituturkan sepanjang perjalanan menuju RSPD yang adalah studio radio milik pemerintah daerah setempat.

“Lalu kenapa kita ke radio, Pak? Bukannya harus ke kantor polisi?” tanya Riel bingung.
“Polisi sudah ke lokasi. Kita ke radio karena saya harus bikin radiogram. Kami di Manggarai, biasanya pakai radiogram untuk memberitakan kematian ke anggota keluarga yang lain,” kata Pak Domi. 

Mereka tiba di radio.

Baca juga: HIV/AIDS Terlampau Dekat (Bagian 1)

“Selamat pagi, Pak. Ada yang bisa saya bantu?” seorang gadis muda menyambut. Ini dia gadis yang kemarin di travel yang sama dengan mereka. Dan dia mengenali Riel.
“Lho… yang kemarin sama-sama di travel kan?” katanya.
“Iya,” Pak Domi dan Riel serempak menjawab.
“Dunia itu sempit ya,” sapanya ramah. Dibukanya headset dari telinganya.

Di radio inilah pencarian Riel berakhir. Saat Pak Domi sedang sibuk mengurus radiogram dengan gadis headset di ruangan lain, Riel duduk di samping radio monitor di ruang depan. Sedang mengudara program berita pagi. Nama ayahnya disebut di radio, Mikael Sendo, salah seorang korban perang tanding dari kampung Beo. Keterangan lain tentang Mikael Sendo adalah berumur 40 tahun dan belum menikah.

***

“Nama lengkapmu pasti Gabriel. Ironis. Gabriel itu nama malaikat pembawa kabar sukacita. Bagaimana nanti kau bercerita tentang ayahmu pada ibumu?”
“Bukan Pak, nama saya Al Riel, Anak Lelaki Sundari dan Mikael. Ini yang akan saya ceritakan pada ibu; ayah tidak pernah berhenti mencintai ibu, sampai dia mati.”

Mereka sedang menunggu travel yang akan mengantar Riel ke Labuan Bajo. Perang tanding telah beberapa hari berlalu. Riel akan segera pulang ke Malang. Ranselnya bertambah berat, ada kopi Manggarai oleh-oleh dari Pak Domi, Songke Manggarai dari keluarga ayahnya, koran lokal dengan headline: Lagi, Manggarai Diguncang Perang Tanding, dan CD koleksi lagu Broery yang didapatnya dari si gadis headset penyiar radio. Ada lagu berjudul Pamit di CD itu.

Travel menjemput. Riel bergegas naik setelah memberi salam perpisahan, “Saya pamit Pak Domi, terima kasih untuk semuanya.” Ada air mata yang menggenang, entah untuk siapa. Travel melaju, sopir yang sama seperti ketika dia datang dan seorang ibu entah siapa yang tertidur sejak perjalanan baru dimulai. Riel ingat ibunya.

Selesai

0 Komentar:

Post a Comment