Lembar Terakhir - Sebuah Cerpen Kolaborasi

Lembar Terakhir ini adalah sebuah cerpen kolaborasi. Saya dan seorang teman di blog keroyokan Kompasiana melalukannya untuk sebuah even bernama Malam Prosa Kolaborasi. Iven itu menghasilkan sebuah buku kumpulan cerita. 
lembar terakhir sebuah cerpen kolaborasi
Kota tua Ruteng | Foto: Armin Bell

Lembar Terakhir


Oleh: Armin Bell dan Hawa Elpandani

Untuk Malam Prosa Kolaborasi Kompasiana


"Namaku Dhona," jawabmu tersipu. Aku ingat setiap detail itu. Senyum yang kau tawarkan setengah malu, rambut yang kau sibakkan entah untuk apa, ujung sepatu yang kau ketukkan di lantai tanpa irama, semua gerakanmu salah. Ya, semua sepertinya salah. 

Mengapa tak tersenyum penuh? Apa guna menyibak rambut ketika tak ada yang menempel pada keningmu? Dan ketukan pada lantai itu. Ah… Tak bisakah kau buat berirama? Tak harus rapi, minimal berarti sesuatu. Mungkin seirama tepuk Pramuka atau apalah. Jauh lebih benar rasanya daripada yang kau lakukan dengan ujung sepatumu pada lantai. 

Tapi kuakui kau memang cantik, bahkan pada sikapmu yang serba salah itu, kau cantik. Dan tahukah kau? Perhatianku yang detail pada semua sikap salahmu adalah upaya terbaik agar aku terhindar dari pesonamu. Kau sungguh cantik dan aku takut larut. Tentu kau tak mengerti mengapa aku takut tapi aku mengerti. 

Aku membaca sejarah, atau sebutlah roman dari masa lalu. Helen dari Troya, Romeo dan Juliet, bahkan Siti Nurbaya-Syamsul Bachri adalah cerminan cinta sejati yang berujung mati. Ayu Utami pun tak setuju dengan cinta sejati. Kalau setuju, mengapa pula dia matikan si pemanjat tebing itu di Bilangan Fu padahal Marja telah jatuh hati padanya dan dia pun demikian? 

Jangan salahkan aku atas takutku. Salahkan mereka yang menduniakan cerita-cerita keji itu. Aku takut aku jatuh cinta padamu meski tak ada yang bisa kuperbuat dengan telapak tanganku yang mulai berkeringat.

Kau tak persis di depanku saat bilang namamu Dhona. Sekitar dua atau tiga meter dari tempatku berdiri. Aku mendengarnya dari jarak itu saat kau menjawab salah seorang kawanku. Kau baru di tempat ini, dan aku tak selugas temanku bertanya. Lagi pula apa pentingnya bertanya ketika hanya dengan diam semua jawaban yang dibutuhkan hadir dengan rela? Hanya saja aku tetap berharap semoga aku tak jatuh cinta padamu. Jangan sampai aku jatuh cinta padamu, Dhona

Kau tertawa ketika kuceritakan itu padamu. Tentang takutku pada kali pertama melihatmu. Dengan renyah kau bicara di sela tawa yang tertahan.
“Kok bisa dulu kamu takut jatuh cinta?”
“Sudah ah. Ganti topik aja.
“Ya sudah. Tapi kok bisa, ya? Kau teruskan tawamu yang membuatku jatuh cinta sungguh. Langkah kita pelan menuju cafe kecil tempat kita setahun kita saling jatuh cinta. 

Setahun waktu yang cukup untuk mengenal bahwa ketukan ujung sepatumu pada lantai memang tak akan pernah berirama, bahwa mengibas rambut bagimu bukan untuk merapikan helainya yang jatuh di wajah tetapi adalah irama sikap yang tak akan hilang, bahwa senyummu memang tak akan pernah lepas; dan semua menjadi benar. Jatuh cinta adalah melihat engkau sebagai benar dan aku mengangguk setuju. 

Baca juga: Einstein Jatuh Cinta pada Pramuria

Hari ini hari libur. Kau pulang sejenak ke rumah orang tuamu. Setengah jam penerbangan dan kau dapat tiket murah. Biasanya kita habiskan waktu libur berdua, tetapi hari ini aku di sini sendiri. Pengumuman kejepit nasional dadakan ini membuat aku tak sempat berpikir untuk pulang. Kampungku jauh, tak cukup libur sehari dua. Bulan depan aku berencana mengambil cuti tahunan, pulang, bercerita tentang kita dan rencana menikah. 

Tanpamu siang ini, televisi adalah sahabat yang kupaksakan ada. Stasiun berita sedang breaking news, satu lagi kecelakaan transportasi udara. Bangsa ini tak seharusnya membeli pesawat-pesawat tak layak itu. Belum ada data pasti tentang nama dan jumlah korban, tapi kutahu, seperti biasa, pasti ada yang mati. 

Tapi... Itu kan nomor penerbangan yang....Kenapa dunia di sekelilingku gelap? Dhona?

***

Aku terbangun dan mendapati diriku telah kembali mengingat akhir tragis Romeo dan Juliet, tentang perang Troya yang maha dahsyat, tentang Siti Nurbaya yang mati, tentang kesadaranku yang kembali utuh. 

Aku seharusnya tak perlu jatuh cinta padamu Dhonaku. Bukankah seharusnya aku percaya kata hatiku dulu? Cinta telah membawaku sejauh ini, sejauh mati, sejauh kau kini. Yang tersisa padaku hanya ingatan samar yang kupaksa hadir, tentang puisi yang kukirim sehari sekali. 

Aku pernah meminta padamu
Jadilah pohon, daunnya menyejukkan, udaranya menenangkan, aku ingin berteduh dari terik dan panasnya hidup,

Jadilah bangku, alasnya empuk, tiangnya kuat, aku ingin duduk dan bersandar, menceritakan segala perih dan penat penderitaan yang kualami sehari-hari--aku ingin bercerita dalam suasana nyaman, santai, dan hangat, ditemani segelas teh tanpa gula, terasa manis, karena senyummu mengubah segalanya,

Jadilah tongkat ketika kakiku lepuh karena terlalu lama berjalan, kau bisa menopangku, menuntunku sampai ujung perjalanan menuju cahaya,
Jadilah laut, aku ingin duduk di atas karang, memandangmu, bercerita semua, kau tahu sekali waktu aku suka sekali bicara, aku suka laut, aku berharap itulah dirimu, entah untuk apa,
Dan kini aku hanya mampu meminta, kau kembali.

Tapi inilah aku berharap kau kembali saat ini sama seperti dahulu waktu pertama kali bertemu berharap tak jatuh cinta padamu, sama seperti berharap tak ada hari kejepit nasional yang diumumkan mendadak, sama seperti berharap bangsa ini punya pesawat terbang yang bagus. Ah, tahukah kau? Aku terlalu banyak berharap kupikir, sampai tak sempat mendoakanmu.

Dan aku mati
Aku yakin, penuh keyakinan
Kau tahu, lebih dari tahu
Tentang kebisuan lebih berkata dari duka
Keheningan berbicara lebih dari lara
Tentang dukaku ditinggalkan, maka itu aku setia

Ini tentang pengetahuan lama dan sudah membatu
Kini di atasnya tumbuh bunga indah
Indah, seindah raut kau punya wajah
Harumnya kenangan sepahit empedu
Hitam, asap-asap pekat, darah mewarnai jiwa
Sampai hari ini aku tetap setia

Dan seribu tahun lagi, saat orang menggali
Wajah indah tertera pada lapisan batu
Berukir garis, bercerita mati--masih terharu
Aku memilih tetap setia
…..

Selesai

Catatan: 
  1. Cerpen Lembar Terakhir ini adalah hasil kolaborasi dengan Hawa Elpandani a.k.a. Dhona dari Prabumulih untuk iven Malam Prosa Kolaborasi [MPK] di Kompasiana. Sudah diterbitkan dalam buku MPK dengan judul The Last Page, Bell Dhona.
  2. Yang baru saja anda baca telah mengalami beberapa perubahan.

2 comments: