Kera Sahabat Ikan

Kita beda, Kita Sahabat. Andai semua orang dengan yakin mengatakan kalimat itu dan dengan yakin pula melaksanakannya dengan sepenuh hati, dunia pasti lebih baik. Saya selalu percaya bahwa dunia telah penuh orang-orang pintar, tetapi orang baik? 
kera sahabat ikan
Sahabat | Foto: Frans Joseph, Courtesy of Drama Musikal Ombeng

Kera Sahabat Ikan


Ini adalah kisah klasik dari Afrika. Dalam usaha belajar menulis, salah satu yang saya lakukan adalah membaca kisah lama dan mencoba menuliskannya kembali. Anggap saja saya melakukan parafrasa meski dalam situasi yang lebih panjang, sulit, dan tidak selalu benar #eh

Persahabatan kera dan ikan adalah kisah tentang pentingnya menghargai sahabat anda sebagai dirinya sendiri. Saya lupa, di mana membaca atau mendengar hikayat ini, tetapi waktu telah menyimpannya pada memori saya yang semoga belum karatan ini. 

Sebagaimana kisah-kisah masa lalu, cerita itu diawali dengan kata dahulu kala, dan diikuti dengan tutur yang mengalir deras tentang seekor kera dan seekor ikan di sebuah hutan. Hutan itu tentu saja hutan yang indah, karena di dalamnya juga ada sungai yang mengalir tempat ikan bisa bermain. Sampai di sini, di bagian hutan yang indah ini, saya benar-benar berharap hutan-hutan kita akan semakin indah di ratusan tahun mendatang. 

Tidak ada penjelasan tentang bagaimana ikan dan kera itu bisa berteman, atau mungkin ada dan saya lupa, tetapi yang pasti pertemanan mereka dilukiskan sebagai persahabatan yang akrab. Mereka berbagi cerita, bercanda bahkan juga (mungkin) saling curhat. Begini ceritanya.

Dahulu kala, seekor kera bersahabat dengan seekor ikan. Persahabatan itu telah berlangsung sekian lama. Si Kera bermain di pohon dan sesekali turun ke pinggir sungai tempat temannya berenang ceria. Semua mengalir seperti apa adanya. Tak ada yang dipaksakan. Pada pagi hari, Si Ikan akan menunggu sapaan sahabatnya yang bermain di pinggir kali, lalu berbagi cerita, sesekali saling mengejek dan selebihnya berbagi pujian. Mereka bersahabat dengan manis. 

Baca juga: Lembar Terakhir - Sebuah Cerpen Kolaborasi

Di suatu malam yang berhujan, kera kembali ke dahan favoritnya. Beristirahat. Melindungi diri dari kebas angin dan kipas hujan. Pada masa dia hampir tertidur, berpikirlah Si Kera tentang persahabatan mereka. Jatuh iba Si Kera pada sahabatnyaSi Ikan yang selalu basah. 

“Ah, sungguh kasihan temanku itu. Setiap saat selalu kedinginan. Hari ini, kehujanan satu jam saja, aku sangat tidak nyaman,” tuturnya lembut pada dirinya sendiri. 

Kawanan kera lainnya sudah tidur, dan tokoh kita ini sedang tidak ingin menceritakan galaunya itu pada mereka. “Ini nih, anggota kita yang bersahabat dengan ikan, seolah tidak ada kera lain yang bisa diajak sharing,” demikian suatu ketika mereka menyindir, dan Si Kera tak ingin menambah banyak jumlah sindiran kelompoknya hanya karena curhatnya tentang sahabatnya dari kelompok yang lain. 

Maka dia memutuskan untuk berpikir sendiri tentang sahabatnya itu, sebuah kontemplasi di dahan favorit, ah adakah yang lebih indah? Si Kera kemudian terlelap dengan sebuah keputusan.

Hari sudah pagi, Si Kera bergegas mencari sarapan dari kebun petani tak jauh dari hutan mereka lalu pulang, menikmati sarapan dan meluncur ke pinggir kali. Sahabatnya sudah menunggu, menyapanya ramah dan mengajaknya bermain teka-teki, permainan yang mereka lakukan setiap hari. 

“Mengapa anak anjing dan anak kucing selalu bertengkar?” tanya Si Ikan memulai permainan. Kera mencoba menjawab tapi selalu salah. Dia menyerah, siap kalah 1-0 pagi itu. 
“Karena mereka masih anak-anak,” jawab Si Ikan lalu berderai tawa. Si Kera ikut terpingkal lalu memuji selera humor temannya. 

Entah dari mana mereka dapatkan bahan untuk teka-teki itu, saya tak peduli. Saya hanya menikmati cerita itu sebagai tontonan sahajanya persahabatan di tengah hutan. Mereka masih terus bermain beberapa waktu setelahnya, sampai ketika Si Kera meminta sahabatnya itu berenang lebih ke pinggir. 

“Aku ingin menyelamatkanmu kawan,” katanya lalu menyanyikan That’s What Friends Are For-nya Stevie Wonder dengan penuh penghayatan dan tersenyum. 
“Maksud kamu?” tanya Si Ikan sambil bergerak mendekat. Untuk sahabat dia akan melakukan apa saja. 

Baca juga: Public Speaking: Pidato, Pengertian, Skema, dan Lainnya

“Kemarilah,” jawab Si Kera it, mengangkat sahabatnya dari air dan memeluk erat. “Aku sudah memikirkan ini semalaman. Tak akan kubiarkan sahabatku kedinginan sepanjang hidupnya. Kemarilah, tinggalah bersamaku, ada banyak tempat di rumah bapakku.” 
Ceritanya saya ingat sampai di sini, tidak cukup kuat mengingat bagian selanjutnya. Mungkin Si Ikan berontak lalu kembali ke air atau justru mati dalam dekapan sahabatnya. Tetapi satu kemungkinan lain yang kira-kira hadir (dalam tebakan saya) ialah, Si Kera kehilangan sahabatnya. 
Ya, kalau misalnya Si Ikan selamat kembali ke air akan sangat mungkin dia berpikir ulang tentang persahabatan mereka. “Dia mau membunuhku!” pikirnya. Atau andaikan Si Ikan memberi maaf (dan hal itu sebaiknya dilakukan untuk sahabat yang melakukan kekeliruan meski itu sangat menyakitkan), mereka mungkin harus memulai persahabatan dari awal. Entahlah. 

Kisah ini sepertinya mau bertutur tentang perspektif, tentang cara pandang, tentang menentukan sikap, tentang penyerahan diri atau tentang menghargai. Sampai di sini saya ingat sahabat-sahabat saya dan berharap semoga tetap mampu bilang: Perbedaan itu Indah.

Salam
Armin Bell
Ruteng Flores, 5 Januari 2012

0 Komentar:

Post a Comment