Mengapa Gratis Kalau Bisa Bayar?

Pertanyaan mengapa bayar kalau bisa gratis adalah pertanyaan paling sering didengar dalam percakapan kita. Maksudnya kalau ada yang gratisan, untuk apa membayar? Tetapi pernahkah bertanya terbalik?
mengapa gratis kalau bisa bayar
Menghirup udara segar di pegunungan | Dok. RanaLino.ID

Mengapa Gratis Kalau Bisa Bayar?


Ketika menulis catatan ini, saya teringat akan term populer di zaman masih kuliah. Biasanya dipakai untuk mengejek, mengolok-olok, bercanda dengan teman yang hobi gratisan. Orang romantis adalah predikat yang akan disandangkan pada mahasiswa dengan tipe seperti itu. 

Pernah dengar soal romantis itu? Bukan, bukan romantis dalam pengertian suasana yang indah bersama orang-orang terkasih. Bukan! Tapi romantis yang saya maksudkan adalah Rokok Makan Gratis. Ya, Romantis adalah akronim nyeleneh yang kerap dipakai sebagai sindiran untuk teman atau siapapun yang senang dengan apa saja yang gratis.

Tetapi apa sebenarnya gratis? 

Boleh jadi gratis adalah salah satu dari sekian banyak kata dalam bahasa Indonesia yang berakar pada bahasa Latin. Ya, boleh jadi dia bersumber pada kata Gratiae yang berarti berkat atau Gracias dalam bahasa Spanyol yang berarti terima kasih. Artinya--boleh jadi juga--gratis berarti berkat; gratis berarti terima kasih

Berdasarkan dua arti tersebut, maka saya pun memaksa diri membuat pengertian berikut: Gratis adalah berkat yang kau terima dan harus kau syukur dengan berterima kasih. 

Seberapa benar pengertian Gratis yang saya buat bukanlah persoalan yang paling penting. Soal kita adalah seberapa besar kemampuan kita bersyukur dan berterima kasih atas anugerah yang kita terima secara "tanpa mengeluarkan biaya". Sebelum menjawab itu, saya ingin berdebat dulu dengan mereka-mereka yang bilang "tidak ada yang gratis zaman sekarang". 

Mengapa saya mendebat pandangan ini?

Selain karena sekarang ini masih banyak orang-orang Romantis, juga karena sebenarnya masih banyak hal yang kau bisa nikmati 'tanpa harus mengeluarkan biaya/rupiah'.

Mau contoh? Paling hebat adalah sesuatu yang bisa kau nikmati tanpa biaya, tetapi mampu membuat kau hidup. Dia adalah oksigen yang kau hirup sekarang ini, jadi nafasmu dan membuat kau ada. Kau tidak harus mengeluarkan rupiah untuk bernafas bukan? 
Yang perlu kau lakukan adalah memperhatikan keseimbangan lingkungan agar kau bisa terus bernafas dan kau bisa memulainya dengan hal-hal yang sederhana; seperti buang sampah pada tempatnya. Tetapi seberapa sering kita melakukannya--bukan bernafas tapi buang sampah pada tempatnya? 
Mau contoh lain? Setiap hari kau bisa menikmati sesuatu yang indah dengan 'tanpa mengeluarkan rupiah'. Misalnya, buat cowok: menyaksikan perempuan seksi, cantik dan menyenangkan berjalan di depanmu. Kehadirannya bisa membuat kau nyaman atau malah menginspirasimu melakukan hal-hal yang positif. Tetapi seberapa sering kau mensyukuri hal seperti itu tanpa disertai dengan kata-kata, "Cantik sih, tetapi kan kentutnya bau" 

Ayolah..... mengapa harus berpikir tentang bau kentutnya jika kau sebenarnya bisa memandang kecantikannya gratis tanpa bonus kentut? Heran! O iya, contoh ini berlaku untuk jenis kelamin sebaliknya. 

Ya, itulah debat saya untuk pandangan tidak ada yang gratis di zaman sekarang ini. Paham? 

Kembali pada kemampuan bersyukur atau berterima kasih. Seberapa sering kita bersyukur atas nafas dan alam? Sedikit sekali mungkin, dan tidak sebanding dengan kemampuan kita merusak. Maka jangan pernah terkejut. ketika suatu saat apa yang kau nikmati gratis saat ini tetapi tidak kau syukuri malah berbalik menyerangmu. Nafas diambil, alam memberi bencana, dan perempuan cantik yang kau lecehkan dengan mengungkit-ungkit persoalan bau kentutnya, tiba-tiba menamparmu. 

Tadi kau terlalu kencang suara saat bilang "Cantik sih, tapi kan kentutnya bau..." Dia dengar itu, tersinggung dan menampar. Hari yang aneh bukan? Mungkin tak akan pernah terjadi jika kau menikmatinya dalam diam dan bersyukur dalam hati "Terima kasih Tuhan, aku masih bisa melihat perempuan cantik hari ini." Kau toh tak harus mengeluarkan rupiah untuk itu. 
Dan itulah gratis: "Berkat yang kau terima hari ini dan harus kau syukuri. Amin" Jadi, mengapa gratis kalau bisa bayar? 
Orang yang bilang 'cantik sih tapi kan kentutnya bau' adalah orang yang tidak berani berbuat sesuatu untuk sesuatu yang dikaguminya. Saya agak takut bilang 'pengecut'. Kan tir sopan to.

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

8 comments:

  1. Oeh.... iti tah, senggo-senggo keng hehehehe.

    ReplyDelete
  2. Hihihihiihihih...setujuuu,,

    ReplyDelete
  3. Bertyn LatuMarch 27, 2014

    Suka baca ini ^_^

    ReplyDelete
  4. Oehhhh.... selamat berakhir pekan :-)

    ReplyDelete
  5. ngehe..ente cerdas bingits..ane suka cara ente nulis..

    ReplyDelete