Membaca Itu Penting bagi Penulis

Membaca itu penting. Saya pikir hampir semua orang pernah mendengar kalimat ini. Meski demikian, pertanyaan seperti untuk apa membaca juga kerap muncul. Bahkan pernah muncul setidaknya sekali dalam kepala kita masing-masing; apa manfaat membaca? 
membaca itu penting bagi penulis
Membaca itu Penting | Dok. RanaLino.ID

Membaca Itu Penting Bagi Penulis


Kadang kita merasa, orang-orang yang menggunakan waktu senggangnya untuk membaca adalah orang-orang yang melakukan pekerjaan yang sia-sia. Membosankan. Tidakkah ada kegiatan lain yang lebih menarik selain membaca? Nerd! Bla bla bla... 

Sekian banyak pertanyaan itu menemui bantahannya ketika dalam diskusi atau obrolan ringan, mereka yang senang membaca terlihat lebih cakap, lebih nyambung, lebih dapat mengikuti tema dengan baik, dan terutama tampak berwawasan luas. Sampai di sini, saya berharap kita sepakat bahwa manfaat membaca adalah membuat kita 'sedikit lebih baik dalam pergaulan'. 

Baiklah. Kini kita masuk ke bagian yang berhubungan dengan judul tulisan ini; penulis dan kegiatan membaca. Artikel ini jauh dari niat memberikan tips menulis. Alasannya jelas, saya bukan penulis yang sangat hebat. Uraian di catatan ini hanya seputar apa yang pernah saya lihat, saya dengar, dan saya baca tentang dua hal tersebut. Perkiraan arah tulisan ini adalah tentang apa yang mungkin terjadi jika seorang penulis tidak membaca?

Membaca itu penting. Paling tidak itu yang saya ingat dari Marga T. Penulis novel laris yang berhasil hidup dari royalti menulis ini pada sebuah kesempatan berujar tentang salah satu keharusan jika seseorang ingin menjadi penulis. 
“Menjadi seorang penulis berarti menjadi orang yang harus membaca tulisan orang lain,” demikian Marga T. seperti dikutip sebuah majalah -entah apa saya lupa-. Baginya, tulisan orang lain itu mungkin seperti makanan bergizi dan imunisasi. 
Saya pikir, mendiang Otto J. Gaut yang menulis novel Manggarai (mungkin lebih tepat novel yang mengambil setting di Manggarai) juga bersepakat tentang hal tersebut.

Saya sendiri jelas sangat setuju dengan Marga T. penulis novel kesukaan Muder Yuliana, Lonceng Kapel Tetap Berdentang. Membaca adalah langkah awal menjadi penulis. Kita semua pasti sadar bahwa ketika kecil, kita mengenal huruf terlebih dahulu dengan mengeja abjad, sebelum belajar menarik garis dan menuliskan huruf atau angka.

Maka, membaca adalah langkah pertama sebelum kita mengenal tulis. Di sekolah juga, guru SD kelas satu biasanya mengawali pelajarannya dengan mengenalkan huruf untuk dibaca, dan setelahnya melanjutkan kurikulum menulis, dan selanjutnya pelajaran mengarang. 

Manfaat Membaca Bagi Penulis 


Tentang mengapa membaca itu penting untuk penulis, saya punya beberapa jawaban personal:

Menjaga Orisinalitas Karya

Semua juga tahu bahwa ada ribuan ide cerita di muka bumi ini dan telah dituliskan dalam berbagai bentuk karya. Cerpen, roman, novel, aporisma, naskah film, script iklan, puisi dan lain sebagainya. Membaca karya-karya itu akan memberi penulis kesempatan untuk tidak mengulang ide serupa agar tidak terkesan basi, atau minimal dalam eksekusi karya bisa menggunakan sudut pandang lain. 

Dengan demikian orisinalitas karya akan terjamin dan tidak akan mendapat kritikan berupa: Cerita ini kan sudah pernah dibuat, yang dulu malah lebih keren. Meski tentu saja sedikit sekali ide masa kini yang akan dianggap benar-benar orisinil, tetapi dengan membaca kita akan memiliki kemampuan melihat celah baru yang mungkin belum digarap oleh penulis sebelumnya dalam tema besar yang sama. 


Memperoleh Pelajaran Bertutur

Semua tentu sepakat bahwa kekuatan penulis adalah pada cara menarasikan cerita. Ide cerita terhebat di seluruh dunia akan menjadi hambar jika penulis salah menyampaikannya. Bahkan ide sederhana akan menjadi sangat luar biasa ketika mampu dituturkan dengan baik.

Baca juga: Seni itu Band Melayu?

Tentang ini, saya tertarik dengan gaya bercerita Ahmad Tohari dalam Bekisar Merah dan juga Belantik, ketika dunia Karang Soga sebuah desa kecil entah di mana tiba-tiba mampu menjelma menjadi dunia saya sebagai pembaca. 

Ya, dengan membaca tulisan penulis lain kita bisa menentukan bagaimana cara kita bertutur ketika hendak menulis cerita. 


Mampu Menulis Ulang Dengan Hebat

Banyak film yang diadaptasi dari novel kemudian dianggap gagal. Masyarakat yang mengenal cerita itu dari buku, kecewa karena versi layar lebarnya menjadi tidak menarik. Bagi saya, kelemahan penulisan naskah terjadi karena tidak ‘membaca’ novelnya dengan sungguh; selain kelemahan sinematografis dan hal-hal teknis lainnya.

Artinya, membaca tulisan orang lain sebenarnya berpeluang membuat seorang penulis mampu menulis cerita lebih hebat, terutama karena saat membaca kita diberi peluang untuk bertanya dan menemukan jawaban atas ruang kosong yang mungkin kita temui.

Agar Kita Sejenak Berhenti Menulis

Terlalu banyak menulis dalam waktu yang singkat kabarnya akan membuat nilai tulisan kita berkurang. Dikejar target untuk menyelesaikan tulisan dalam jumlah tertentu membuat karya kita kadang kehilangan rasa. Menurut saya, itu yang terjadi pada beberapa penulis yang mungkin tak sempat membaca karya orang lain atau bahkan karyanya sendiri, sehingga para penggemarnya kecewa pada buku-buku setelah buku pertama.

Seorang cerpenis produktif bahkan terjebak menjadi seorang pembajak karya orang lain. Dia terlalu sibuk menulis, merasa harus selalu menghasilkan karya, lalu membaca sebuah buku dan mengopas buku tersebut menjadi cerpen. Alhasil, namanya diperbincangkan sebagai penulis copy paste. Padahal andai dia tidak memaksakan diri menulis saat itu, mungkin bacaannya justru bermanfaat menghasilkan karya yang lebih hebat dan orisinil setelah mengambil momen reflektif.
Berhentilah sejenak menulis, mulailah membaca--buku, blog, majalah dan postingan sahabat lain di forum-, meresapi tiap bacaan menjadi cerita personal kita dan mulailah menulis lagi.
Saya sendiri senang membaca. Saya selalu berusaha menyelesaikan (membaca) lebih dari sepuluh novel per tahun. Di luar novel, kumcer, artikel pop, status facebook teman, juga selalu saya baca. Apa manfaatnya? Membaca bikin saya rasa senang. Itu saja cukup, bukan?

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

6 comments:

  1. Terima kasih Kang, terpaksa pindah rumah nih, soalnya fasilitas blogging di multiply akan dihapus hehehehe

    ReplyDelete
  2. Heri PurnomoFebruary 14, 2013

    mantap bang Armin..
    tulisannya sangat meninspirasi.
    salam
    HP

    ReplyDelete
  3. Terima kasih Pak HP.
    Salam hangat :-)

    ReplyDelete
  4. Artikel inspiratif! Saya mengoleksi novel. Awalnya, alasan saya hanya krn mata yg susah diajak kerja sama menjelang tidur. Belum bisa tidur kalo belum lihat huruf dan hirup aroma kertas yg khas. Sekarang jadi hobi, krn takut kehilangan imajinasi (tentang apa saja) jika saya benar2 berhenti membaca. Satu lagi,fotonya bagus Pak Armin! Tabe..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebagian besar koleksi saya juga novel. Selalu menyenangkan membaca dunia dalam rekaan para penulis hebat. A ha... itu koleksi pribadi dari prewed sess. Terima kasih sudah mampir :-D

      Delete