Kritik Tak Pernah Sepedas Kripik

Kita tak pernah suka dikritik. Salah satu alasannya adalah karena kita menduga kritik datang dalam kerangka subjektivitas. Karena itu saat mendapat kritik, kita merasa sedang diserang secara pribadi. Benarkah perasaan itu? 
kritik tak pernah sepedas kripik
Kritik tak pernah sepedas kripik!

Kritik Tak Pernah Sepedas Kripik


Apakah benar kritik yang sebagian besar kita dengar saat ini adalah serangan personal, barangkali kita akan terjebak pada debat yang panjang. Hanya saja, dengan melepaskan diri dari semua persoalan itu, saya sesungguhnya percaya bahwa ada hal-hal baik yang dapat kita temui pada setiap kritik; sebrutal apa pun itu disampaikan.

Adakah kritik yang salah? Merujuk pada pengertiannya, sepertinya tidak ada satupun kritik di muka bumi ini yang pantas disebut sebagai kritik yang salah. Apa itu kritik? 
Kritik adalah masalah penganalisaan dan pengevaluasian sesuatu dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman, memperluas apresiasi, atau membantu memperbaiki pekerjaan
Artinya jelas, kritik bertujuan positif. Maka sebrutal apa pun dia datang, seharusnya tetap dilihat sebagai niat membantu memperbaiki pekerjaan. 

Tetapi persoalan kemudian muncul ketika dalam keseharian kita cenderung memberi perhatian lebih pada siapa yang mengkritik, bukan pada materinya. Sederhananya begini. Ketika tulisan saya dikritik, yang pertama kali saya lihat adalah siapa yang memberi kritik. Pada tahapan selanjutnya, yang saya lakukan adalah memikirkan apakah orang itu cukup pantas memberikan kritik. 

Artinya, ketika dia memberi kritik pada karya saya, saya akan bertanya apakah dia sudah menghasilkan karya yang lebih baik dari saya? Kemudian saya akan mengutak-atik latar belakang orang itu; ketika ternyata saya temukan bahwa dia tidak menghasilkan karya yang lebih baik maka kritikannya akan saya abaikan. “Ah, tidak pernah nulis cerpen udah berani kritik cerpen saya!” begitu pikir saya dalam hati. 

Akibatnya, kritikan tersebut lewat begitu saja tanpa saya baca poinnya dengan jelas. Padahal, bisa jadi materi kritikannya adalah sesuatu yang sangat bermanfaat untuk pengembangan karya saya. Tetapi saya tidak memedulikannya dengan alasan dia tidak pantas memberi kritik karena tidak menghasilkan karya seperti yang saya lakukan. 

Baca juga: Jurnalistik Dasar: Komunikasi

Begitu yang sering saya temui dalam keseharian saya. Pada tahap tertentu, kita kadang berharap (atau mengharuskan) si pemberi kritik menyertakan solusi. Padahal kritik itu bertujuan meningkatkan pemahaman dan bukan menyelesaikan masalah.

Seorang kritikus, tidak harus dibebani dengan pekerjaan tambahan: menyelesaikan pekerjaan kita. Dia hanya bertugas membantu kita menemukan jalan memperbaiki pekerjaan; kita sendiri yang harus memperbaikinya dan kritikus membantu kita ‘melihat’ apa yang harus diperbaiki. 

Harus diakui, kita kadang terjebak pada ungkapan "kritik yang membangun" sehingga merasa kalau ada orang yang memberikan kritik ‘lepas’ kita lantas menyalahkannya sebagai ‘tukang cari-cari kesalahan‘. Kemudian yang kita lakukan adalah membalas mengkritiknya dengan lebih membabi buta. 

Padahal pada awalnya subyek kritikan adalah karya kita agar menjadi lebih baik, tetapi berubah menjadi: Kita yang berniat sungguh mengkritik karya orang lain, sesuatu yang tiba-tiba muncul begitu saja sehingga jangan heran kritikan kita kadang tidak memiliki landasan yang cukup kuat. 

Situasi menjadi kabur. Self defense mechanism dibangun sehingga kita tidak lagi punya kesempatan memperbaiki karya kita dan malah memperbaiki karya orang lain. 

Akibatnya? 
Karya kita diam di tempat dan karya orang lain bergerak maju. Siapa yang kalah? Hemat saya, jika situasinya seperti ini, saya yang kalah, karena tidak belajar dari kritikan tetapi malah mengkritik karya orang lain. Padahal karya sayalah yang harus diperbaiki. 
Menyadari kondisi ini, saya lalu berpikir untuk menghargai setiap kritik, sebrutal apapun itu disampaikan pasti tetap bermanfaat, karena kritik adalah masalah penganalisaan dan pengevaluasian sesuatu dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman, memperluas apresiasi, atau membantu memperbaiki pekerjaan. Pekerjaan saya. 

Baca juga: Agama Apa Saja adalah Agama yang Baik

Bayangkan ini: Suatu ketika, putra atau cucu Anda yang bahkan belum bisa merapikan rambutnya sendiri, memperhatikan anda berdandan. Anda akan pergi ke pesta. Setelah waktu setengah jam di depan cermin, puaslah anda dengan penampilan terkini dan siap berangkat. Tiba-tiba dia bergumam, “Aduh, rambutnya jelek kalau disisir begitu. Jadi kelihatan tua sekali.” 

Apa yang harus dilakukan? Menurut saya, pilihan terbaik adalah mencoba model penataan yang lain, karena dia--putra atau cucu Anda tadi--bahkan belum bisa merapikan rambutnya sendiri, tetapi dia mau Anda seharusnya tampil lebih muda.
Dia hanya melakukan evaluasi. Dia tidak bisa diminta memperbaiki rambut kita, bukan? 
Kenneth Peacock Tynan, seorang penulis dan kritikus teater asal Inggris pernah bilang: "A critic is a man who knows the way, but can’t drive the car." Begitu kira-kira. Bahwa kritik itu seperti orang yang tahu arah jalan, tetapi tidak bisa menyetir mobil. Maka, mari ke ‘sana’ bersama-sama. Jika kita rasa itu baik, tentu saja. Kritik tak pernah sepedas kripik

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

10 comments:

  1. Replies
    1. Halooo... terima kasih banyak sudah mampir. Salam buat Guns :-)

      Delete
  2. Trima kasih utk artikel ini.. Saya msh berjuang utk 'berdamai' dg kritik (apalg yg negatif).. tll sering dapat pujian buat saya jadi 'mabok' pak armin! Sy jd tdk 'waspada' dan merasa diserang pake pedang yg menghunjam sampe ke ulu hati waktu dapat kritik.. sy jd mendadak insomnia bermalam2 om! Dan merasa jd manusia paling gagal sekabupaten...separah itulah... skl lg terima kasih utk artikel lama rasa ((selalu) baru ini pak armin... tabe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tidak mudah berdamai dengan kritik terutama jika kita hidup terlalu lama dipuja-puja. Barangkali yang perlu selalu diingat adalah _we are not the center of the universe_ ;-)

      Delete
  3. Kritik pedas dan kripik pedas sama2 bikin muka merah pak armin! Hehehhee..salam sukses selamat berkarya(terus) ... biar kami jadi penikmat dan tukang krip(t)ik saja.. ����

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha... sesekali memang kita harus bikin orang muka merah. Itu salah satu tugas warga negara; mengingatkan sesama :-D

      Delete
  4. Satu lagi.. ini memang artikel lama soal rasa selalu baru

    ReplyDelete
  5. Terima kasih kakak. Artikel ini sungguh menyadarkan Saya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih sudah berkenan mampir. Sukses selalu.

      Delete