HIV AIDS Terlampau Dekat (Bagian 1)

Bagaimana menjelaskan HIV/AIDS dalam bahasa yang sederhana? Kalau pertanyaan ini diajukan limabelas tahun silam, jawabannya pasti cukup sulit. Di tahun-tahun itu, HIV/AIDS lebih sering dijumpai di halaman buku atau berita. Sekarang? Semua tentang HIV/AIDS ada di sekitar kita. Tetapi menjelaskannya dengan gamblang juga masih kerap susah.
Ilustrasi | Foto: Kaka Ited, Ruteng
Tahun-tahun terakhir, ODHA atau Orang Dengan HIV/AIDS mencapai jumlah yang memprihatinkan Data tentang jumlah ini tentu saja bisa ditemukan dengan mudah melalui jasa mesin pencari. Sayangnya, semakin jelas informasi kita baca, semakin kita tidak tahu mengapa informasi seperti itu penting.

Biasa saja ka. Terus kalau jumlah ODHA meningkat, memang pengaruhnya buat saya itu apa? Toh, bukan saya yang ODHA. Kita urus masing-masing saja ini hidup ka. Bla bla bla bla... 

Tulisan ini sebenarnya adalah tulisan lama. Dipublikasikan di Harian Flores Pos. Saya pecah menjadi dua bagian untuk kenyamanan pembacaan. Selamat mengikuti.

HIV/AIDS Terlampau Dekat

Bagian Pertama dari 2 tulisan

Ketika pegiat advokasi AIDS Indonesia Baby Jim Aditya berapi-api menjelaskan betapa berbahayanya virus penyebab AIDS (Aquired Immune Deficiency Syndrome) yang bernama HIV (Human Immunodeficiency Virus) dalam sebuah seminar di Malang Jawa Timur beberapa tahun silam, tak pernah berpikir bahwa suatu saat akan begitu prihatin dengan pandemi dunia ini. Ternyata HIV AIDS terlampau dekat dengan saya kini.

Sebagai pekerja media, tugas penulis saat itu hanyalah melaporkan situasi berlangsungnya seminar berikut point-point populer yang muncul dalam peristiwa tersebut. Jadi bisa ditebak, laporan yang dihasilkan hanya seputar apa tema seminarnya, siapa-siapa saja yang hadir dalam seminar tersebut, alasan digelarnya, kapan, di lokasi mana dan seperti apa suasana berlangsungnya seminar tersebut; sekedar memenuhi kriteria laporan jurnalistik yang memadai yakni menjawab pertanyaan 5 W + 1 H (Who, What, When, Where, Why, How). 

Itu saja dan tidak lebih. Selebihnya adalah tidak ada sedikitpun minat untuk mendalami wabah yang dicatat sebagai penyebab kematian nomor satu di wilayah Afrika tersebut. Toh, penyakit yang satu ini tidak akan pernah bersentuhan denganku, orang-orang dekatku, dan masyarakat Flores. 

Saya baru terperangah ketika mengetahui bahwa sampai dengan bulan Juni 1998 tidak satupun kawasan di bumi ini yang belum tersentuh HIV/AIDS.

Bayangkan, total estimasi HIV/AIDS di dunia sampai periode tersebut telah mencapai angka 30.582.000 berdasarkan Report on the Global HIV/AIDS Epidemic yang dikeluarkan UNAIDS/WHO. Saat itu, kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara di mana di dalamnya termasuk Indonesia berada di urutan ke dua dengan jumlah 5.800.000 kasus setelah Sahara Afrika di urutan pertama dengan 21.000.000 kasus. 
Karena dalam HIV/AIDS berlaku Iceberg Phenomenon atau Fenomena Gunung Es, maka angka di atas adalah bagian yang terlihat di ujung gunung es. Sebuah penjelasan yang juga berarti bahwa jumlah sebenarnya jauh lebih banyak tetapi tidak diketahui karena berada di bagian es yang tenggelam di dalam air laut. 
Sebuah data statistik yang sangat memprihatinkan, terutama karena berkaitan dengan nyawa manusia. Semua pasti mafhum bahwa sampai dengan saat ini tidak ada satu obat baik medik maupun non medik yang mampu membuat menyembuhkan dan atau membersihkan darah seseorang yang sudah terinveksi HIV. 

Artinya, jika satu persen saja dari jumlah ODHA atau Orang Dengan HIV/AIDS berdasarkan data di atas yang meninggal dunia, maka bisa dihitung berapa jumlah populasi umat manusia di dunia ini yang menjadi korban virus mematikan ini. Karena alasan itulah, dunia dan pemerhati masalah kemanusiaan kemudian sepakat mengerahkan segala kemampuan memerangi HIV/AIDS. 

Di Indonesia, peperangan ini semakin populer di awal milenium baru tahun 2000 lalu. Nama-nama seperti Baby Jim Aditya dan bintang film Nurul Arifin kemudian dikenal luas sebagai aktivis advokasi HIV/AIDS. Koran bertiras besar KOMPAS bahkan menerbitkan buku AIDS dan Jurnalisme Empati yang berisi kumpulan liputan wartawannya Irwan Julianto tentang pandemi ini di berbagai belahan dunia. 

Genderang perang lebih besar tertabuh ketika beberapa ODHA asli Indonesia mulai berani tampil dan memberikan testimoni kepada publik tentang wabah ini. Hal tersebut adalah angin segar bagi perang melawan HIV/AIDS di Indonesia setelah sebelumnya pada tahun 1994 negara ini menolak kehadiran Earvin “Magic” Johnson pebasket NBA yang teridentifikasi HIV untuk memberikan penjelasan tentang HIV/AIDS di Indonesia. 

Tetapi harus diakui, upaya baik tersebut agak terlambat karena pada tahun 2002 lalu sudah sekitar 60 juta penduduk dunia termasuk Indonesia telah terinveksi visus HIV penyebab AIDS. Lalu, marilah berhitung sendiri-sendiri, berapa jumlah kasus tersebut sekarang di Indonesia? 

Kembali soal perkenalan mendalam saya dengan penyakit yang kemunculan awal di Indonesia diumumkan tahun 1987 silam di Bali. Penulis beruntung, karena dalam masa workshop di Jogja, berkesempatan berdialog langsung dengan dr. Tuti Parwati SpPD, dokter pertama yang menangani kasus AIDS di Bali tahun 1987 silam. 

Dari mulut beliau kembali muncul penegasan, bahwa HIV/AIDS tidak bisa diobati. Antiretroviral, zat atau obat yang dipakai untuk retrovirus, fungsinya hanya menghambat perkembangan HIV virus penyebab AIDS dalam tubuh. Menghambat dan bukan mematikan. 

Sebuah penjelasan yang berarti: Ketika virus HIV telah mengalir dalam darah manusia, maka ia akan hidup selamanya sejak masa tidak terdeteksi (window period) yakni tiga bulan pertama setelah virus itu menginfeksi darah kita, sampai pada virus itu merusak sistem kekebalan tubuh yang kemudian disebut AIDS. 
AIDS memang bukan penyakit, karena AIDS adalah istilah yang dipakai untuk mendefinisikan sekumpulan gejala-gejala penyakit yang terjadi karena sistem kekebalan tubuh yang menurun. Orang yang telah mencapai tahap AIDS akan sangat mudah diserang berbagai macam penyakit. Tahap selanjutnya bisa ditebak: akibatnya adalah kematian. 
Lalu, untuk apa semua hal di atas penulis paparkan? Jawabannya adalah karena virus HIV/AIDS itu sudah begitu dekat dengan kita masyarakat Nusa Tenggara Timur. Beberapa tahun silam, kita hanya mendengar virus mematikan ini berkembang di Irian Jaya (sekarang Papua), Bali, Jawa dan Jakarta. Dan saat itu, kita terlalu percaya diri bahwa Propinsi kita tercinta ini akan terbebas dari pendemi tersebut. 

Lalu tiba-tiba, kita dihentakkan oleh laporan berbagai media massa bahwa virus HIV/AIDS sudah menjangkiti anak-anak propinsi kepulauan ini, bahkan sampai meninggal dunia (cermati lagi pemberitaan di Media Massa Flores Pos dan Pos Kupang periode Oktober sampai awal November 2005). Terkejut? Itu pasti. Shock? Juga pasti. Lalu apa yang harus kita buat? (Bersambung)

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

Catatan: Artikel HIV ADIS terlampau dekat ini ini sudah dimuat beberapa tahun silam di koran Flores Pos. Sengaja dimuat lagi di blog ini, karena sebenarnya belum ada kemajuan berarti dalam penanganan masalah HIV/AIDS di wilayah kita.

0 Komentar:

Post a Comment